Estetika Lokal dalam Sastra Kita

Neli Triana
http://www2.kompas.com/

Ketika Sutardji Calzoum Bachri berkumpul dengan Ahmad Tohari, dibumbui kehadiran tokoh-tokoh sastra seperti Hamsad Rangkuti, Taufik Ikram Jamil, Melani Budianta, Budi Darma, dan Gus tf Sakai, perang karya sastra rupanya seru untuk diikuti.

Bukan perang fisik yang membuat dada berdegup kencang, melainkan diskusi seru tentang estetika lokal dalam karya sastra Indonesia. Diskusi ini merupakan rangkaian acara dalam Kongres Cerpen Indonesia IV di Pekanbaru, 26-30 November 2005.

Mencuplik sedikit kisah dalam Ronggeng Dukuh Paruk, Ahmad Tohari melantunkan kesederhanaan kehidupan daerah terpencil, lengkap dengan kondisi desa yang sedemikian miskin. Penokohan Srinthil, si ronggeng yang bermetamorfosis dari seorang gadis lugu menjadi penggerak kehidupan desanya di pelosok Jawa Tengah, begitu realistis digambarkan oleh Ahmad Tohari.

?Saya selalu mengangkat kawasan pedesaan miskin lengkap dengan tokoh-tokoh yang di luar kebiasaan. Seperti Srinthil yang kemudian dikisahkan menjadi gila di akhir cerita. Memulai nuansa lokal, nuansa pedesaan, menjadi inspirasi yang terus dapat dikembangkan,? kata Ahmad Tohari.

Senada dengan Ahmad Tohari, Taufik Ikram Jamil mengungkapkan kondisi tanah kelahirannya, Riau. Riau dengan kandungan minyak bumi di dalam lapisan tanahnya, hamburan kelapa sawit di permukaannya, sejak 10 tahun terakhir menahbiskan dirinya sebagai negeri kaya. Namun, tak disadari kemiskinan tetap terjadi di mana-mana dan di segala bidang.

Kemiskinan materi menghinggapi 22 persen dari total empat juta lebih penduduknya. Sebagai pusat Kerajaan Melayu hingga seabad lalu, ternyata kini perkembangan budaya Riau dinilai tertinggal jauh dengan Malaysia dan Singapura.

Taufik, budayawan dan juga dikenal sebagai sastrawan Riau angkatan muda, begitu bersemangat ketika menyatakan dirinya tak ingin kenyataan tersebut terus mengiringi Riau. Taufik berkeras ingin kembali mengingatkan fakta sejarah mengapa Riau terkotakkan menjadi daerah pinggiran.

?Persoalan awal yang menghancurkan Riau adalah adanya Traktat London tahun 1824. Perjanjian antara Inggris dan Belanda itu memisahkan Riau dengan Singapura dan Malaysia yang sebelumnya bersatu. Dalam perkembangannya, Riau hanyalah menjadi kampung pinggiran sebuah kawasan bernama Indonesia,? kata Taufik.

Situasi sosial politik Riau kala itu tergambar jelas dalam setiap karya seniman maupun sastrawan lokal. Kisah masa lampau di Negeri Lancang Kuning ini hampir semuanya mengisahkan kebimbangan orang-orang penghuninya. Kondisi tersebut jelas terpampang dalam pengambilan setting yang lekat dengan karya puisi, roman, maupun cerpen. Salah satunya adalah karya-karya Soeman HS.

Pada pembukaan Kongres Cerpen Indonesia IV, Sabtu (26/11), Taufik yang juga Ketua Dewan Kesenian Riau (DKR) pun memperkuat pendapatnya tentang kondisi Riau dengan membacakan cerpen karya Soeman HS berjudul ?Pilu?. Aktualisasi cerpen yang dilafalkan dalam kekuatan mimik muka sesuai jiwa kesedihan serta gugatan dalam cerita dibawakan apik olehnya.

Makin tersisih
Mencermati dunia sastra Indonesia saat ini, baik Ahmad Tohari maupun Taufik Ikram Jamil sepakat bahwa nuansa lokal makin tersisih dalam karya sastra Indonesia, terutama dalam cerita pendek atau cerpen. Para cerpenis mulai kehilangan kepekaan terhadap alam sekitarnya.

Ahmad Tohari pun menyebutnya sebagai sebuah pengkhianatan yang nyata. Dia menekankan pilihan mengangkat realisme sosial sebagai latar belakang karya sastra tidaklah buruk, tetapi pengayaan karya serasa mandek ketika tidak ada eksplorasi terhadap nuansa lokal. Cerpen-cerpen masa kini terlalu didominasi nuansa urban yang kemudian memunculkan karya-karya massal tanpa dilengkapi identitas tersendiri.

Nuansa urban tidak dimungkiri memiliki daya tarik tersendiri untuk selalu dieksploitasi karena hampir semua tempat kini terkena sindrom sebagai kawasan urban yang memunculkan segala persoalan sosial maupun terjadinya gegar budaya.

Sutardji menegaskan bahwa estetika lokal merupakan mazhab tersendiri dalam dunia cerpen Indonesia. Tidaklah salah ketika kemudian muncul mazhab lain yang dianut para cerpenis. Akan tetapi, ketika semua cerpenis hanya melihat pada satu sisi, sisi urban misalnya, hal tersebut amat disayangkan karena akan memunculkan hiperbola penggambaran yang terkadang memuakkan.

Prihatin mengenai problematika dalam dunia cerpen inilah yang mengilhami pihak panitia Kongres Cerpen Indonesia IV mengangkat tema estetika lokal dalam cerpen Nusantara. Diharapkan, dari hasil kongres ini akan kembali memicu kreativitas cerpenis Nusantara untuk menggali estetika lokal dalam karya-karyanya. Sastrawan selalu memiliki kepentingan atas masyarakat dan dunia di sekelilingnya. Problem lokalitas pun mau tidak mau akan selalu muncul.

?Pada kongres kali ini sengaja estetika lokal menjadi tema sentral. Kegiatan ini bertujuan memotivasi para penulis cerpen agar membubuhkan arti penting estetika lokal, dalam pengertian budaya bukan melulu politik yang tertuang dalam karya-karyanya. Makna lokalitas bukan sempit merujuk pada budaya masyarakat tertentu, tetapi lebih bersifat komprehensif,? kata Ketua Umum Kongres Cerpen Indonesia IV Syaukani Al Karim.

Penyelenggaraan kongres ini juga bertujuan mengajak masyarakat menyadari realitas miskinnya budaya membaca di Indonesia. Meski sebenarnya sarat arti serta sumber pencerahan, masyarakat tetap saja kurang bisa menghargai karya sastra yang tertuang dalam secarik kertas sederhana. Sejalan dengan tema dasar, mengangkat estetika lokal, diharapkan cerpen Indonesia masa depan akan lebih akrab dengan kehidupan masyarakat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *