MODEL CERPEN PSIKOLOGIS-SIMBOLIK-SOSIO-KULTURAL

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Damhuri Muhammad, Laras, Tubuhku bukan Milikku, Jakarta: Dastan Books, 2005, 219 halaman.
Ketika berbagai saluran komunikasi tersumbat, aspirasi dan amanat rakyat masuk keranjang sampah, gugatan para demonstran dianggap angin lalu, sementara para penguasa tidur nyaman dengan segala kebisutuliannya, sastra dapat digunakan sebagai salah satu alternatif; pilihan paling aman untuk mengungkapkan kegelisahan, unek-unek atau apapun yang mengganjal hati nurani kita. Dengan caranya yang khas, sastra bisa masuk ke ruang-ruang publik, mendekam di pojokan kelas, ruang kuliah, atau terus bergentayangan, memprovokasi siapa pun pembacanya.

Damiri Muhammad tampaknya menyadari benar posisinya. Maka, lewat sejumlah cerpen yang menjadi pilihannya, ia bisa leluasa mengumpat, mencaci-maki, mengkritik apapun atau siapa pun, dan sekaligus juga sebagai sarana menyelimuti keluh-kesah pengalaman subjektifnya. Dalam beberapa hal, antologi cerpen Laras, Tubuhku bukan Milikku (Jakarta: Dastan Books, 2005, 219 halaman), bolehlah ditempatkan sebagai representasi kegelisahan pengarangnya. Bukankah sastra di dalamnya bersembunyi pemaknaan pengarang atas pengalaman hidup dan tafsirnya atas fenomena sosial yang terjadi di sekitarnya.
***

Agak berbeda dengan banyak antologi cerpen lain yang kadangkala berisi semacam ikhtisar tentang proses kreatif pengarangnya atau semacam uraian untuk memberi pembenaran?pertanggungjawaban atas tema yang diusungnya, Damiri Muhammad justru mengungkapkan sikap profesionalitasnya. ?Potret Gamang Seorang Pengarang? (h. 9?18) mewartakan sebuah sikap kepengarangannya: mengarang sebagai profesi, sebagai pilihan hidup. Sebuah pernyataan yang jelas melawan gelombang besar ketersesatan masyarakat. ?Mengarang bukanlah profesi, bukan pula sebuah pekerjaan. Mengarang adalah kebiasaan mereka yang suka berhayal, membuang waktu, dan menghamburkan kata-kata tak bermakna!? Itulah arus besar pandangan menyesatkan dan meracuni hampir semua lapisan masyarakat kita. Damiri Muhammad ?meski tidak sendiri dan bukan yang pertama?coba menggugurkan pandangan masyarakat yang keliru itu.?

Pertanyaannya kini: cukup kuatkah modal (capital) yang dimiliki Damiri atas pilihannya itu. Apakah sejumlah cerpennya dalam antologi ini mengisyaratkan sebuah potensi yang menjanjikan yang akan membawanya pada sebuah monumen prestisius atau nama besar dan reputasi?
***

Ada 13 cerpen yang termuat dalam buku antologi ini. Keseluruhannya memuat tema-tema yang beragam. Meskipun begitu, jika kita cermati benar ke-13 cerpen itu, kita dapat menangkap beberapa hal yang dapat digunakan sebagai modal awal.

Pertama, latar belakang pendidikannya jelas merupakan modal yang paling berharga. Kedua, kisah-kisahnya yang tampak obsesif tentang pengabdian sosok anak dan citra ibu, keterikatan pada kultur puak, dan traumatis pada kegagalan masa lalu, sesungguhnya merupakan bahan dasar yang baru terungkapkan dalam bentuk fragmen-fragmen. Di sana tersimpan potensi dan kekayaan problem psikologis yang kelak akan melahirkan karya-karya yang memukau-mencekam. Ketiga, sikap kritis dan pengamatannya pada problem sosial politik yang terjadi di negeri ini, tidak hanya akan membawanya mengungkapkan potret sosial dan semangat zamannya, tetapi juga sebagai bentuk kesaksian dan catatan atas segala peristiwa yang terjadi pada zamannya. Keempat, kepiawaiannya dalam menyelimuti pesan ideologis, menyulap caci-maki menjadi ironi, dan fakta sosial menjadi fiksi simbolik, niscaya akan memberinya tempat yang aman dalam posisi kepengarangnya. Kelima, kemampuan mengolah kata-kata menjadi narasi?seperti juga dalang yang salah satu syaratnya harus mampu menyajikan cerita dan mendongeng?, sudha tampak menonjol dalam diri Damiri, meski harus diakui pula, di sana-sini ada duplikasi.

Dengan sejumlah kekuatan itu, agaknya kita boleh berharap, bahwa pilihannya menjadi pengarang, tidaklah keliru. Periksalah, misalnya, cerpen ?Laki-laki dari Negeri Kutukan,? ?Lelaki Ibu,? atau ?Liang Lahat Jauhara.? Ambivalensi antara cinta dan benci, menikmati dan mengutuk, atau hasrat ingin lepas-bebas dan asyik-masyuk terpenjara, begitu hidup membayangi tokoh-tokohnya. Ada problem psikologis yang tak mudah dicampakkan. Ia seperti lengket-menempel, tetapi sekaligus juga disadari oleh tokoh-tokohnya, sebagai sesuatu yang harus dibunuh-dibenamkan.

Cermati juga cerpen-cerpen ?Sayembara Menulis Surat Cinta,? ?Riwayat Selembar Kain Bendera,? ?Tamasya ke Museum Kata-Kata,? ?Hikayat Negeri Sayembara,? ?Telinga-Telinga yang Berpuasa,? atau ?Elegi Tukang Kursi.? Bukankah semua yang diungkapkan di sana merupakan potret buram dan carut-marut kehidupan sosial politik di negeri ini. Damiri menyulapnya menjadi ironi yang pahit atau komedi simbolik. Ini salah satu cara yang paling aman dalam melakukan kritik terhadap siapa pun dan setajam apa pun. Cara ini pula yang ?dengan style yang berbeda?dilakukan Danarto dan Putu Wijaya.

Yang juga menarik dalam antologi ini adalah potret hitam dunia perempuan. Tokoh Laras (?Tubuhku bukan Milikku?) boleh jadi merupakan refleksi kegelisahan pengarangnya. Dalam kointeks yang lebih luas, ia sekaligus merupakan representasi problem dunia wanita di negeri ini. Arogansi dan superioritas yang diperlihatkan sosok tokoh Ayah (: laki-laki), tidak hanya berdampak pada trauma psikologis yang terus melekat seumur hidup bagi korban, tetapi juga menghancurkan jati diri sebagai manusia. Bukankah kini banyak sekali bermunculan tragedi kemanusiaan seperti itu. Lalu, bagaimana pula kita menyikapinya. Damiri Muhammad mengangkat tragedi itu secara mempesona-meyakinkan.
***

Secara keseluruhan, antologi cerpen Laras, Tubuhku bukan Milikku, terkesan seperti umumnya cerpen yang muncul di koran Minggu. Padahal, sesungguhnya, jika dicermati benar, di hampir semua cerpen Damiri ini, kita melihat adanya kekuatan yang berkaitan dengan problem kultural yang khas Minangkabau, problem psikologis yang melahirkan trauma dan obsesi yang terkendali, dan potret sosial politik yang diledek begitu sinis. Dalam konteks peta cerpen Indonesia kontemporer, jelas antologi cerpen ini telah ikut memperkaya khazanah tematiknya. Sementara itu, gaya ledeknya yang khas Minang ?ngenye dan sinis?boleh jadi bakal ikut menyemarakkan gaya penulisan cerpen kita dewasa ini. Rasanya tak berlebihan jika kita berpengharapan bahwa sangat mungkin Damiri Muhammad sebentar waktu lagi akan menghasilkan tonggak dan monumen yang lebih kokoh dan prestisius.

Rasanya, pilihan Damiri Muhammad menempatkan kepengarangan sebagai profesi, sangat beralasan, dan (semoga) menjanjikan!

*) Pengajar Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia, Depok.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *