?Gelar Sajak Suryatati?

Berpihak pada Persoalan Masyarakat

John Js
http://www.sinarharapan.co.id/

?Saya kagum dengan konsistensi dan kepedulian (Walikota Tanjungpinang) Suryatati sebagai wanita yang menulis puisi. Lagi pula saya senang mendapat kesempatan membaca sajak-sajak Melayu. Sajak-sajak Melayu Jemputan (karya Suryatati) sangat menyentuh. Membaca puisi adalah sesuatu yang bisa menghilangkan kegalauan, seperti seni peran,? ungkap Tamara Bleszyinski yang terpilih membaca karya sajak Suryatati berjudul ?Nyanyian Rakyat Kecil? di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, minggu lalu. Lain lagi pendapat violinis Idris Sardi, yang memainkan nomor lagu khusus untuk pembuka pergelaran ?Gelar Sajak Suryatati?. Ia menyebut seni tradisi begitu mulia. ?Saya merasa bersyukur bisa bersatu rasa.

Saya heran kalau musik dangdut bisa disukai sekali, padahal seni Melayu lebih hebat. Kita harus mensyukuri keberadaan seni tradisi Melayu,? sanjung Idris Sardi.

Memandang Suryatati yang berjabatan Walikota namun masih tetap meneruskan kepenyairannya, patut dipuji. Suryatati tak rela jiwa kepenyairannya terpenjara. ?Saya tidak rela sajak-sajak Melayu pelan-pelan menghilang,? ujar Suryatati yang sangat peduli terhadap seni budaya Melayu.

Ketua penyelenggara Asrizal Nur dari Yayasan Panggung Melayu, menilai penting untuk menampilkan Suryatati dalam Gelar Sajak Tunggal. ?Kami berharap dengan sajak-sajak karya Suryatati yang dibacakan para artis dan penyair dapat memberikan pencerahan bagi dunia birokrat, utamanya penguasa yang akhir-akhir ini banyak mengabaikan kebudayaan khususnya sastra,? jelas Asrizal, yang juga penyair.

?Patut diacungkan jempol kepada penyair Melayu, Suryatati yang kini sibuk sebagai Walikota namun memiliki kepedulian besar terhadap seni dan budaya Melayu. Suryatati adalah sosok manusia yang memimpin negeri pantun, Tanjungpinang dengan memagar negerinya bersama marwah Melayu,? ditambahkan Asrizal.

Momentum Tepat
Apa makna seorang Suryatati? Budayawan dan sastrawan Maman S Mahayana menyebut Ibu Walikota itu muncul dalam momentum yang tepat dalam mewartakan kegelisahan sosio-kultural.

?Kita dapat mencermati ke arah mana keberpihakan penyair atas lingkungan sosial budaya di sekitarnya, yang sekaligus mengekspresikan hati dan gagasannya tentang berbagai hal,? imbuh Maman.

Dia juga memuji kehadiran Suryatati di dunia sastra menjadi penting, sebagai penyair dan pejabat untuk mempresentasikan tanggung jawabnya dalam menyikapi berbagai persoalan kemasyarakatan.

Apalagi tampak oleh Maman, sebagai walikota ia seperti tak pernah berhenti mencari solusi atas berbagai persoalan besar sampai yang remeh, karena menyangkut problem kemasyarakatan.

Suyatati begitu peduli pada sesamanya, sambung Maman, sejauh it u menyangkut kepentingan bersama. Puisinya adalah wujud representasi hati danpikirannya yang jernih dalam menempatkan diri dan keberpihakannya pada masyarakat, untuk harapan orang-orang yang memberinya amanah selaku sosok pemimpin.

?Sentuhan sastra menuju kemanusiaan, bermuara pada kesejahteraan dan kebahagiaan manusia,? demikian pendapat Maman S Mahayana, yang saat ini masih menjabat sebagai Dosen Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia.

Acara ?Gelar Sajak Suryatati? dilengkapi dengan peluncuran buku antologi puisi Suryatati bertajuk ?Melayukah Aku?. Melalui kata pengantarnya, penyair Taufik Ismail mengatakan di buku puisi itu ia menemukan suara hati manusia, sosok pribadi seorang ibu, dan sekaligus sikap seorang pejabat daerah.
Pertanyaan retorik ?Melayukah Aku?, menurut Taufik, sesungguhnyamengisyaratkan persoalan sosio-kultural ketika arus globalisasi menerjang keluhuran kultur leluhur Melayu.

Penyair seolah-olah mempertanyakan eksistensi kemelayuannya. Padahal, lanjutnya, ia berfungsi macam pisau bermata dua. Ke dalam, ia menunjukkan keprihatinannya, dan ke luar ia mencoba memberikan penyadaran tentang bahaya arus globalisasi yang dicerna tanpa reserve, ditelan secara bulat mentah. Harus ada filter untuk menyaringnya, harap Taufik, dan filter itu adalah kearifan lokal yang tersimpan dalam budaya leluhur.

Penyanyi dangdut Melayu Iyeth Busatami juga hadir di ?Gelar Sajak Suryatati?, namun ia tak membaca puisi. Iyeth diundang selaku profesi penyanyi, dan salah satunya ia bersenandung ?Ibu? untuk mengiringi karya sajak berjudul sama yang dibacakan sendiri oleh Suryatati.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *