Puisi-Puisi Slamet Rahardjo Rais

http://www.hupelita.com/
Puisi Langit

mabok sunyi lagi
sungguh tak sanggup berlari
meninggalkan samadi para kyai
ruh mulia mengarungi angkasa
memasuki terowongan paling sunyi

lepas senja menangkapnya
untuk memiliki negeri sunyi
mendengarkan langit asyik mengaji
ke jurang melemparkan kegelisahan
meluaskan wudhu langit tempat angin
masing-masing meletakkan muara

mata telah meminta agar segera
seluruh acara percakapan dituliskan
memenuhi lembar-lembar kertas di langit
atas dzikir nyanyian pujian
masjid-MU terdekap erat
anggur keheningan kebesaran ayat-MU

mempersatukan percakapan kita
melalui puisi dari tubuh suara
sangat jauh mengarungi arus sunyi
meneteslah di sini dzikir sekalian gelombang
menangkap rahasia beterjunan di mana-mana

1996

Cemara
– sebuah catatan sakit sendiri

jarak semakin dekat kepada gurun jiwa
membebaskan hutan cemara untuk menjalinkan nyanyian
tafakur para malaikat memadatkan doa tasbihnya
berselinap sebagai paduan suara daun-daun cemara
di antara percakapan masa lampauku yang menggoda
menyerahkan sejumlah isyarat ke arah malaikat
milikku sampai ke batas cakrawala iring-iringan
lawatanku menuju ke arah wilayah dahsyat kerinduan
ya tuhan Allah ya tuhan Allah
atas ayat-ayatMU beterjunan kalimat tahmid dan tasbih
rangkaian kerinduanku kepada tafakur langit membersih
kujemput padang-padangku yang meluas jauh
saat liang lahatku terbayang mendekat

1998

Sebuah Puisi Bagi Tuhan

Adalah lembab dataran tempat bertanya
Andaikan setiap pertemuan
Menjadikannya sebagai muara
Tangan itu telah mengalirkan telaga
Tempat mencemplungkan kalimat-kalimat nakal
Terhadap permukaan jiwa
Tempat ombak melintas
Atas waktu

Seakan datang pergi lagi
Mainan getar jiwa
Atas rimbun cemara
Menghidupkan sunyi yang ambruk
Menubruk silang nasib yang terpental
Dan ketemu padang yang meranggas
Luas cakar siap mengancam

Setiap hari melambungkan suara
Di tangan beribu lukisan
Begitu menghutan
Menjadi lautan untuk berdebat
Diamlah jiwa yang memberontak
Temukan saja persembunyian di balik rasa harap
Di laci almari, rak buku, dan daun jendela

Ada suara kidung sungai Rahmatan percakapan
Sesaat renungan kemalangan bergulir
Di sudut kamar tempat potret-potret bergantungan
Ada kiriman tetembangan suara tahlil berkepanjangan

1971/1994.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *