Ajip Rosidi, Mendunia Berkat Sastra Sunda

Ajip Rosidi
Pewawancara: Burhanuddin Bella, M Syakir
http://www.infoanda.com/

Bahasa daerah membuatnya prihatin. Ketika merasa tidak ada lagi yang memerhatikan bahasa daerah, Ajip Rosidi menilai inilah saatnya bertindak. Lebih dari 30 tahun, pria kelahiran Jatiwangi pada 31 Januari 1938 ini memperjuangkan nasib bahasa daerah. Hingga akhirnya dia tiba di satu titik. ”Saya lebih baik melaksanakan apa yang bisa,” ujarnya. Ajip berpikir tentang sebuah hadiah sastra. Sayangnya, ide itu tidak bersambut.

Menteri pendidikan dan kebudayaan saat itu terkesan tidak terlalu serius menanggapi pentingnya pemberian hadiah untuk insan sastra. ”Hadiah sastra yang diberikan setiap tahun oleh menteri PDK yang berturut-turut empat kali di zaman (Menteri PDK) Mashuri. Lantas berhenti, kemudian ada lagi. Sampai sekarang juga kadang-kadang diberikan, tapi tidak tiap tahun.” Kenyataan inilah yang memacu Ajip memberikan hadiah Rancage. Bahkan, meski untuk itu, Ajip harus merogoh kocek sendiri.

Inilah hadiah untuk orang-orang yang peduli pada sastra –terutama sastra Sunda. Menurut Ajip, di tahun pertama, hadiah tersebut diberikan pada pengarang yang menerbitkan karyanya. ”Tahun kedua saya berikan hadiah untuk orang yang menunjukkan jasanya dalam mengembangkan bahasa dan sastra Sunda. Jadi, tiap tahun ada dua hadiah. Satu untuk karya, satu untuk yang berjasa, masing-masing Rp 1 juta.”

Langkah Ajip mendapat dukungan. Beberapa orang temannya tertarik pula urun dana. Kini, setelah berselang 17 tahun dari Rancage pertama, Ajip berencana melebarkan sayap. Sukses merambah Jawa dan Bali, dia pun terpikir untuk merangkul seluruh kesastraan daerah di Nusantara.

Pada Burhanuddin Bella dan M Syakir, ayah enam anak ini berkisah tentang kendala mengembangkan Rancage (kosa kata bahasa Sunda yang artinya kreatif), sastra daerah, dan beragam keinginannya.

Penghargaan Rancage mulanya hanya untuk sastra Sunda. Kenapa berkembang ke Jawa dan Bali?

Saya menganggap persoalan sastra daerah di tiap daerah sama. Tidak diperhatikan oleh pemerintah, oleh pusat tidak, oleh pemda kurang. Tidak strategislah. Di sekolah juga, pelajaran bahasa selalu menjadi masalah. Sekarang, misalnya, Jawa Tengah menetapkan bahwa dari SD sampai SMA harus mengajarkan bahasa daerah. Itu ada keputusan gubernur. Tapi, orang-orang mengatakan, ini tidak disukai oleh murid. Ya, kalau mau tanya murid, banyak pelajaran yang tidak disukai. Itu kelihatan sekali dari orang-orang yang mau menolak.

Sepanjang pengamatan Anda, daerah mana saja yang tidak peduli dengan bahasa daerahnya?

Yang saya tahu, Pemda Jateng dan Jatim itu menyambut Kurikulum 2004. Kurikulum itu menetapkan dulu bahasa daerah dalam muatan lokal (mulok), sekarang kedudukannya sama dengan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Artinya, pengakuan bahasa daerah paling tidak sama pentingnya dengan bahasa asing. Dalam kurikulum yang lama tidak. Status pelajaran bahasa dalam kurikulum, itu termasuk yang penting. Kalau mulok, itu tambahan. Jadi, statusnya rendah. Anehnya, Dinas Pendidikan Jawa Barat tampaknya belum melihal hal itu, sehingga dalam Kongres Bahasa Sunda tahun lalu masih ada tuntutan supaya bahasa Sunda diajarkan di SMA. Padahal dalam kurikulum sudah ada. Jadi, aneh. Mereka tidak mempelajari kurikulum atau tidak mengerti apa yang dimaksudkan oleh kurikulum.

Apa yang mendorong Anda sangat peduli dengan bahasa daerah?

Karena tidak diperhatikan. Dalam UU jelas, pemerintah wajib mengembangkan kebudayaan, dan bahasa daerah bagian dari kebudayaan. Diakui dalam UUD. Jadi, selama ini pemerintah tidak pernah melaksanakan UU. Itu yang saya katakan dari dulu dan tidak didengar juga sampai sekarang.

Setelah Jawa dan Bali, ada rencana Rancage dikembangkan untuk seluruh Indonesia?

Ini ada persoalan. Pertama, sampai sekarang belum kelihatan bahasa daerah lain yang menerbitkan karya modern berbentuk buku. Sebab kalau hanya dimuat dalam majalah saja, susah buat saya untuk mengikutinya. Kalau hanya cerita lama ditulis kembali dalam bahasa daerah, itu ada juga. Tapi, susah kalau begitu. Saya ingin karya yang modern, yang asli. Itu boleh dikatakan tidak ada. Kedua, kalau bertambah lagi jumlah yang dikasih hadiah, itu buat Rancage menjadi beban lagi, kan. Harus ada anggaran tambahan. Sekarang ini saja sudah pusing. Hadiahnya hanya Rp 30 juta atau Rp 35 juta, tapi untuk juri, untuk acara penyerahan, mendatangkan pemenang, dan lain-lainnya itu hampir Rp 100 juta. Yayasan Rancage tidak punya dana abadi. Tapi, selalu saja ada pada saat-saat terakhir.

Anda sastrawan yang boleh dikata sudah mendunia. Kenapa ada justru lebih tertarik menelaah sastra daerah?

Itu masalahnya, saya sendiri merasa bahwa saya mulai terjun dan tertarik ke dunia sastra oleh sastra Sunda. Saya jadi besar karena sastra Sunda. Saya lihat, ini kok yang dulu membesarkan saya tidak diperhatikan orang. Jadi, saya konsen itu. Kemudian saya mempelajari soal kehidupan bahasa-bahasa di dunia, tentang pentingnya bahasa ibu.

Seberapa penting bahasa ibu?

Saya perhatikan pentingnya bahasa ibu sebagai pengantar dalam pendidikan. Waktu 1972 saya diundang ke Amerika, saya pergi ke Texas, negara bagian yang paling selatan. Di sana, banyak orang berbahasa Spanyol. Di situ pernah ada masalah, anak-anak keturunan Spanyol ini di kelasnya mundur. Diselidiki, ternyata karena mereka harus berbahasa Inggris. Jadi, di situ ditetapkan kemudian bahwa anak mereka belajar dengan bahasa pengantar bahasa Spanyol. Hasil penelitian, ternyata anak-anak lebih mudah memahami kalau dengan bahasa ibunya. Waktu saya pulang ke Indonesia, saya melihat juga masalah itu di sini. Tahun 1974 diadakan seminar tentang politik bahasa nasional, saya menemukan hal itu. Seorang pemakalah mengatakan, bahasa daerah merupakan bom waktu yang menghancurkan Indonesia. Bukan saya saja yang marah. Saya bilang, menetapkan bahasa pengantar untuk bahasa daerah –waktu itu sampai kelas III– harus diteliti lagi. Sebab menurut konsep saya, harusnya di daerah-daerah tertentu, bahasa pengantar di sekolah dengan bahasa daerah tersebut sampai SMA. Kalau perlu mengadakan universitas dengan bahasa itu.

Suatu ketika dia diundang oleh Japan Foundation dan diminta tinggal di sana selama 1 tahun sebagai fellow. Namun, Ajip hanya bersedia selama enam bulan dan tinggal di Kyoto. Di negeri matahari terbit itu, dia pernah juga mengajar di beberapa universitas lain. Ketika itulah dia didekati oleh Osaka Gaidai (universitas bahasa asing Osaka) untuk menjadi pengajar karena pengajar sebelumnya pensiun. ”Mereka cari gantinya dan minta saya. Saya bilang, saya di Jakarta punya pekerjaan. Saya carikan orang lain. Saya sebut beberapa nama, tapi ‘Kita ingin Pak Ajip’. Terus ada kawan-kawan dan orang tua saya menganjurkan, sudahlah kamu lebih baik di sana.”

Namun, ada pertimbangan lain. Lantaran sempat berembus isu, Ajip bakal menjadi menteri. ”Benar atau tidaknya, tapi adanya isu itu menjadi salah satu faktor saya memilih mengajar di Jepang.” Selama 22 tahun mengajar di Jepang, Ajip tetap memerhatikan sastra daerah, khususnya Sastra Sunda. ”Memberikan hadiah Rancage juga di sana. Sebagai pegawai pemerintah Jepang, saya mendapat gaji yang cukup.”

Anda mendirikan Rancage dari dana sendiri?

Saat itu 1989, ketika saya di Jepang. Saya melihat, anak-anak muda menulis dalam bahasa daerah lebih susah daripada dalam bahasa Indonesia. Toh, ada juga yang menulis dalam bahasa daerah. Tidak hanya Sunda, Jawa juga begitu. Tulisan mereka dimuat di majalah bahasa daerah. Honorarium yang mereka dapat jauh lebih kecil daripada menulis dalam bahasa Indonesia. Padahal, mereka mudah menulis dalam bahasa Indonesia. Itu yang mengharukan saya. Kok, mereka mau juga. Sampai sekarang masih ada anak muda yang menulis dalam bahasa daerah. Ketika itu saya tidak mendirikan yayasan. Pikiran saya hanya ingin memberikan apresiasi kepada pengarang-pengarang berbahasa Sunda. Niat itu dari 1988, dilaksanakan 1989. Saya ketika itu menyediakan uang Rp 1 juta. Waktu itu cukup besarlah. Buat saya, tidak berat mengeluarkan Rp 1 juta untuk hadiah. Itu pun mula-mula orang pesimistis. Tapi, setelah 5 tahun, karena konsisten diberikan, akhirnya menjadi perhatian orang-orang.

Selama 22 tahun di Jepang, bagaimana bisa Anda tetap memerhatikan sastra daerah?

Itu soal mengatur waktu saja. Tidak hanya sastra, politik juga. Selama di sana, saya banyak menulis surat kepada kawan-kawan yang ada di Indonesia dan luar Indonesia tentang berbagai soal. Kira-kira saya menulis 500 surat tiap tahun. Isinya macam-macam. Ada dalam bahasa Sunda ada dalam bahasa Indonesia. Misalnya, sebagian surat-surat dalam bahasa Sunda yang ditujukan kepada Pak Syafrudin, Pak Ali Sadikin, Pak Endang Saefudin, ZA Muttaqin, tidak hanya persoalan bahasa dan sastra, tapi soal politik, soal bangsa. Pandangan-pandangan saya tentang umat Islam, tentang Soeharto.

Ada pengalaman menarik waktu mengajar di sana?

Saya mengajarkan kebudayaan Indonesia. Tapi, ini saya pakai untuk memperkenalkan Islam dengan alasan, kalau mau mengenal budaya Indonesia, harus mengenal Islam. Sebab Islam agama mayoritas penduduk. Suatu waktu, ada seorang mahasiswa bertanya, `’Boleh nggak saya masuk Islam?” Saya bilang boleh saja, tapi lebih baik belajar dulu. Sebab kalau kamu masuk Islam, berhenti Budha. `’Kok berhenti? Agama Islam bagus, agama Budha bagus?” Dianya berpikir begitu.

Anda pernah membuat ensiklopedia Sunda. Apa yang mendasari?

Saya menjadi sadar bahwa orang-orang Sunda sudah banyak tidak mengenal budayanya sendiri. Mereka tidak punya referensi. Proses penghilangan bentuk-bentuk budaya ini kan berlangsung terus. Jadi, saya merasa perlu membentuk suatu ensiklopedia untuk menjadi referensi. Tapi, kan saya juga tidak mengetahui semua hal, jadi saya harus membaca semua bahan. Sampai sekarang itu menjadi ensiklopedia etnis satu-satunya, kan. Sebetulnya, Jawa dan Bali kesempatannya lebih mudah, karena tentang Jawa dan Bali sudah banyak buku-bukunya. Kalau Sunda ini, saya mencari sendiri, referensi saya sedikit sekali. Itu diakui oleh Taufik Abdullah juga. Sedikit sekali sarjana asing yang punya perhatian pada kebudayaan Sunda. Ada, tapi sedikit sekali, dibandingkan dengan Jawa. Dibandingkan dengan Mentawai saja, kalah. Jadi, saya harus mencari, sehingga seorang kebangsaan Prancis bilang, ini ensiklopedia pertama di Indonesia.

Berapa lama Anda menyusun itu?

Sepuluh tahun. Itu juga kalau tidak saya paksakan, tidak akan selesai-selesai. Ada saja masalah baru. Sekarang saya sedang memikirkan untuk membuat tambahan-tambahan.

Bagaimana Anda melihat minat generasi muda pada sastra daerah, khususnya sastra Sunda?

Banyak juga. Kemarin, ada ulang tahun pengarang sastra Sunda. Ternyata banyak sekali anak-anak muda datang yang saya tidak kenal.

Perasaan Anda melihat itu?

Senang sekali, bangga sekali. Saya menerbitkan majalah bahasa Sunda. Yang mengurus, yang muda-muda. Itu bukan sembarangan. Burhanuddin Abdullah, Erry Riyana Hardjapamekas, berlangganan. Jadi menarik, selama ini ada anggapan bahwa bacaan bahasa Sunda, itu bacaan orang kampung. Jadi, waktu saya mulai menerbitkan majalah ini saya ditegur oleh orang terkenal (orang Sunda). `’Kamu salah. Ini bacaan terlalu tinggi untuk orang Sunda.” Tidak, saya bilang. Saya ingin majalah ini dibaca oleh orang Sunda yang tinggi, bukan yang orang rendah. Ternyata betul. Dibaca oleh Muchtar Kusumaatmaja, Ali Sadikin.

Saat masih tinggal di Jatiwangi, Ajip sempat mengalami kesulitan keuangan. Ketika itu hidupnya tergantung pada honorarium dari Jakarta. Suatu kali istrinya mengatakan, persediaan beras hanya cukup untuk satu hari. Ketika ingin membeli beras, tidak ada uang di kantong. Saat itulah berkah datang dari seorang penjaga sekolah yang menjual beras. ”Istri saya bilang, ‘Dia tidak mau dibayar sekarang karena dia mau nyunatin anaknya bulan depan. Mintanya bulan depan’.” Baginya, inilah kekuasaan Tuhan. ”Tangan Tuhan itu betul kuasa. Karena itu saya biasa bilang kepada anak-anak muda, kalau ada satu hal yang harus kamu kerjakan, kerjakan. Jangan gantungkan hidup kamu dari hasil pekerjaan itu. Hidup kamu dijamin oleh Tuhan.”

Anda tampak dengan mudahnya pindah –dari Bandung, Jakarta, Jepang, kini lebih banyak di Pabelan. Apa yang Anda cari?

Tidak ada. Saya dulu tinggal di Jakarta. Karena bising, saya pindah ke Sumedang pada 1958. Setahun lebih di sana, pindah ke Bandung. Tahun 1960 saya pindah ke Jatiwangi, kampung saya, bikin rumah. Saat itu saya umur 22 tahun, sudah punya anak tiga.

Bagaimana Anda mengarahkan anak-anak?

Saya menyekolahkan mereka, tapi saya tidak pernah ikut memaksa untuk menentukan pilihan. Juga mencari jodoh. Ada anak saya kawin dengan gadis Jepang, sekarang punya dua anak, mengajar di sana, punya rumah di sana, Jadi, akan terus tinggal di sana. Saya cuma bilang, masuk Islam dulu deh.

Waktu perayaan pernikahan emas Anda pakai baju Sunda. Kabarnya, waktu itu Anda sempat kurang berkenan?

Saya memang kurang suka. Saya anggap pakaian-pakaian adat itu kan buatan-buatan saja. Apa benar pakaian itu? Secara historis masih harus diteliti. Saya tidak pernah menelusuri, tapi saya meragukan. Itu kelihatannya hanya variasi saja dari pakaian Jawa. Tapi, waktu itu kan panitianya anak saya, sudahlah, saya mengalah. Sebelumnya, saya tidak mau. Menikahkan anak saya juga tidak pernah pakaian adat.

Bukankah aneh, Anda peduli pada kebudayaan daerah, tapi tidak mau menggunakan simbol-simbol daerah?

Simbol-simbol itu banyak yang tidak benar. Seperti orang Sunda menganggap, simbol senjata Sunda itu kujang. Menurut penelitian saya, kujang itu alat pertanian, bukan senjata perang. Tapi, sudah jadi mitos di kalangan orang Sunda bahwa kujang itu senjata untuk perang.

Sampai sekarang Anda tetap peduli dengan sastra daerah. Apa yang Anda impikan dari itu?

Saya melihat usaha saya ini akan berakhir dengan pemusnahan-pemusnahan bahasa-bahasa daerah. Ini karena ada gelombang yang mungkin tidak bisa ditahan. Tapi, saya merasa bahwa saya harus berusaha mempertahankan, karena ini kekayaan budaya kita. Kita harus pertahankan.

Obsesi yang belum tergapai?

Obsesi besar yang tidak kelihatan, ingin melihat Indonesia menjadi bangsa yang terkemuka, berbudaya, mendapatkan kedudukan terhormat di lingkungan dunia.

Dalam bayangan Anda, itu masih panjang?

Saya pesimistis, saya kira masalahnya mentalitas. Ini menurun sekali. Abad ke-15 kita punya komoditas yang dicari oleh seluruh dunia. Harusnya kita jadi bangsa yang menentukan dunia. Mengapa berakhir dengan bangsa yang dijajah. Kita dijajah bukan karena orang Barat bawa meriam, kita hanya keris dan badik. Tapi, karena perpecahan di dalam.

Saya tidak pernah menjadikan apa yang saya kerjakan itu sebagai sumber penghasilan untuk hidup. Karena dalam Alquran dijanjikan, rezeki itu ditanggung oleh Tuhan. Jadi, saya tidak pernah memikirkan rezeki.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *