Nol Rupiah untuk Sastra Bali Modern

I Made Suarsa
Pewawancara: Darma Putra
balipost.co.id

BUAH jatuh tak jauh dari pohonnya. Ungkapan ini cocok untuk melukiskan sosok Drs. Made Suarsa, S.U., terutama setelah dia menerbitkan dua buku kumpulan puisi modern berbahasa Bali. Buku pertamanya berjudul “Ang Ah lan Ah Ang” (2004), yang meraih hadiah sastra Rancage tahun 2005. Buku kedua “Gunung Menyan Segara Madu” (2005), yang belum lama ini diluncurkan di Fakultas Sastra Universitas Udayana dan mendapat sambutan positif dari kalangan sastrawan dan pengamat sastra Bali modern. Kedua buku kumpulan puisi tersebut membuat Made Suarsa (53) asal Sukawati, Gianyar, pantas disebutkan sebagai sastrawan, sama dengan ayahnya I Made Sanggra, pencipta cerpen terkenal “Ketemu ring Tampaksiring” (1978).

Sebelum menerbitkan dua kumpulan puisi tersebut, mantan penyiar Radio Menara dengan nama udara Rustam Warmadewa ini sudah menerbitkan dua buku kecil berjudul “Gaguritan Sastrodayana Tattwa” (2002) dan “Gaguritan Udayanotama Tattwa” (2002), berupa tembang sejarah Fakultas Sastra dan Universitas Udayana. Minatnya terhadap seni sastra dialirkan dari darah ayahnya. Setelah menyelesaikan pendidikan di Fakultas Sastra Unud dan pascasarjana Universitas Gajah Mada, I Made Suarsa menjadi dosen di almamaternya Jurusan Sastra Indonesia. Berikut petikan komentarnya.
—————–

SEBAGAI dosen sastra Indonesia, mengapa tertarik menulis sastra Bali?

Pertama, karena teman-teman yang berkiprah di dunia sastra Indonesia modern sudah banyak. Kehidupan sastra modern jauh lebih baik daripada sastra daerah (Bali). Kita tahu kehidupan sastra Bali modern kembang-kempis. Kini sudah mulai ada gejala berkembang. Kedua, amat besar pengaruh ayah saya, I Made Sanggra. Pergaulan dengan ayah memberikan saya atmosfir untuk bersama membangun sastra daerah. Ketiga, sebagai warga Fakultas Sastra, saya mempunyai kewajiban moril menyeimbangkan kehidupan sastra Indonesia dan sastra daerah.

Apakah Anda sudah lama menulis sastra daerah, atau kreativitas dadakan?

Bukan tiba-tiba. Kalau Anda lihat kumpulan puisi saya “Ang Ah lan Ah Ang”, di sana ada puisi “Kulkul Kubu lan Kulkul Banjar” yang saya tulis tahun 1970-an. Sejak itu menulis masih sporadis. Dua-tiga tahun belakangan ini kreativitas saya dalam mencipta sastra Bali modern agak bergairah.

Apa penyebab gairah itu muncul?

Faktor internal, eksternal. Faktor internal sudah ada di dada, berupa obsesi, pengaurh ayah. Belakangan, faktor eskternal mendukung. Ada waktu menulis, anak-anak sudah besar, fenomena yang menarik ditulis di masyarakat banyak sekali. Semuanya ini nyambung membangun gairah.

Secara eksplisit lagi, apa saja faktor eksternal yang mendorong Anda menulis puisi?

Faktor eksternal itu kalau boleh saya sebut dengan “triona”, yang terdiri dari nomina, fenomena, dan stamina. Nomina artinya ungkapan di masyarakat yang melegenda, seperti ungkapan ada kene, ada keto, payuk prumpung misi berem, dan kebo mabalih gong. Nomina ini bisa menjadi sumber inspirasi.

Kalau fenomena?

Ini adalah gejala sosio-kultural, gejala alam, yang perlu diangkat dan ditulis. Misalnya, korupsi, KKN, dan kecenderungan politis, kecenderungan orang Bali menjual tanah, dan bencana alam seperti tsunami. Fenomena ini mendorong saya untuk menulis.

Kalau stamina, apa maksudnya?

Maksudnya mood. Walau ada nomina, ada fenomena, kalau stamina tidak ada, karya tidak bisa lahir. Mood atau stamina tak kalah pentingnya.

Apa ada kesulitan menulis fenomena sosio-kultural ke dalam puisi modern berbahasa Bali?

Ada tantangan, tapi ada juga kebebasan. Dengan kebebasan itu tantangan bisa diatasi.

Apakah bahasa Bali efektif digunakan mengungkapkan fenomena aktual seperti korupsi, bencana alam?

Kalau suatu fenomena bisa diungkapkan dalam bahasa Indonesia, mengapa dalam bahasa Bali tidak?
Tentu ada kesulitan dalam mencari kata-kata tertentu. Hambatan itulah yang membuat saya bertekad untuk mencari diksi, kata-kata yang tepat. Dalam menulis saya selalu didampingi kamus Bali-Indonesia dan kamus Jawa kuna karangan Zoetmulder.
***

SASTRA Bali modern sudah muncul tahun 1910-an, berkembang serius tahun 1970-an. Kini, menurut Anda, sudah seberapa populer sastra modern berbahasa Bali di masyarakat?

Dibandingkan dengan sastra berbahasa Indonesia, sastra Bali modern ini kurang populer. Penggemarnya lebih sedikit. Tapi, sekarang saya melihat, kehidupan sastra Bali modern mulai digemari remaja. Majalah Buratwangi dan Canang Sari sudah memuat beberapa karya lahir dari siswa SMA, mahasiswa. Dalam lomba-lomba, para remaja ini juga ambil bagian. Saya harapkan, hal ini makin membuat sastra Bali modern kian populer.

Di mana posisi sastra Bali modern di tengah kebudayaan Bali yang besar ini?

Sastra itu ‘kan salah satu unsur saja dari kebudayaan. Pandangan masyarakat kita dan penguasa terhadap sastra Bali modern sangat rendah. Budaya diidentikkan dengan kesenian khususnya seni tari, pertunjukan, dan seni lukis. Saya mendengar ada kabupaten di Bali menyediakan anggaran yang banyak untuk seni pertunjukan, tetapi sama sekali tidak alias nol rupiah untuk sastra Bali modern.

Anda kecewa?

Ini berarti bahwa pemahaman masyarakat dan penguasa terhadap sastra Bali sangat rendah. Bukankah seni apapun, seperti topeng dan arja yang ada di Bali sumbernya adalah sastra. Seharusnya seni sastralah yang lebih patut mendapatkan perhatian, baik oleh masyarakat maupun penguasa.

Dalam puisi Anda banyak tergarap tema di luar konteks sosiokultural Bali, seperti sajak berjudul “Siti Nurhaliza”. Mengapa?

Setiap fenomena bisa diangkat sebagai puisi, termasuk sosok Siti Nurhaliza, penyanyi Malaysia yang jelita itu. Puisi ini tentang Siti Nurhaliza diributkan ketika buku kumpulan puisi saya diluncurkan beberapa minggu lalu. Ada yang tidak senang saya menulis Siti Nurhaliza. Tapi, saya setuju dengan pendapat Tusthi Eddy yang berkata “penyair memiliki kebebasan menulis tentang apa saja, maaf… dari tahi sampai Tuhan”. Penyair Rendra menulis tentang pelacur. Seni lain juga begitu. Simaklah lagu Titiek Puspa yang mengisahkan tentang pelacur. Mengapa sajak saya “Siti Nurhaliza” dipersoalkan?

Apa yang hendak Anda katakan dalam sajak “Siti Nurhaliza”?

Inti saja itu terdapat dalam dua baris terakhir. Bunyinya, “tui tuah anak luh luih/ saking Malaysia nyuduk gipih/ ring Indonesia nuduk galih”. Intinya introspeksi, mengapa orang luar Indonesia bisa mencari rezeki di Indonesia, mengalahkan tuan rumah sendiri? Jadi, jangan dilihat Siti Nurhaliza-nya saja, tetapi bagaimana saya memproses kata-kata menjadi puisi dan kritik di dalamnya.

Kalau begitu, menurut Anda puisi itu apakah keindahan, kritik, atau kombinasi keduanya?

Bagi saya yang terakhir itu, yakni kombinasi keindahan dan kritik. Di dalam puisi ada keindahan dan ada pula pandangan yang disampaikan penyair, entah kritik atau opini. Dalam puisi tentang pilkada, misalnya, saya menyampaikan sindiran “siap kalah, siap menang”.

Anda juga banyak menulis tentang korupsi?

Ya, betul. Ada sepuluh sajak berjudul KKN dalam buku saya “Gunung Menyan Segara Madu”. Salah satunya berbunyi “galang bulan/ ujan bales magrudugan/ katak dongkang/ pada girang ya megarang”. Ada keindahan, ada juga opini. Saya kira pembaca tahu makna KKN itu ada pada kata “megarang”.
***

One Reply to “Nol Rupiah untuk Sastra Bali Modern”

  1. Om Suastiastu, Pak Made, tyang alumni sastra bali di unud, kbtulan kerja sbg tnaga pngjar di undiksha skr. tyang seneng pisan sareng karya bapak, mengubah sedikit kata2 yang sudah sering di dengar oleh masyarakat bali, menjadi kata2 yang memiliki makna yang tersembunyi. terkesan tidak membosankan, ada unsur jenakanya.
    sukses pak, mangda bpk prasida terus nyurat ksustraan bali modern.Om Shanti,Shanti,Shanti, Om.

Leave a Reply to IDA AYU SUKMA WIRANI Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *