Puisi-Puisi Abidah El Khalieqy

KERAJAAN SUNYI

Syair malamku
ke Sinai aku menuju
Tak terbayang kerinduan melaut
tak terpermai kesunyian memagut

Seperti bumi padang sahara
haus dan lapar mengecap di bibir
merengkuh mimpi saat madu terkepung lebah
kekosongan dalam tetirah

Padang padang membentang
melahap tubuhku tanpa tulang
dan kesana alamat kucari

Kerajaan Sunyi

2000

AKU HADIR

Aku perempuan yang menyeberangi zaman
membara tanganku menggenggam pusaka
suara diam
menyaksikan pertempuran memperanakkan tahta
raja raja memecahkan wajah
silsilah kekuasaan

Aku perempuan yang merakit titian
menabur lahar berapi di bukit sunyi
membentangkan impian di ladang ladang mati
musik gelisah dari kerak bumi

Aku perempuan yang hadir dan mengalir
membawa kemudi
panji matahari

Aku perempuan yang kembali
dan berkemas pergi

1991

PEREMPUAN YANG IBU

Perempuan yang ibu tak kan lahir
dari rahim bumi belepotan lumpur dan nanah
nurani berselubung cadar kegelapan
dan pekat bersama harapan
terkapar

Perempuan yang ibu lahir
dari buaian cakrawala
dari ukiran udara warna daun semesta
yang menyapa alam dengan bahasa mawar
atau kebeningan telaga

Tak ada matahari
luput dari jendela

1990

IBUKU LAUT BERKOBAR

Ibuku laut berkobar
gemuruhnya memanggil manggil namaku
di bukir purnama pepujian
berjalinan rindu memadat
menyala gelegak kasmaran
yang terus meruah
berkibar lembar gairah
mengiring bulanku singgsana
fitrahku kembali menghirup udara
dari persekutuan
embun baqa

Setetes cindramatamu
mengungguli istana seribu dewa
kuimani sudah

1989

SEKALI MATAHARIKU
DI TITIK ZENIT

Sekali matahariku di titik zenith
kabut memburai di pelupuk mata
tiupkan sang kala mengatom dunia
di atas inti materi
dan dzat ruh
kulangkahi serbuan yang lenyap
serentak melesat dalam gemuruh
tuntas dzikir
kembali kosong

Nol berhamburan
tetirah dari Kekasih

1988

Abidah El Khalieqy, penyair, novelis, dan cerpenis, tinggal di Yogyakarta, dilahirkan di Jombang, Jawa Timur 1 Maret 1965. Menyelesaikan pendidikan di Fakultas Syariah IAIN Sunan Kalijaga (Kini UIN). Setamat dari Madrasah Ibtidaiyah, melanjutkan sekolah ke Pesantren Putri Modern PERSIS, Bangil, Pasuruan. Di Pesantren, mulai belajar menulis puisi dan cerpen dengan menggunakan nama samaran, Idasmara Prameswari, Ida Arek Ronopati, atau Ida Bani Kadir. Peroleh ijazah persamaan dari Madrasah Aliyah Muhammadiyah, Klaten. Bakatnya menulis dibuktikan menjuarai Lomba Penulisan Puisi Remaja Se-Jawa Tengah (1984). Aktif di Forum Pengadilan Puisi Yogyakarta (1987-1988), Kelompok Diskusi Perempuan Internasional (KDPI) Yogyakarta (1988-1989), dan menjadi peserta pertemuan APWLD (Asia Pasific Forum on Women, Law And Development) 1988.

Karya-karyanya berupa puisi, novel, dan cerpen dipublikasikan di berbagai media masa lokal maupun nasional: The Jakarta Post, Jurnal Ulumul Quran, Majalah Horizon, Republika, Media Indonesia, Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat, Jawa Post, dll. Dikumpulkan di berbagai buku antologi (bersama): Kitab Sastra Indonesia, Angkatan Sastra 2000, Wanita Pengarang Indonesia, ASEANO: An Antologi of Poems Shoustheast Asia, Album Cyber Indonesia (Australia), Selendang Pelangi (antologi perempuan penyair Indonesia), Para Pembisik, Dokumen Jibril (antologi cerpen), Nyanyian Cinta (antologi cerpen santri pilihan), Mikraj Odyssey (antologi cerpen), dll. Selain itu, sejumlah puisi dan cerpennya juga terpublikasikan di beberapa antologi bersama: Sembilu, Pagelaran, Embun Tajjali, Ambang dan Perempuan Bermulut Api (2009).

Di samping memiliki kemampuan menulis, juga pembaca puisi yang baik. Membaca karya-karyanya (puisi) di Taman Ismail Marzuki (1994 dan 2000), di sekretariat ASEAN (1998), di Konferensi Perempuan Islam Se Asia-Fasifik dan Timur Tengah (1999), di acara Internasional Literary Biennale (2007). Mewakili Indonesia di ASEAN Writers Conferenc/Workshop Poetry di Manila, Philipina (1995), menjadi pendamping Bengkel Kerja Penulisan Kreatif MASTERA (Majlis Sastra Asia Tenggara, 1997), mengikuti Program SBSB (Sastrawan Bicara Siswa Bertanya) di berbagai SMU di kota besar Indonesia (2000-2005) yang diprakarsai Taufiq Ismail, menjadi pemakalah di Pertemuan Sastrawan Melayu-Nusantara (2005), dan mengikuti Dialog tentang Sastra, Agama dan Perempuan bersama Camillia Gibs di Kedutaan Kanada (2007).

Penghargaan yang pernah diperoleh: Penghargaan Seni dari Pemerintah DIY (1998), pemenang Lomba Penulisan Novel, diselenggarakan Dewan Kesenian Jakarta (2003), dinobatkan sebagai salah satu tokoh muda “Anak Zaman Menerobos Batas” versi Majalah Syir’ah (2004). Dan buku-bukunya yang sudah terbit berupa novel: Ibuku Laut Berkobar (1987), Menari di Atas Gunting (2001), Atas Singgasana (2002), Genijora (2004), Mahabbah Rindu (2007), dan Nirzona (2008). Yang berupa antologi cerpen dalam bentuk draft, berjudul Jalan Ke Sorga (2007) dan The Heavens Gulf (2008).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *