Sajak-Sajak Ahmad David Kholilurrahman

Berita


Sepetang di Kota Terang

1/
Setelah menempuh perjalanan panjang,
Musafir fakir tiba digerbang kota terang.
Matahari siang masih merah nyalang,
Kafilah dagang keluar-masuk bergelombang.
Sepanjang lorong bazar, orang ramai lalu-lalang.

2/
Plaza kota, sepetang melengang;
Burung-burung dara tempiaran terbang,
Basah-kuyup nafourah, melapak putih usang.

Dia mengambil jalan menuju pintu Jami?;
Membasuh wajah dan kaki telanjang,
Menggantung bekal-bawaan dilawang.
Meneguk sejuk air keran, kerongkong terasa lapang.

3/
Sekeliling zawiyah sebelah barat,
Terbentang majelis ilmu seorang alim besar.
Khalayak tekun-tunak menyimak matan-syarah kitab,
Menggores dawat kalam, menadah pancuran fatwa.

4/
Diserambi sebelah timur,
Tampak kerumunan anak-anak,
Dia lalu tersenyum, menyalami mereka satu-persatu,
Melangkah pelan-pelan, hendak menegak tiang agama.

Entah siapa yang beri aba-aba; seketika,
Kerumunan tersusun menjadi jama?ah,
Seorang anak melintang tangan melurus barisan,
Lainnya jadi makmum, menyatu bahu, merapat kaki.

Heliopolis, Cairo, 4 Oktober 2007

Hikayat Musafir Fakir

1/ Pagi Buta;

Marbot tua menyiar kabar;
Musafir fakir telah pergi mengembara.
Setelah tekun menenun jubah ukhrawi diceruk malam.
Apakah malu tumpang bermalam diserambi Jami’?”, tanya ‘Omdah al-Balad.

“Anak muda itu Musafir Fikir”, terang Syeikh Jami’ lembut.
Siang hari, dia peras keringat ambil upah dikebun kurma.
Pandai bijak membagi waktu malam hari;
Sepertiga untuk rehat, kitab dan mihrab.

Kumau dia buka lagi Kuttayyib diujung Balad;
Agar anak-anak kita suka mengaji Surah-Nya.

2/ Tengah Siang;

Tunggu dulu, izinkan saya bercakap sekejap, pinta lelaki tua.
“Apa gerangan yang menggerung ambal pikirmu, tuan Khoja?”, tanya khalayak

“Bukankah dia dikenal pemurung ulung?”, desak Khoja Makmoun.
Jarang terlihat bersendau-gurau dengan pemuda disini.
Roman airmukanya secerah musim semi, tak tampak keruh-lusuh.
Dalam laut dapat diselam, dalamnya hati tak terduga?

3/ Ujung Petang;

Dia bertandang ke serata negeri atas dan bawah angin;
Berbekal ransum ala kadar sahaja;
Tiga butir kurma, sekeping roti kering,
Segenggam buah zaitun dan sekantong air minum.

Tak secebis berkeluh-kesah litak,
Pengembara ruhani memang tak pernah tunak,
Terus lasak bertamasya rindu ke nun tak berjarak.

Heliopolis, Cairo, 20 Oktober 2007

Walau

1/
Walau kutahu delau zuhrah dilangit subuh,
belum tentu melirik daku
Pun, jatuh rindu sepanjang ladang zaitun

2/
Walau kutahu kacau parah disakit musuh,
belum tentu memekik daku
Pun, tempuh jauh segarang padang gurun

3/
Walau kutahu risau marah dibelit pelupuk,
belum tentu menukik daku
Pun, gugur peluru setentang pandang majnun.

4/
Walau kutahu pulau ziarah disempit teluk,
belum tentu menampik daku
Pun, cebur cemburu serembang petang turun

Heliopolis, Cairo, 19 Oktober 2007

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *