Mengubah Paradigma ‘Sastra Kampung(an)’

Ahmadun Yosi Herfanda **
http://www.infoanda.com/Republika

Jika Nusantara ini adalah kampung, maka sastra Indonesia adalah ‘sastra kampung’. Penempatan Indonesia sebagai bagian dari Kampung Nusantara, cukup tepat mengingat makin terpuruknya bangsa ini menjadi underdog negara-negara adidaya, terutama AS. Dalam ekonomi kita didekte oleh IMF, dalam politik kita didekte oleh AS, dalam kebudayaan kita didekte oleh Hollywood, dalam pemikiran sastra banyak di antara kita yang bernafas di ketiak Derrida dan Faucoul.

Begitulah, kurang lebih, nasib ‘negara kampung’ bernama Indonesia, dengan orang-orang kampung yang bermental kampung. Mental orang kampung adalah mental yang suka meniru orang kota. Ketika orang-orang kota menyemir rambut jadi blonde, maka orang-orang kampung pun ikut memblonde rambut mereka. Ketika orang-orang kota nge-punk, orang-orang kampung pun tidak ketinggalan. Kota adalah simbol modermitas. Maka, dalam psikologi orang kampung, agar disebut modern, harus meniru orang kota. Modernitas yang ‘salah kaprah’ memberhala di hampir semua aspek kehidupan masyarakat dalam mengekspresikan dirinya sebagai ‘orang kota’.

Dalam lingkup negara, kampung itu bernama Indonesia, dan kotanya adalah AS. Kita, sehari-hari, dapat menyaksikan bagaimana para artis dan remaja kita dengan bangganya bergaya tank top dengan puser terbuka, sebagaimana dipamerkan oleh Britney Spears dan Christina Aquilera. Kita juga dapat melihat bagaimana paranoianya anak-anak muda kita berhura-hura di diskotik dalam gaya artis-artis Hollywood yang serba hedonis. Kita bisa melihat juga bagaimana bangganya para intelektual politik kita memuja demokrasi ala Amerika, meskipun tidak kunjung mampu menyelesaikan persoalan keadilan, HAM, dan kedaulatan rakyat.

Nyaris begitulah sebenarnya posisi serta nasib sastra Indonesia di tangan orang-orang ‘kampung Indonesia’ yang membawa psikologi orang kampung di tengah sastra dunia (Barat). Sejak zaman Pujangga Baru, begitu lahapnya para sastrawan kita mengadopsi teori, estetika dan filsafat Barat ke dalam karya-karya mereka sejak filsafat eksistensialisme pada era Chairil Anwar sampai feminisme dan posmodernisme pada era Ayu Utami agar dapat disebut sebagai ‘sastra kota’ (modern). Lihat pula bagaimana bangganya para teoritisi sastra kita mengutip-ngutip teori sastra Barat ke dalam retorika dan kritik sastra Indonesia.

Jadi, sastra Indonesia sejujurnya adalah sastra kampung, sastra yang bersemangat orang kampung, atau ‘sastra kampungan’ sastra yang kurang pede pada jati dirinya sendiri, sebagaimana ‘orang kampung’ yang kurang pede jika tidak meniru gaya orang kota. Sebagaimana orang kampung yang ingin (sok) modern dan ‘sok kota’ yang lupa pada persoalan budaya kampungnya sendiri, sastra Indonesia pun telah lama tercerabut dari akar budaya kampungnya sendiri: Nusantara.

Sehingga, ketika muncul wacana estetika ‘kembali ke Timur’ pada tahun 1970-an atau wacana ‘kembali ke warna lokal’ belakangan ini, menjadi wacana baru yang begitu menarik dan membuat banyak sastrawan jadi ‘gegap gembita’. Padahal, estetika Timur atau warna lokal mestinya sejak dulu sudah menjadi darah daging sastra Indonesia. Agaknya benar tesis Nirwan Dewanto, bahwa sastra Indonesia adalah ‘sastra dunia’ (baca: sastra Barat) yang berbahasa Indonesia.

Karena itu, untuk mencari ‘sastra kampung’ sebagaimana dimaksud oleh penggagas Ode Kampung Temu Sastrawan se-Kampung Nusantara 2006 kita tidak perlu repot-repot mencari karya-karya sastra dari kampung-kampung pedalaman, atau gang-gang sempit pinggiran kota. Sebab, sastra kampung sudah bertebaran di sekitar kita, dan tiap saat dapat kita baca. Sejak dulu banyak di antara sastrawan yang berobsesi untuk mendorong karya-karya sastra Indonesia sastra kampung itu menjadi ‘mendunia’ dan suatu saat dapat meraih Nobel Sastra.

Pertanyaannya, adakah di antara karya-karya sastra kampung itu yang mendunia, yakni diakui sebagai karya ‘berkelas dunia’ dan popular di komunitas sastra internasional, seperti karya-karya peraih Nobel Sastra, semacam karya-karya Najib Mahfoudz (Mesir), Rabindranat Tagore (India) dan Kenzaburo Oe (Jepang). Atau, setidaknya sekelas karya-karya Jalaluddin Rumi (Turki) dan Kahlil Gibran (Libanon-AS), yang begitu mendunia meskipun tanpa Nobel Sastra.

Dari sastra kampung (Indonesia), yang paling gampang disebut sebagai karya yang cukup mendunia adalah Bumi Manusia-nya Pramoedya Ananta Toer. Selain telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa di dunia, novel anti-borjuis yang sangat memikat itu bahkan berkali-kali sempat menempatkan Pram sebagai nominator peraih Nobel Sastra.

Selain karya Pram, sebenarnya banyak juga karya sastra Indonesia yang diterjemahkan ke dalam bahasa Ingris. Tetapi, rata-rata adalah karya sastra yang canggung untuk berkomunikasi di forum internasional, karena masih mengidap psikologi orang kampung yang kurang pede, sebab tidak mengekspresikan jati dirinya sendiri, namun hanya meniru ‘sastra kota’ (dunia), alias tidak mengekspresikan budayanya sendiri.

Jika kita amati, karya-karya sastra yang berhasil mendunia dan khususnya peraih Nobel rata-rata adalah karya sastra yang pede pada jati dirinya sendiri dan sangat kental dengan warna budaya lokal. Novel-novel Najib Mahfoudz, misalnya, sangat kental warna lokal (Mesir). Begitu juga karya-karya Tagore, dan Kenzaburo Oe. Karya-karya mereka menjadi kanon-kanon sastra di negerinya sendiri, sekaligus kanon sastra dunia karena keunggulan kualitas kesastraan sekaligus unikum sosial-budaya lokal yang diangkatnya. Begitu juga, kurang lebih, karya-karya Pramudya Ananta Toer.

Dalam semangat Ode Kampung, agaknya, kita harus membalik paradigma tentang kampung dan kota, tentang tradisi dan modermitas, tentang ‘sastra kampung’ dan ‘sastra kota’. Sastra kampung tidak perlu terus meniru sastra Barat untuk menjadi ‘sastra kota’, tapi cukup memperkuat jati dirinya sendiri. Sebab, hanya dengan demikian, sastra Indonesia akan dilirik sebagai ‘sastra alternatif’ yang tidak ‘seragam’ dengan sastra Barat, dan karena itu patut diperhitungkan, termasuk untuk meraih Nobel Sastra. Jika tetap menjadi sastra Barat yang berbahasa Indonesia, seperti sinyalemen Nirwan Dewanto, maka sastra Indonesia akan tetap menjadi underdog.

Karya-karya sastra yang mendunia sudah cukup membuktikan bahwa penghargaan yang mampu mensejajarkan karya sastra suatu negara dengan karya sastra besar kelas dunia lainnya itu hanya bisa diraih oleh karya-karya sastra yang bangga pada keunggulan jati dirinya sendiri, kekuatan budaya lokalnya sendiri.

*) Tulisan ini adalah prasaran untuk sesi diskusi dalam Ode Kampung, Temu Sastrawan se-Kampung Nusantara 2006az, di Rumah Dunia, Serang, Banten, 5 Februari 2006.
**) Sastrawan dan wartawan Republika.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *