Kekuatan Cerpen

Retno Sulistyowati
http://www.tempointeraktif.com/

Plong! Harris Effendi Thahar lega sudah. Otot mukanya rileks, tak lagi tegang. Senyumnya lebar dan tawanya lepas. Disertasi yang telah dikerjakannya selama sekitar enam bulan akhirnya rampung dalam sidang terbuka Senat Universitas Negeri Jakarta, akhir pekan lalu. Hasilnya, dia dinyatakan lulus dengan predikat sangat memuaskan.

Harris adalah penulis cerita pendek yang juga dosen bahasa dan sastra Indonesia di Universitas Negeri Padang. Karya-karyanya banyak dimuat di harian nasional. Sebagian karya lainnya telah diterbitkan, antara lain Lagu Sederhana Merdeka (1976), Kiat Menulis Cerita Pendek (1999), Bendera Kertas dan Daun Jati, serta Si Padang. Sejarah sastra juga mencatat, pada 1986, polisi membubarkan kegiatan mahasiswa di Yogyakarta yang membaca karya Harris berjudul Pemilihan Umum dan Langit Makin Mendung karya Ki Panji Kusmin.

Dalam disertasinya, Harris menilik cerpen-cerpen pilihan yang pernah dimuat harian Kompas pada 1992-1999. Di era Orde Baru itu pemberitaan media massa sangat diatur. Karya yang dianggap mengganggu stabilitas nasional dilarang beredar. Namun, ini tidak terjadi pada cerpen. Karya sastra jenis ini tetap bebas melenggang kendati mengungkap kekerasan yang dilakukan penguasa.

Ini lantaran cerpen menggunakan bahasa simbolik. Sejumlah pihak yang tidak mengerti cenderung menganggapnya nonsense. Cerpen juga bersifat fiksi (rekaan) sehingga sulit digugat. Karena itu, menurut dia, cerpen adalah alat yang efektif untuk merefleksikan segala realitas sosial. Kelebihannya, apa pun yang ditulis dalam bentuk cerpen relatif lebih aman, walaupun mengandung kritikan pedas terhadap penguasa. “Belum pernah ada sejarah koran dibreidel gara-gara cerpen,” ujarnya.

Tema disertasi itu sengaja dipilih karena, berdasarkan pengamatannya, kekerasan justru merebak di mana-mana pasca-Orde Baru. Namun, bentuknya berbeda dan tidak didominasi pemerintah saja. Dia mencontohkan proses pemilihan kepala daerah di Bengkulu yang kisruh dan berujung pada pembakaran kantor. Dia menganalogikan kekerasan itu seperti spiral (per). “Bila ditekan, pada suatu saat dia akan berbalik melakukan kekerasan dengan kekuatan yang sama,” katanya.

Harris lahir di Tembilahan, Riau, 4 Januari 1950, dari keluarga perantau Minang. Dia anak ke-8 dari 11 bersaudara. Kemampuan menulis sastra dipelajarinya secara otodidak.

Masa kuliah yang banyak waktu luang dimanfaatkannya untuk bekerja sebagai wartawan di surat kabar mingguan Canang. Alhasil, kuliahnya kedodoran. Hingga, untuk menamatkan sarjana muda saja dia membutuhkan waktu tujuh tahun.

Tidak tamat sarjana, sudah menikah, dan susah mencari kerja membuat Harris menerima tawaran pekerjaan apa saja, termasuk menjadi teknisi di Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Padang. Kariernya meningkat perlahan sampai menjadi kepala perpustakaan. Pada saat menjadi anggota staf hubungan masyarakat, dia banyak menghadiri undangan. Namun, kegiatan menulis tetap digelutinya. Rektor pun tertarik dan memintanya melanjutkan kuliah S-1 di fakultas sastra, lalu dilanjutkan dengan S-2.

Pada 1995, dia diangkat menjadi dosen tetap di IKIP, Padang. Pada tahun itu juga, ketua departemen humanis Australia datang ke Padang dan menawarinya mengajar di Negeri Kanguru. Tanpa ragu, kesempatan itu diambilnya, menjadi dosen tamu mata kuliah bahasa dan sastra Indonesia pada Jurusan Humanities Universitas Tasmania, Australia. Yang paling mengesankan, kata dia, apresiasi mahasiswa di sana terhadap karya sastra Indonesia sangat bagus.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *