Sajak-Sajak Ragdi F Daye

http://www2.kompas.com/
Siluet

/1/
Kosong tepi jalan. Daun-daun lansano
pirang. Sebagai yasmin
kau memilih taman lebih teduh
Dari diriku
Menggigil batu-batu. Debu-debu
kaku. Bukankah langit telah robek
waktu itu. Menumpahkan tanah, api, dan
warna-warna abu
Kau memetik doa dari tampuk
yang lantas layu.

/2/
Dadaku tak cukup angkasa menanggung
dunia. Udara memuai
Namamu menggeletar
syair-syair rindu
Kuusap dinding kosong. Kosong
Seutuh wajahmu

/3/
Hari berkanvas gelap
Horison pecah
Kuseka kecewa berleleh di tepi mata
Berlari tak sampai
Menunggu tak kunjung datang
Asimtut saja.

/4/
Manakah wajahmu
Aku terbenam di laguna
Jasad menggembung. Darah
berkhianat. Mata candu
menjamah warna
Membayang
Rebah
Berdiri di situ
Tak terusik. Tak sampai tangan

/5/
Tinggal tubuh dingin mengisak.

(Ilalangsenja Padang, Mei 2006)

Ragdi F Daye
Tanah Darah 4

Di lembah tak terdengar lagi derak pedati
Jalan setapak tinggal semak
Sesekali saja ada pemburu menyoraki kawanan babi
Entah di mana serpihan itu ditumpangkan
Dalam seruang lubang kayu, di celah bebatu
atau gua hening
Sampai ilalang tumbuh dan zaman menimbun jejakmu
juga suara senapang yang bersipongang menggegerkan rimba
Tetapi masih kubungkukkan kepala
sebagai isyarat luka
yang tetap membekas pada mukaku
Tetapi masih kucari secelah retak
dalam diriku
Tempat aksara membeku terkunci
Menilasi masa laluku
Tak sekadar ruang kosong atau dongeng
keterlaluan. Sejarah luka
selalu berderak dan bersipongang
dalam kisah
yang dikuburkan.

(Rimbo Tabuah, Solok, April 2006)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *