Gapura Lain

S.W. Teofani
http://www.lampungpost.com/

KEMUDIAN aku menatap gapura itu semakin samar. Menjauh di antara kabut dan awan. Tapi aku tak punya sayap menujunya. Berpaling pun aku tak sempurna. Aku diam. Mematung diri dalam limbung nyata.

Di sini, di pulau ini aku menunggumu. Tempat yang tak bernama dan tak berupa. Laman yang menghantarkan kita menikmati setiap musim cinta. Menempuh segala liku tawa dan prahara. Ceruk cadas telah kita lalui, puncak perih pernah kita daki. Taman mimpi yang dipindahkan Tuhan dari Firdaus juga kita singgahi. Namun kau membiarkan semua tak berujung. Aku pun tak mengubah apa yang kau ingin. Diam, lebih kaku dari geming patung Lokitesvara.

Masih satu naskah belum kita baca. Lontar abadi yang menghantarkan membuka manuskrip lain yang lebih memesona. Dan kau, menyerah tandas pada kenyataan. Meninggalkan seluruh tapak dengan ceceran darah yang masih segar. Berharap tilas itu mengering dan hilang. Tidak, darah itu tetap segar. Tapak itu tetap basah. Dan setiap kita menengok ke masa lampau, seluruhnya memanggil untuk kembali.

Tapi kau berjalan lurus menuju altar lain. Seolah tak pernah menuju gapura itu. Aku memekik memanggilmu. Suara itu serupa gaung yang memantul di cadas waktu. Aku menangis hingga bulirnya manjadi kristal rindu. Tapi tak jua mampu menghiasi kusamnya perjalanan waktu.

Aku mengejar seluruhmu, hingga peluhku menjadi getah yang menyalakan pelita kehilangan. Tapi pendar itu tak mampu menerangi selubung hatimu.

Aku bersimpuh, tertengadah, mengharap kau tak lupa jalan pulang. Tapi tabir tertutup sempurna. Mendung semakin pekat. Dan aku bertahan menunggu hujan yang mungkin membawa pesan darimu. Meski setiap bulirnya membatu, menjadi salju yang yang membekukan tetes harapan. Dari jutaan rinai, tak satu pun mengabarkan halmu.

Aku mencari rupa gapura yang pernah kita tuju, yang pernah kita inginkan. Ia lindap sempurna, rupanya pun sulit kuingat. Tapi hatiku masih teguh, dia pernah dan selalu ada.

Lalu aku memainkan hujan salju yang mengkristalkan seluruh mimpi. Berharap pada matahari, yang dalam diamnya mampu melelehkan salju. Berharap kepada angin, dengan kelembutannya mampu menipiskan kabut. Berharap kepada cahaya di atas cahaya, yang mampu menjadi penerang tanpa cahaya.

Kubayangkan lelahnya patung-patung bertengger di monumen, tapi aku tak pernah lelah meski mematung seabad lagi. Hatiku merisaukan sepinya rembulan di luasnya langit, tapi aku bertahan meski tersesat pada selaksa kesunyian.

Karena sunyi yang kupilih, bukanlah sunyi yang menyakitkan. Ini adalah kesunyian yang didamba para sufi pada sahara yang jauh. Ini adalah sunyi yang memerah elan pancarian. Andai yang kutunggu tak juga hadir, ketakhadiran itulah yang selama ini kunantikan.

Aku tak pernah mengatakan itu kesia-siaan. Karena sia-sia adalah sesuatu yang hadir dan tak kita ingin. Sementara hati tak jua ikhlas menerima hadirnya. Sedang kesunyian ini adalah pilihan, dari pencarian panjang yang masih menagih kesabaran.

Lalu aku lelah mencari padanan kata tentang halku. Pasrah di pusara waktu. Hingga sosokmu lenyap. Tapi ruhnya mamasung hati untuk berkata, gapura masih ada, hatimu masih di sana.

Sosok lain menyapa, menawarkan pesona nyata. Dia mengulurkan seluruh kebajikan. Memapahku menuju gapura lain. Dalam diam, dia mencoba membalut luka. Dengan ketenangan sebanding telaga, dihapusnya jejak langkah yang pernah tercipta. Aku kembali terpaku, sosoknya tulus sempurna.

Tapi hatiku meronta, menanyakan di mana kau ada. Tidakkah ingin kau jaga aku untuk memasuki gapura kita. Ikhlaskah hatimu melihatku menapaki tangga gapura lain, dengan jiwa lain? Aku mulai mengeja. Menabuh genta nelangsa. Mungkinkah dirimu telah menuju altar itu dengan sempurna, dan melupakan semua jalan gapura?

Aku kembali diam, membiarkan awan tipis berarak perlahan. Karena esok atau nanti dia akan menjadi gumpalan mendung yang meneteskan hujan. Rinai adalah harapan. Bukan tentang kebekuan jiwa, melainkan musim semi yang mengharukan.

Malam-malam setelah angin membawa gemawan, menjadi kumpulan gemintang tanpa pinanda. Kutetap mencari rasi yang mengabarkan keberadaanmu. Tapi setiap wuku menyimpan barisan rahasia. Setiap lambang yang tertera, tak satu jua mengabarkan ujung penantian. Ingin kusudahi mencari teki hitam di gelap malam, mengapa radar hatiku enggan.

Di endapan yang paling dasar, ada prasasti yang terbuat dari pualam, digores tinta darah; kesabaran masih panjang…jangan berhenti menanti. Jika hidup ini kumpulan harapan, mengapa kau lelah mengharapkan yang terindah.

Aku memecah sunyi, dengan sebait kidung hati; jika yang terindah adalah milik Pencipta, mengapa aku masih menghendakinya. Dia yang memberi, biaralah Dia mengambil kembali. Di atas keindahan yang kita kehendaki, ada yang lebih indah; sebuah penyerahan kaffah pada kehendak-Nya. Lalu sekumpulan awan menipis, lenyap mengasap. Meninggalkan angin tanpa jejak.

Aku tersenyum pada jiwa tenang yang menawarkan gapura lain. Setenang telaga. Airnya begitu jernih, hingga menghitam. Aku bermain-main di tepinya, kadang membasuh kaki dan tangan sambil bernyanyi. Lagu yang sangat lirih, selirih sepoi di pagi yang ranum. Kadang aku mengira-ngira, seberapa dalam telaga ini? Mampukah aku berenang atau meneguk kala haus?

Kala ngungun itu semakin jauh, aku mengeja kemungkinan menjadi teratai putih yang tumbuh di tengahnya. Menyempurnakan seluruh yang disebut telaga. Lalu, setiap yang tandang meresapkan damai. Telaga tenang dengan keindahan teratainya. Tempat melepas penat jiwa-jiwa lelah. Tempat menghempas segala resah.

Mungkinkah takdir menuntunku menjadi terai putih, melupakan agung gapura di awan yang jauh. Jika ini yang terbaik, akan kulupakan setiap jejak kita. Kuhapus setiap peluh yang membasahi tangga gapura. Dan kulindapkan seluruh cerita tentang gapura pada mimpi yang paling jauh.

Suatu ketika, kau akan datang di telaga ini. Mendapatiku tersenyum di pagi hari. Dengan anak-anak tertawa penuh damai. Setiap hari mereka berencana untuk menjadi teratai tercantik di tengah telaga.

Telaga di mana aku dan anak-anakku tumbuh akan bercerita kepadamu, tentang luka tumbuhan teratai yang telah mengering. Kini teratai itu menjadi anugerah yang keindahannya melebihi mimpi-mimpi tentang gapura di masa lampau.

Lalu kau terdiam, mengharapkanku melanjutkan perjalanan. Menuju gapura yang telah kulupakan. Aku menatap telaga tenangku, dia mengerling, dan berkata, “Terataiku, apa artinya telaga tanpa teratai.” Dan aku menjawab penuh sungguh, “Bagaimana teratai bisa hidup tanpa telaga.” Lalu kami saling melempar bahagia.

Maka pergilah, dan jangan termangggu di pinggir telaga jika ingin kau petik teratai. Tapi datanglah, jika kau ingin melepas gundah dan menikmati keindahan teratai dan kebijakan telaga.

Bandar Lampung, 26 Maret 2009

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *