Mempersoalkan Sistem Pembinaan Kesenian di Jakarta

Slamet Rahardjo Rais*
http://www.suarakarya-online.com/

Berangkat dari akar paling bawah masyarakat kita, sekelompok orang bergerak bersama menghimpun potensi diri. Kemudian menyatu bersama untuk melakukan serangkaian aktivitas sastra. Menyebutnya sekumpulan pegiat sastra. Itulah gambaran kecil sekelompok orang sastra membangun geliat sastra. Kemudian menyebut dirinya komunitas sastra. Dan lazim disebut sanggar, dapur atau bengkel, kelompok atau organisasi sastra, dan lain-lain penyebutan yang cukup banyak jumlah sebutan.

Komunitas sastra tak lain sosok bentuk kebersamaan dengan mengusung sejumlah agenda kerja bakti kegiatan sastra.Dengan merangkak sekalipun menghimpun orang, mengumpulkan dana dari masyarakat, dan menyatukan ide agar dapat terwujud kegiatan sastra.Dilakukan bersama aktivitas melalui kelompok agar dapat lebih menyempurnakan kemampuan menerima dan menyampaikan hal-hal yang bersifat apresiatif, mampu mencapai luas jangkauan wawasan, serta mempertajam keterampilan teknik dalam menyelesaikan proses kreatif dan menawarkan capaian nilai-nilai estetik kepada masyarakat.

Di situ individu-individu menangkap fenomena ide tentang sastra yang banyak bertebaran di atas permukaan masyarakat sastra. Komunitas sastra meletakkan dirinya menjadi bentuk kolektivitas, kemudian merupakan rumah tempat tinggal kreatif. Kesepakatan untuk selalu menjaga, dipelihara, dan dikembangkan sampai batas kemampuan untuk berkembang. Tentu dalam batas kemampuan mengumpulkan dan memiliki dana sebagai bagian sumber kekuatan energi. Seluruhnya dilakukannya dengan secara berdarah-darah. Sampai batas mana komunitas dapat diharapkan menjadi sebuah lahan persemaian menumbuhkan, dan mengembangkan kemampuan kreatif adalah sebuah renungan bagi siapa pun yang merasa sebagai peminat dan pegiat sastra. Sebuah perjuangan ! Sentuhan-sentuhan dialog kreatif itulah yang menggerakkan untuk sampai kepada capaian estetik dan sekaligus mengangkat karya-karya, internal dan external, kepada publiknya yang lebih luas.

Agaknya telah menjadi suatu pemahaman meluas bahwa karya-karya sastra, termasuk kegiatan sastra itu sendiri, menghadirkan kembali paparan tentang manusia beserta lingkungan hidup persekitaran yang mengelilinginya. Sajian tentang masalah-masalah moral, etika, pendidikan, tradisi kultural, dan lain-lain yang merupakan rangkaian arus proses pembelajaran bagi kemanusiaan kita. Sastra dan nilai-nilai kemanusiaan selalu menghendaki perubahan dinamik sebagaimana capaian perubahan yang dikehendaki oleh proses perjalanan budaya masyarakat yang mengagungkan nilai-nilai peradaban. Kalangan sastrawan maupun peminat sastra menyadari betapa pentingnya makna sastra bagi msyarakat luas terutama kalangan pelajar, mahasiswa, dan kalangan generasi muda bangsa serta kalangan pendidik.

Sastrawan dari kalangan komunitas sastra yang tergabung dalam wadah kerjasama dan kemitraan antar komunitas/kelompok sastra telah berangkat ke berbagai sekolah/madrasah bergerilya untuk mengangkat posisi sastra yang nampak terabaikan. Menawarkan bentuk-bentuk apresisi, seperti: pelatihan pembacaan dan penulisan karya sastra, dialog kreatif sastra bersama guru kelas, dalam membantu meningkatkan penyelenggaraan extrakurrikuler di bidang sastra. Membangun suasana cinta dan minat baca, menuturkan kembali, kemudian menuliskannya berbagai fenomena yang telah tertangkap atas bacaan

Bukankah gambaran seperti di atas adalah latihan atau proses pembelajaran bagi siapa pun (tentu saja yang utama pelajar) untuk mencapai pencerdasan emosional dan intelektualitas ketika menangkap berbagai fenomena yang mengalir di persekitaran diri. Sekaligus mengexpresikan diri secara cerdas sebagai obyektivasi aktual (terutama ketika manusia bersentuhan antar manusia dan kelompok, dst).

Bagaimana mungkin mengingkari pentingnya makna sastra dalam membangun kebudayaan dan peradaban masyarakat bangsa. Keberadaan komunitas sastra adalah sebuah keniscayaan di tengah hiruk pikuk kota besar seperti Jakarta dalam memberi pencerahan. Jakarta adalah kota urban yang sarat dengan berbagai ketegangan konflik pergeseran nilai-nilai atas berbagai perbedaan kepentingan dari kelompok maupun individual, bentuk-bentuk benturan dari premanisme yang banyak berkeliaran di masyarakat luas.

Komunitas sastra beserta kelompok kesenian yang lain seharusnya memperoleh pembinaan yang benar wajar dan sangat layak. Mengapa tidak!Bukan sekedar retorika mainan kata-kata.

Aktualisasi keberadaannya menyatakan, bahwa peran komunitas sastra dan kelompok kesenian yang lain itu pun telah memberikan kontribusinya dalam masyarakat. Dan sulit mengingkari atas kontribusinya dalam membangun dan mewujudkan Jakarta sebagai pusat kebudayaan. Wadah sastra( dan pewadahan kesenian lain) telah ditetapkan menjadi wadah kerjasama dan kemitraan antar sanggar /kelompok atau organisasi berkesenian. Memiliki SK Gubernur Provinsi DKI Jakarta sebagai isyarat pengakuan dan sekaligus pembinaan atas beban tugas diletakkan ke pundaknya sebagai mitra kerja Pemda Provinsi DKI Jakarta dalam rangka lebih “memanusiakan ” warga Jakarta di tengah rimba ketegangan konflik yang ada di masyarakat.

Lalu, bagaimana dengan arah dan sistem pembinaan yang telah dilakukan oleh Pemda Prov. DKI Jakarta. Simaklah sejenak dalam realisasi pengucuran dana pembinaan kesenian. Tahun anggaran 2005, dana pembinaan kesenian untuk Dewan Kesenian Jakarta sebesar Rp 5.000.000.000,- Akademi Jakarta menerima Rp. 800. 000.000,- Lembaga Kebudayaan Betawi sebesar Rp.400.000.000,- Yay. WO. Bharata memperoleh kucuran Rp. 300.000.000,- sedangkan Miss Cicih sebesar Rp. 300.000. 000,-Sejumlah wadah kesenian sejenis 32 wadah memperoleh dana pembinaan sebesar Rp. 240.000.000,- Bila dibagi rata, setiap wadah memperoleh tak lebih dari Rp. 7.000.000.- Tetapi yang jelas wadah sastra memperoleh jatah tak lebih dari Rp. 2.000. 000,- untuk satu tahun. Tahun anggaran 2006 dan tahun 2007 Dewan Kesenian Jakarta sebesar

Rp. 6000.000.000,- untuk masing-masing tahun anggaran sedangkan Akademi Jakarta untuk masing-masing tahun anggaran memperoleh sebesar Rp. 800.000. 000,- Diterima oleh wadah sastra untuk tahun anggaran 2006 tak lebih dari Rp. 3000. 000,- Untuk tahun anggaran 2007, komunitas sastra serta komunitas kesenian yang lain, entahlah.

Bukan soal kecemburuan atau bukan, masalahnya adalah asas keadilan. Adalah bijak bila pusat-pusat kekuasaan dalam jajaran Pemda Provinsi DKI Jakarta yang memiliki otoritas pembinaan atas potensi sentra-sentra kesenian dan di dalamnya ada sastra, mampu melakukan komunikasi dalam bentuk pendekatan mitra kerja bukan pendekatan kekuasaan. Tentu dalam menangkap fenomena yang muncul atas aktualisasi realitas kebenaran. Dengan rasa ihlas yang tulus bisa menerima pemikiran-pemikiran baru. Kesadaran memiliki pemikiran-pemikiran baru. Kemudian mengapresiasi diri dalam menggunakan dan mendistribusikan kekuasaan dalam menghormati asas keadilan. Sejauh mana arah dan sistem pembinaan kesenian yang berkaitan dengan capaian asas keadilan berkaitan dengan kucuran dana pembinaan kesenian telah dilakukan!

Mengabaikan makna komunitas sastra adalah kebijakan yang sangat keliru, kalau tidak boleh disebut keteledoran yang sangat celaka. Komunitas sastra adalah tempat melahirkan, membina dan mengembangkan embrio-embrio yang sekaligus membesarkannya. Melalui komunitas sastra, lahir sastrawan-sastrawan.

Dewan Kesenian Jakarta saat ini bukan lagi sebuah pusat kesenian satu-satunya. Komunitas sastra dapat juga meletakkan dirinya sebagai pusat kesenian yang lain (baca sastra). Dalam kebangkitan komunitas sastra, beberapa komunitas sastra di daerah mampu menjadikan dirinya sebagai pusat sastra yang lain melalui berbagai kegiatan tingkat Nasional. dan bahkan tingkat regional dengan mendapatkan dukungan dan pembinaan dari Pemda masing-masing. Seperti: Medan, Riau, Lampung, Serang (Banten), DIJ, Bali, Mataram (NTB), Banjarbaru (Kalsel), Samarinda/Balikpapan (Kaltim), maupun Makassar (Sulsel), dan lain-lain.

Nampaknya dengan dana yang begitu besar Komite Sastra DKJ nyaris tak mampu menyelenggarakan kegiatan sastra yang memiliki daya tukik sebagai puncak-puncak apresiasi dan luas wawasan. Bahkan hanya merupakan kegiatan sastra yang tak memiliki daya tawar. Dalam gambaran kucuran dana seperti di atas, sungguh sangat disayangkan ! Lagi pula menuai kritik tajam banyak kalangan atas beberapa penyelenggaraan kegiatan sastra dengan tema-tema seks atau tema perkelaminan (dalasastra) Sebenarnya sejauh mana “estetika perkelaminan” dalam karya sastra mampu memberi pencerahan terhadap masalah-masalah moral bagi upaya pencerdasan kehidupan kemanusiaan yang beradab.

Berangkat dari sini, agaknya pusat-pusat kekuasaan dalam jajaran Pemda Provinsi DKI Jakarta yang memiliki otoritas menyusun arah pembinaan dan pengembangan di Jakarta agar bersedia membuat renungan: Siapa sebenarnya Dewan Kesenian Jakarta saat ini! Siapa sebenarnya Komite Sastra DKJ saat ini! Sebuah pertanyaan, “Adakah aroma suatu ideologi dalam sastra telah “bersetubuh” menggerayangi tubuh Dewan Kesenian Jaakarta saat ini?”

Maka, posisi Dewan Kesenian Jakarta agaknya perlu dikaji ulang kembali dengan memperhatikan fenomena kebangkitan komunitas di berbagai daerah dan di Jakarta sendiri. DKJ juga perlu selalu membaca dirinya sendiri, membaca fenomena yang muncul di sekitar dirinya. Sebagai perimbangan atas keberadaan DKJ (meliputi program dan realisasi atas program yang disusun DKJ) agaknya perlu membangun institusi pembanding yang juga melalui dana pembinaan dari Pemda DKI Jakarta. Agar muncul persaingan kreatif yang menyegarkan. Semuanya ke arah upaya mengembangkan kehidupan berkesenian yang lebih semarak bagi masyarakat Jakarta. Munculkan saja asas keadilan atas arah dan sistem pembinaan kesenian di DKI Jakarta.

Strategi arah dan sistem pembinaan kesenian di DKI Jakarta yang lain adalah meletakkan posisi DKJ sebagai konsultan dalam hal berkesenian di Jakarta. Bertugaslah sebagai fasilitator, transformasi dalam mengakomodir berbagai aspirasi yang muncul di kalangan masyarakat seni di Jakarta. Teknis operasional penyelenggaraan kesenian serahkan saja kepada suatu kepanitiaan yang berasal dari wadah-wadah kesenian yang sudah memiliki SK Gubernur DKI Jakarta. Tak usah sibuk dengan urusan yang bersifat teknis. Sebab kalian adalah para pemikir yang disimbolkan sebagai sosok para dewa yang hanya senang di awang-awang bukan di bumi

*) Penyair tinggal di Cijantung-Jakarta Timur.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *