Ziarah Budaya Fiksi Puasa-Lebaran

Rachmat H Cahyono
http://www2.kompas.com/

RITUAL tahunan Puasa-Lebaran memang mengandung banyak jejak dan makna, baik dari sudut pandang spiritual maupun sosiokultural. Mungkin karena itulah setiap tahun ada saja kita temukan penulis prosa tertarik menulis fiksi, umumnya cerpen, yang mengangkat tema Puasa-Lebaran-termasuk tema-tema mudik Lebaran yang sungguh merepotkan itu. Puasa-Lebaran atau peristiwa mudik yang diangkat bisa saja menjadi sekadar tempelan, latar cerita, atau menjadi bingkai utama yang mengikat cerita.

Sejumlah nama penting dalam jagat sastra Indonesia pernah menulis prosa (baca, cerpen) yang mengangkat tema Puasa-Lebaran dan mudik Lebaran dengan berbagai variasi. Sekadar menyebut beberapa nama, ada Ahmad Tohari dengan cerpen “Wangon Jatiwalang”, Danarto dengan cerpen “Lailatul Qadar”, Hamsad Rangkuti (“Reuni” dan “Lebaran”), Yanusa Nugroho (“Kurma”), AA Navis (“Tamu yang Datang di Hari Lebaran”), dan Jujur Prananto (“Jakarta Sunyi Sekali di Malam Hari”).

Yang paling banyak dan langganan menulis cerpen-cerpen tentang Puasa-(mudik) Lebaran adalah Umar Kayam dengan tujuh cerpen, yaitu “Ke Solo ke Njati”, “Mbok Jah”, “Ziarah Lebaran”, “Marti”, “Menjelang Lebaran”, “Lebaran Ini Saya Harus Pulang”, dan cerpen yang ditulis dekat-dekat akhir hayat pengarang ini, yaitu “Lebaran di Karet, di Karet…” yang kemudian menjadi judul antologi cerpen terakhir Umar Kayam.

Penerbit Kompas pada November 2002 meluncurkan Kurma, Kumpulan Cerpen Puasa-Lebaran Kompas. Kecuali Ahmad Tohari, nama-nama penulis yang saya sebutkan di atas ikut memunculkan karyanya dalam Kurma, yang memuat sebelas cerpen bertema Puasa-Lebaran, yang sebelumnya pernah dipublikasikan di harian Kompas.

Antologi serupa yang mengangkat tema Puasa-Lebaran adalah kumpulan cerpen Mudik (Yogyakarta: Bentang Budaya, 1996). Antologi ini memuat sepuluh cerpen dari tujuh penulis: Mohammad Diponegoro, Kuntowijoyo, Hamsad Rangkuti, Achmad Munif, Ahmad Tohari, Yudhistira ANM Massardi, dan Mustofa W Hasyim.

Dari segi pencapaian estetik, memang karya-karya bertema Puasa-Lebaran ini tidak menyodorkan terobosan baru. Namun, ketika pembaca ingin melakukan semacam ziarah budaya pemaknaan Puasa-Lebaran, karya-karya itu menjadi bermakna sebagai dokumen sosial yang merekam pergeseran makna Puasa-Lebaran yang terjadi di masyarakat dari tahun ke tahun.

Mengutip pengantar yang ditulis akademisi sastra Maman S Mahayana untuk antologi cerpen Kurma, prosa bertema Puasa-Lebaran memiliki sejarah yang cukup panjang, sudah sejak zaman Pandji Poestaka berjaya di tahun 1930-an. Armijn Pane pernah menulis cerpen berjudul “Jika Pohon Jati Berkembang” (Pandji Poestaka, No 15, 1937). Dalam cerpen ini digambarkan bagaimana orang-orang berkumpul dan terheran-heran mendengarkan suara gamelan atau khotbah Lebaran cukup dari sebuah kotak yang bernama radio. Radio yang sekarang dianggap ketinggalan zaman, untuk masa itu tentu saja dianggap sebagai benda ajaib hasil kemajuan teknologi.

Ada juga cerpen “Kartjis Lebaran?” karya Nur St Iskandar (Pandji Poestaka, 1 Januari 1935) yang menempatkan Lebaran sekadar latar waktu yang kurang memberikan kontribusi bagi unsur intrinsik lainnya. Sementara Soeman Hs dalam Kasih tak Terlarai (1929) melihat Lebaran sebagai momentum rekonsiliasi antara anak muda dan orang tua, meskipun di sana tidak ada acara halalbihalal dan maaf-memaafkan.

Tema Puasa-Lebaran berikut hiruk-pikuk mudik dalam cerpen bisa saja menjadi terkesan rutin. Namun, pengarang berbakat dapat menyiasatinya dengan kemampuannya mengolah komposisi cerita dan memaknainya dengan kualitas bahasa yang dimilikinya. Cerpen karya Umar Kayam, Lebaran Ini, Saya Harus Pulang, misalnya, tentulah dari segi kualitas masih jauh dari cerpen-cerpen terbaik Umar Kayam dalam kumpulan Seribu Kunang-kunang di Manhattan. Namun, cerpen ini tetap menyimpan “mutiara”, dalam bangunan kisah protagonis, wakil kaum urban pinggiran bernama Nem yang begitu mendambakan mudik ke kampung halaman sekaligus pamit pensiun dari pekerjaannya sebagai pembantu rumah tangga. Meskipun Nem juga sudah bisa membayangkan, hari-hari “pensiunnya” di desa belum tentu seindah yang diinginkannya. Maklumlah, desa-desa di negeri kita sangat akrab dengan fenomena yang disebut antropolog Oscar Lewis sebagai the culture of poverty, budaya kemelaratan.

Fenomena Puasa-Lebaran berikut “ritual” mudik, diakui atau tidak, adalah sebuah peristiwa budaya. Mungkin itulah yang menarik perhatian para cerpenis kita. Bayangkan sukarnya mencari alasan yang masuk akal: mengapa jutaan warga (tahun ini diperkirakan mencapai sekitar 20 juta orang), mayoritas kaum urban yang terengah-engah mencari sesuap nasi di wilayah perkotaan, bisa-bisanya ikhlas atau memaksakan diri melakukan eksodus, sebuah “ritual tahunan” yang luar biasa berat yang namanya mudik Lebaran?

Pertama-tama, tentu saja karena biaya berlebaran di kampung tidak sedikit. Ditambah kenyataan angkutan umum kita yang sangat tidak memadai, dan kondisi infrastruktur yang menyedihkan di berbagai daerah (kalau tidak jembatan jebol, mungkin jalannya bolong-bolong rusak berat). Perjalanan mudik bisa menjadi sangat berat, berbahaya, dan meletihkan. Jutaan orang harus berjuang agar bisa terangkut untuk mudik ke kampung halamannya, menghadapi risiko mulai dari terjebak macet, kecopetan, hingga kecelakaan di jalan yang dipadati kendaraan.

Mengapa betapa pun beratnya, toh jutaan orang setiap tahun tetap tergerak melakukan mudik Lebaran? Padahal, “udik”, rumah lama, kampung halaman, belum tentu seindah yang dibayangkan (seperti Nem sudah membayangkan kesulitan yang akan ditemui di desanya). Kampung halaman pun menyimpan tragedi dan air matanya sendiri: sawah yang kekeringan, rezeki yang semakin sukar dicari, harga sembilan bahan pokok yang melangit tak terjangkau oleh kaum kerabat di desa?. Mudik hanya nikmat untuk hari-hari pertama. Selebihnya, para pemudik akan kembali disadarkan oleh kenyataan hidup yang juga berat di kampung halaman. Dan mereka pun akhirnya memilih kembali menjalani takdirnya: sebagai kaum urban yang mengais rezeki di perkotaan.

Ajaib, toh setiap tahun kita kembali dihadapkan pada fenomena mudik Lebaran yang sungguh kolosal itu. Jawabannya, mungkin karena kebanyakan kita diam-diam punya kerinduan sendiri pada titik awal tempat kita berangkat dan memulai kehidupan. “Pulang mudik” adalah ibarat kerinduan Harry Potter pada sekolah sihir Hogwarts yang begitu dicintainya, yang penuh dengan magic. Setiap orang berhak merasa berbahagia karena harapan menemukan kembali magic, “keajaiban” yang dirasakannya di masa silam: mungkin sayur asam buatan ibu di kampung, mungkin dodol yang dipersiapkan bersama-sama tetangga di kiri kanan rumah leluhur, mungkin kenangan indah mandi-mandi di sungai kampung kita di masa kecil dulu.

Dan bagi kaum urbanis, seperti dikatakan Kayam dalam salah satu kolomnya sekian tahun lalu, pulang (mudik) justru peneguhan ikatan dengan rentangan sanak famili. Harapan magic menjadi harapan akan bisa sekali lagi menyaksikan magic dari sentuhan si anak hilang dengan jaringan kerabat, lewat oleh-oleh (properti penting yang wajib dibawa para pemudik Lebaran) yang merata itu. Meskipun beberapa hari kemudian semacam keterasingan, dan mungkin ketakutan, merayapi mereka akibat melihat kondisi jagat lama yang tampak seakan semakin kusam. Dan buru-buru mungkin mereka mengepak tas mereka lagi untuk kembali ke kota, ke neraka yang aneh tetapi yang terus saja menarik mereka bagai besi berani (dan mungkin karena itu pula Kayam beberapa kali terpesona pada ide cerita mudik Lebaran yang kemudian dituangkannya ke dalam komposisi cerpen).

Sosiolog Karl Mannheim pernah mengajukan teori bahwa setiap karya seni (jadi termasuk karya sastra seperti cerpen) mau tak mau akan menyampaikan makna pada tiga tingkat berbeda. Nah, cerpen-cerpen bertema Puasa-Lebaran dan mudik mungkin dapat dikategorikan pada pemaknaan tingkat ketiga seperti yang dimaksudkan Mannheim. Yakni, documentary meaning atau makna dokumenter berupa hubungan antara karya itu dan konteks sosial penciptaan: pengaruh-pengaruh sosial politik atau kecenderungan budaya yang tercermin dalam suatu karya. Suatu karya sastra, tambah Mannheim, adalah suatu dokumen sosial atau dokumen human tentang keadaan masyarakat dan alam pikiran di mana suatu karya diciptakan dan dilahirkan (Karl Mannheim dalam Ignas Kleden, 1997).

Jadi, keterharuan kita dalam menghadapi kepolosan sikap Nem (pada cerpen Umar Kayam) dalam menyikapi perjalanan mudiknya yang belum tentu happy ending, bersumber dari dokumen sosial yang kita miliki tentang fenomena mudik Lebaran itu sendiri yang menyimpan begitu banyak kisah dahsyat kaum urban yang mencoba ikhlas menjalani kehidupannya yang berat. Jika Puasa-Lebaran berikut mudiknya ibarat “ziarah” sekaligus “eksodus budaya” yang menyimpan makna penting solidaritas sosial, kekerabatan dan keterikatan kita pada “udik”, rumah lama, kampung asal, pantaslah jika dari tahun ke tahun para pengarang pun akan selalu tergerak menuliskan cerita bertemakan Puasa-Lebaran.

*) Pengarang dan Pemerhati Masalah Sosial Budaya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *