Di Penghujung Ufuk

Rengget Dyaloka
http://renggetdyaloka.com/

Belukar menguning, Jati meranggas. Kemarau. Aku masih berjalan mengiring kali kecil penghubung Desa Rengkok dengan Desa Balonggereng, menapaki jalan bebatuan yang berserak, sesekali melintasi petak-petak sawah yang ditinggal pemiliknya. Aku membawa sekeranjang besar mangga untuk ibu. Semoga ia mengampuniku.
*

? Rong Dosoworso*, nduk.? Ibu menggumam, mengayun-ayun kursinya yang renta, seperti dirinya. ?Rong Dosoworso, enggonku ngenteni,? lanjutnya. Aku menatapnya. Ia memalingkan muka.
?Kapan, kowe nikah?? tanyanya lagi. Benang sulamanku terjatuh. Ia menatapku. Aku memalingkan muka.
Aku mengalihkan pandang jauh ke gunung-gunung, sawah-sawah, juga Matari. Langit yang kala itu cerah menghiburku, cericit pipit seakan menyanyikan lagu untukku. Aku menatap ibu kembali.
?Kawula dereng siap nikah, Ibu,? jawabku. Ia memalingkan mukanya lagi.
?Kowe iku!!!!? Ibu tak meneruskan pembicaraannya. Aku tahu.
?Ampun, Ibu?? ujarku merasa bersalah. Ia kini menatapi belukar di halaman belakang yang mulai rimbun. Derik jangkrik sore itu seakan menyanyikan lagu untukknya.
*

Sekeranjang mangga.
Konon, mangga bisa menyembuhkan sakit hati orang. Terutama hubungan kekerabatan. Ataukah mitos atau bukan, aku tak peduli, yang aku tahu mangga adalah buah kesukaan Ibu, maka aku pun menghadiahkannya.
Kakiku masih menapaki jalan bebatuan di samping kali kecil tadi. Riak malas kali itu membuatku ingin mengatainya, ?Hei ! Terkutuk jika kau tak bersemangat sama sekali!!?.
Jauh, jauh pikirku berkelana, mengingat-ingat kali selain yang sedang kupandangi ini: Brantas. Kegagahannya yang tiada banding di Surabaya dengan riak yang berbeda, lebih semarak, tidak ringkih seperti kali kecil tadi. Ah, mengapa ada berbagai macam kali?
?Pulang, nduk?? Bulek Kasminah menyapaku ketika sedang melintasi sawahnya, ternyata, masih ada pemilik sawah yang peduli dengan lahan garapannya meskipun tidak sedang musim panen.
?Injih, Bulek,? aku mengangguk, kualihkan pandangan ke arah lain, pada suaminya, ?Paklek, ? sapaku, ia mengangguk. Aku menunjukkan sekeranjang mangga bawaanku, ?Ke tempat Ibu,? ujarku lagi. Mereka mengangguk. Bulek mengalihkan pandangan ke arah suaminya, mereka saling tatap, kemudian menghujamku dengan rasa iba.
?Ibumu?..? Bulek tidak meneruskan kata-katanya. Paklek Darsam menunduk.
?Ada apa tho, Bulek?? aku penasaran. Sekeranjang mangga itu kuletakkan begitu saja. Aku menunggu terusan kata-katanya.
?Ibumu, nduk?.?
?Kenapa, Ibu?? Aku semakin ingin tahu.
?Kepaten*!?
*

Masih menatapi belukar dan membirama derik Jangkrik, ibu menggoyang-goyangkan kursinya yang renta.
Aku undur diri keluar kediamannya. Kutatapi Ibu dari seberang jalan kecil menuju Desa Rengkok, aku meninggalkannya sementara, membiarkannya menenangkan diri. Toh, ia juga terbiasa sendiri, bahkan ketikaku bayi pun, ia sudah menjadi orang tua tunggal. Bapakku meninggal semenjak aku belum dilahirkan.
Ubannya kian memutih, aku tahu.
Tubuhnya kian ringkih, aku tahu.
Tapi aku masih belum bisa memenuhi permintaannya: nikah. Aku belum siap.
Kutinggalkan alunan Jangkrik dan rimbun belukar untuk suatu ketenangan, pun ketenangannya. Kutapaki jalan tanah berumput menguning dengan pohon-pohon yang meranggas.
Sebenarnya aku menunggui ketenangan, menanti kedamaian.
*

Jauh, tidak. Tidak begitu jauh dari rumah yang beberapa bulan lalu kutinggalkan, terbaring jasad seorang renta yang dulu mengasuhku: Ibu.
?Ibuuuuu?? aku memanggilinya. Jasad itu sudah termakan rayap dalam perut bumi, aku tahu.
Kukeruk sia-sia tanah yang sudah mengeras itu, berharap bisa meraih tangannya, kumintai ampunan. Terlambat. Ruhnya sudah menemukan ketenangan, kedamaian di alam sana.
Aku hanya memeluki kuburannya, menyesali kepergiannya.
Tidak kuduga bisa selekas ini, kira-kira aku hanya meninggalkannya untuk suatu kesepakatan: aku dan Ibu sepaham dalam menyikapi pernikahan. Ternyata tidak. Sampai detik ini kami masih bersimpangan jalan.
?Ibumu kepaten minggu kemarin, nduk.? Bulek Kasminah dan Paklek Darsam tiba-tiba di belakangku. Tak kupedulikan, aku hanya memeluk hampa pekuburan Ibu.
?Kami tidak tahu keberadaanmu,? Paklek Darsam menambahi, aku masih melanglang bersama memori tentang Ibu.
Bulek sesenggukan, aku berhampa. Bahkan untuk menangis pun tidak sempat. Aku terlalu tidak percaya jika semua harus secepat ini.
*

Kuburan di halaman belakang itu terlihat tenang. Rimbun belukar mulai merambatinya beberapa waktu kemudian. Derik jangkrik seakan menyanyikan lagu selamat jalan. Aku selalu menatapinya di sore hari, saat Matari sedang cerah-cerahnya, dan cericit pipit menengarai indahnya. Aku suka menatapinya seperti itu.
?Ibu..?
Kupanggil dalam diam, berharap ruhnya menemuiku. Aku masi ingat ingin menghadiahkannya mangga, buah kesukaan lalu memohon ampun. Aku tahu telah menyakitinya, atau ia telah menyakitiku, entahlah. Tuhan sudah mengariskan, hanya terbilang usia, akhirnya salah satu harus mengalah dan bepulang, sedang yang lain harus menyesal. [ ]

Jakarta, 18 Maret 2009
Untuk seseorang yang kukenal sebagai Ibu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *