Antara Keheningan dan Keriuhan

Pameran “Dua Cakrawala”

Wayan Sunarta
http://www.balipost.co.id/

DI “10 Fine Art Gallery” Sanur yang dikelola oleh 10 pelukis, I Kadek Susila dan I Wayan Wirawan memamerkan karya-karya terbarunya. Pameran bertajuk “Dua Cakrawala” itu dikuratori Arif Bagus Prasetyo dan berlangsung dari 29 April sampai 29 Mei 2007.

Susila dan Wirawan merupakan tamatan ISI Yogyakarta. Keduanya pernah berpameran bersama di beberapa kota di Indonesia. Keduanya juga beberapa kali menggondol penghargaan dalam berbagai kompetisi seni rupa. Susila yang kelahiran 14 Agustus 1976 pernah menjadi finalis “Indofood Art Award 2003”, “Lifting Up The World with A Oneness Heart” dari Sri Chinmoy pada 2004 dan penghargaan Karya Lukis Terbaik Dies Natalis XXI ISI Yogyakarta 2005. Sedangkan Wirawan yang kelahiran 27 November 1975 pernah menjadi nominator “Affandi Prize Art Award 1999” dan finalis “Nokia Art Award 2000”.

Kini, keduanya bertemu dalam dua cakrawala yang berbeda. Susila suntuk menggarap tema dan visual keheningan pada karya-karyanya. Susila mengajak orang menyelam ke dalam hakikat keheningan untuk sejenak berkontemplasi merenungi kesejatian diri. Sedangkan Wirawan mendedahkan segala tingkah polah keserakahan manusia, tidak hanya serakah pada harta benda, namun juga mencaplok tanah, hutan, rawa, laut. Tema-tema sosial dan lingkungan sangat melekat pada karya-karya Wirawan.

Pada karya-karya Susila, ada suguhan bidang-bidang dengan warna-warna lembut di mana seonggok objek diletakkan sebagai pusat pada garis cakrawala. Misalnya terlihat pada lukisan berjudul “Hening Diri” yang menampilkan sebuah objek mirip batu karang di antara bidang warna biru langit dan hijau rumput. Dalam lukisan itu, objek dan bayangannya menjadi pusat kesunyian yang meditatif.

Karya-karya Susila kecenderung minimalis dan ini mungkin menjadi semacam antipoda dari lukisan-lukisan bercorak abstrak ekspresionisme yang pernah melanda Bali. Pada “Terusik Bayangan”, misalnya, nuansa minimalis sangat terasa. Lukisan itu hanya menampilkan sebidang kanvas dengan sapuan warna hijau muda yang di tengah-tengahnya mengambang sebuah objek putih melengkung beserta bayangannya yang tipis.

Apa sebenarnya yang ingin disampaikan Susila dengan lukisan-lukisan minimalis itu? Dalam keseharian Susila memang menekuni dunia spiritual, terutama meditasi. “Meditasi merupakan laku spiritual yang dapat mengantar untuk mencapai kesatuan jiwa atau atman dengan jasmani. Meditasi sebagai latihan kesadaran juga meliputi hidup berkesenian saya,” jelas Susila. Dari penjelasan ini, orang bisa menelusuri muatan-muatan yang ingin disampaikan Susila melalui karya-karyanya.

Menceburkan Diri
Jika Susila menarik diri ke dalam dunia keheningan, Wirawan justru menceburkan diri ke dalam keriuhan meski keheningan sesekali menjadi nuansa yang puitis pada bidang kanvasnya. Perhatikan karyanya yang berjudul “Saksi Bisu” yang menampilkan perpaduan antara keheningan dan keriuhan. Pada bagian atas bidang kanvasnya, ada langit dengan bayangan puncak gunung menjulang seperti disaputi salju. Terasa keheningan mendekam di situ, sebuah kawasan yang dirindukan para pertapa dan penekun spiritual. Di bagian bawah gunung ada lakon kehidupan sehari-hari manusia di mana keserakahan, penindasan, nafsu duniawi bertiwikrama. Lukisan ini memang sengaja mengontraskan antara kesakralan dan keprofanan, antara wilayah para dewa dan manusia.

Kontras itu juga terlihat pada “Dualisme” yang menampilkan dua wajah distorsif manusia dengan dua ekspresinya yang berlawanan — yang satu menyiratkan keserakahan, sedangkan yang lainnya menampakkan ketertindasan. Pada beberapa karyanya, Wirawan memang nampak sinis dalam memandang perilaku manusia. Lihatlah pada “Tentang Binatang”, dengan gamblang Wirawan melukiskan keserakahan manusia yang diibaratkannya tak jauh dari tingkah polah binatang, berkepala manusia yang sedang menjilat buah apel namun bertubuh hewan.

Mengamati karya-karya yang dipamerkan, rasanya, dua pelukis ini sangat menjanjikan bagi masa depan dunia seni rupa di Bali. Hal itu terlihat pada keseriusan mereka menjelajahi bentuk dan isi untuk menemukan sejumlah kemungkinan baru pada karya-karya yang diciptakannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *