Pertunjukan Sorak-sorai Identitas saat Gundono Berenergi

Triyanto Triwikromo
http://www.suaramerdeka.com/2232003

RENDRA belum tampil malam itu. Ia hanya berjalan menyisir ujung ruang, mencari seseorang. “Mana Tanto?” kata drawaman kondang yang kini lebih kerap membacakan pidato kebudayaan di hadapan publik itu.

Tak ada yang menjawab. Tak semua orang mengenal pria tua yang masih tampak kharismatis itu. Tanto, seniman Mendut, Magelang yang sering bikin acara seni gila-gilaan itu, rupa-rupanya tahu gelagat. Dia segera menyuruh salah seorang anak buahnya untuk menemani sang Burung Merak.

Aha! Rendra ternyata lebih memilih duduk di keremangan, menyendiri menikmati lagu-lagu tragik-komik semacam “Hanya Khayalan” yang dinyanyikan oleh Opie Andarista dalam acara “Sorak-sorai Identitas” di Gedung Dana Warih, Magelang, Kamis (20/3).

Saat menonton kepiawaian Opie mengeksplorasi kemungkinan vokal agar jenaka sekaligus tragis (sebagaimana tampak pada nomor “Lili Versus Lala”, “Berakit-rakit ke Hulu, Berenang-berenang ke Tepian”, “Hitam Putih”, atau “Bintang Jatuh”), Rendra hanya tafakur, sambil sesekali memberikan tepukan.

Tentu bukan lantaran ditepuki sang dramawan Opie tampil heboh. Sejak awal dia memang sudah celelekan, sindir sana sindir sini, sambil sesekali melengking-lengkingkan nada yang tak lazim. Dan, lengkingan-lengkingan artistik itu tak terlalu penting bagi para seniman yang menonton pertunjukan itu. Tepukan penonton justru muncul saat Opie bilang betapa di negeri ini sedang musim preman atau saat dia mengkritik serbuan Amerika ke Irak.

“Aduh, suami saya yang berasal dari Amerika pun protes. Saking tak tahan melihat ulah Amerika, dia sampai mencret.”

Kalau sudah begitu, Opie agaknya menyarankan agar penonton berharap kepada bintang jatuh sebagaimana anak-anak jalanan menunggu rezeki dan menghadapi preman yang kerap mengompas mereka. Perempuan energik itu tak hanya mengkritik. Dia juga mengungkapkan kesejatian cinta lewat lagu yang khusus dipersembahkan kepada sang suami. “Engkau bilang aku cantik, membuatku melayang…

Dan Kentot -sang suami- cuma mesem-mesem mendengarkan kejenakaan sang istri. Sebab, dalam salah satu lagu, dia juga menyumbangkan kepiawaiannya memainkan musik tiup unik berukuran jumbo, panggung seperti menjadi “ruang cinta” tanpa tepi.

Pertunjukan Opie yang sarat tepuk tangan itu hanyalah salah satu acara. Setelah Opie, komponis Wayan Sudra bersama kawan-kawan juga memunculkan komposisi-komposisi yang menggoda. Ada nomor “Darsam Kondhangan” yang membuat penonton seperti mendapatkan musik Banyuwangi, Madura, bahkan sekaligus Sunda.

Ada juga nomor “Alih Rupa” yang bertolak dari musik keroncong. Malah ada juga nomor “Pecock” yang cukup gila. Semua perkusi seakan-akan menjadi aktor yang berkali-kali bercakap-cakap, berseteru, bahkan kadang bersecanda.

Dalam banyak hal, Sudra memang ingin menunjukkan betapa orang Indonesia memiliki banyak kekuatan artistik untuk mengeksplorasi bunyi.

Di mana Rendra? Rendra masih duduk tafakur di sudut remang. Beberapa orang silih berganti menemani. Beberapa orang hanya bercakap sesaat dan kemudian meninggalkan “Willy Tua” yang masih tampan itu.

Apa yang dia lakukan?

Aha, dia masih hanya bertafakur dan bersabar menikmati pertunjukan Ki Slamet Gundono yang berkali-kali menyebut-nyebut namanya. Gundono rupa-rupanya sangat-sangat sadar betapa untuk tampil di hadapan Rendra, memang diperlukan “estetika kulanuwun”. Estetika semacam itu justru menjadikan pertunjukan Gundono punya energi. Dia bisa menyindir Tanto dan meninggikan Rendra. Dia bisa meledek diri sendiri dan meninggikan martabat para seniman lain lewat lakon Sate Tongseng Drupadi .

“Kesenian yang baik itu ya yang spontan dan responsif,” ujar Gundono.

Dan, Rendra, yang hanya tafakur di sudut remang, rupa-rupanya bisa menjadi pemacu atau katakanlah kompor bagi para seniman untuk tampil heboh. Adapun Rendra sendiri baru akan tampil semalam. Bersama Joko Pinurbo dan Dorothea Rosa Herlyani, dia akan membacakan puisi-puisinya.

Pertunjukan lain yang layak dicatat adalah pembacaan puisi oleh Saut Situmorang dan Putu Fajar Arcana. Mereka menggugat kesewenang-wenangan lewat sajak-sajak panjang yang tragik, namun kadang-kadang menyemburatkan warna jenaka.

Putu, misalnya, mengangkat kehidupan orang-orang Gilimanuk untuk mengungkapkan kehidupan yang kian riuh oleh persengketaan dan perselisihan. Dia juga menginginkan perdamaian lewat sajak-sajak tentang penderitaan orang-orang Legian setelah bom meledak, setelah kehidupan di mulai lagi, setelah ungkapan-ungkapan “damai-damai, damai” hanya menjadi igauan yang tak terpahami.

Identitas
Jangan bicara tentang identitas dalam kebudayaan, sebelum menonton berbagai tontonan dan diskusi dalam acara bertajuk “Sorak-sorai Identitas”. Pasalnya, lewat pameran seni rupa atau performance art yang antara lain didukung oleh Pande Ketut Taman, Mella Jaarsma, Ugo Untoro, Rudi Mantofani, Hanafi, Dolorosa Sinaga, Sunaryo, Tisna Sanjaya,Made Wianta, Nasirun, dan seniman-seniman lain, Anda akan memperoleh wacana baru tentang identitas.

Identitas, menurut pendapat Yasraf Amir Piliang, memang bukan sebuah bongkahan yang mati dan tertutup, baik bagi perupa maupun kita sebagai penontonnya. Identitas adalah sesuatu yang mengambang. Identitas adalah sesuatu yang menurut pendapat Julia Kristeva, sebagai sesuatu yang berproses. Ia bukan sesuatu yang berhenti.

Dan semua itu, tampak dalam acara “Sorak-sorai Identitas” yang diselenggarakan oleh Studio Budaya & Galeri Langgeng, 20-21 Maret. Musik Wayan Sudra, misalnya, jelas tampil sebagai musik proses. Begitu juga penampilan Opie, Gundono, dan para seniman lain. Mereka sedang “terbang” memburu identitas lain yang sebenarnya tak akan pernah tertemukan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *