Pemuda dan Krisis Ideologi

Umaruddin Masdar
http://www.bernas.co.id/

R WILLIAM LIDDLE, ahli Indonesia dari Amerika Serikat, pernah menyatakan, membayangkan suatu masyarakat tanpa ideologi adalah sama dengan membayangkan suatu masyarakat tanpa konflik dan suatu bangsa tanpa harapan, suatu keadaan yang tidak akan ditemukan pada masyarakat kontemporer manapun (lihat R William Liddle, “Modernizing Indonesian Politics”, dalam Political Participation in Modern Indonesia, 1973: 177).

Liddle menambahkan bahwa ideologi menghasilkan suatu peta realitas sosial yang bisa membedakan penyebab penting perilaku manusia dari yang tidak penting, menjelaskan bagaimana masa lalu telah membentuk masa kini dan bagaimana masa kini akan membentuk masa depan. Ideologi juga memberikan arah tindakan yang dirancang untuk mencapai masa depan yang diinginkan.

Begitu penting ideologi bagi suatu masyarakat, sehingga bisa dikatakan bahwa krisis multidimensi yang terjadi dalam suatu masyarakat bisa dilacak dari krisis ideologi yang sedang terjadi pada masyarakat bersangkutan.

Salah satu bentuk krisis ideologi bisa dilihat dalam gaya hidup (life style) dan pemikiran kaum muda atau pemuda Indonesia akhir?akhir ini. Gerakan pemuda atau mahasiswa mengalami disorientasi, tanpa konsep dan arah yang jelas dan kehilangan semangat revolusionernya. Pemuda terjebak dalam gaya hidup yang selalu mengikuti trends, mulai dari cara berpakaian, gaya rambut, model alat komunikasi, dan lain sebagainya. Tradisi berpikir kritis dan etos perjuangan sebagaimana diperankan pemuda Indonesia pada awal abad ke?20 sudah tidak terlihat lagi.

Krisis ideologi di kalangan pemuda setidaknya bisa dilacak dari dua fase deideologisasi berikut. Pertama, pemuda atau kaum muda Indonesia saat ini adalah produk dari proyek depolitisasi kampus yang dilakukan pada zaman Orde Baru. Depolitisasi menyebabkan kaum muda menjadi buta huruf secara total dalam hal politik dan ideologi.

Depolitisasi kampus dilakukan dalam bentuk kebijakan pemerintah yang membubarkan Dewan Mahasiswa pasca peristiwa Malari tahun 1974. Menteri Negara Pendidikan dan Kebudayaan (P dan K) waktu itu, Daoed Yoesoef, melanjutkannya dengan kebijakan Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK). Kebijakan ini masih dilanjutkan Menteri P dan K penerusnya, Nugroho Notosusanto dengan konsep transpolitisasi.

Kalaupun mahasiswa dan pemuda secara umum mengenal atau dikenalkan dengan politik, maka apa yang dipahami tentang politik sangat formal?prosedural dan hitam?putih. Pemuda cenderung memahami politik sebagimana mereka memahami dunia profesi, di mana kalau mereka berpolitik akan dibayar sesuai dengan pekerjaannya, bukan politik sebagai alat perjuangan atau panggilan hidup.

Proyek depolitisasi kampus ditopang oleh kebijakan politik massa mengambang (floating mass). Kebijakan masa mengambang merupakan upaya melumpuhkan politik sebagai gerakan (movement), terutama yang muncul dari masyarakat. Yang dibangun adalah elitisme, yaitu politik adalah urusan sekelompok orang di kalangan elit, sehingga asas perwakilan harus diterima sebagai keharusan. Kelemahan dan kegagalan sistem perwakilan selalu ditoleransi dengan apologi rendahnya kualitas sumber daya manusia politik yang mengisi lembaga?lembaga perwakilan itu.

Kedua, pemuda masa kini adalah korban dari industri kebudayaan kapitalisme yang konsumeristik. Sebuah survey yang dilakukan beberapa waktu yang lalu misalnya menyebutkan bahwa makanan dan minuman favorit anak muda Indonesia adalah KFC, McDonald’s, Coca?Cola dan Pepsi. Ada perasaan “ketinggalan zaman” atau “tidak gaul”, jika mereka lebih menyukai makanan dan minuman tradisional.

Krisis ideologi sendiri merupakan gejala yang umum di beberapa negara sejak satu setengah dasawarsa terakhir. Terutama sejak rezim kapitalisme menjadi satu?satunya inti ideologi dalam sistem dunia, beberapa negara mengalami krisis ideologi karena kegagalan kapitalisme di satu sisi dan hancurnya budaya setempat di sisi lain.

Ideologi kapitalisme terbukti gagal diterapkan di Dunia Ketiga, termasuk di Indonesia, karena secara faktual perekonomian di kawasan ini benar?benar carut?marut, kalau bukan hancur. Kehancuran itu terjadi karena Dunia Ketiga sebenarnya dirampok, dan utang yang sekarang mereka tanggung adalah akibat dari perampokan tersebut dan akibatnya yang terus berkelanjutan. Negara?negara Dunia Ketiga tidak hanya dirampok secara material, tapi juga kebudayaan mereka dihancurkan dan proses pembangunan diselewengkan dari mulanya yang melayani kesejahteraan penduduk menjadi sebuah proses pengambilalihan yang tidak kentara namun brutal (Michael Rowbotham, Goodbye America: Globalisation, Debt and The Dollar Empire, 2000, hlm. 10?11).

Dalam segi pemikiran, pemuda Indonesia bisa dikatakan sudah sangat terbaratkan (westernized), tercerabut dari akar budayanya sendiri. Tradisi keilmuan dari Barat dianggap sebagai rujukan yang paling benar dan ilmiah, sementara tradisi keilmuan lokal disebut mistik dan irasional. Putusnya pemikiran pemuda dengan tradisi masa lampau masyarakatnya sendiri mempunyai konsekuensi tersendiri terhadap sikap dan pemikiran pemuda, terutama pada munculnya kepribadian reaktif dalam memahami dan menyikapi suatu persoalan yang muncul di tengah masyarakat.

Sikap demikian muncul karena pemuda kehilangan nilai?nilai yang menjadi pegangan dan orientasi bagi kehidupannya. Mereka memang sangat akrab dengan nilai?nilai liberal?kapitalisme, tetapi kedekatan itu bukan dalam manifestasi pemahaman yang utuh atas ideologi tersebut, melainkan kedekatan yang menunjukkan bahwa mereka adalah korban dari proses hegemoni ideologi itu.

Menarik sekali apa yang dikatakan oleh Hasyim Wahid (Kompas, 28 Mei 2000) tentang bagaimana kaum muda dan kelas terdidik Indonesia memahami modernitas. Menurutnya, modernitas sebenarnya merupakan suatu state of mind, keadaan pikiran, bukan sekadar life style. Kita sering keliru dan terbalik dalam memahaminya dengan menganggap modernitas sebagai life style. Kita bandingkan misalnya dengan tradisi Perancis. Orang Perancis membangun tradisi berpikir yang panjang mulai dari zaman Voltaire, yang diungkapkan lewat macam?macam bentuk sastra. Lalu ketika ada infrastruktur, dalam hal ini kafe?kafe tempat mereka nongkrong bertukar pikiran, lahirlah para pemenang Nobel Sastra seperti Albert Camus dan Jean Paul Sartre. Kalau di Indonesia tidak demikian yang terjadi. Tradisi berpikir tidak dibangun, demikian juga tradisi filsafat dan sastra, yang dibangun hanya kafe?kafenya. Makanya kita tidak pernah dapat pemenang nobel sastra, yang banyak muncul hanya para penghibur malam.

Dengan demikian, krisis ideologi yang terjadi sebenarnya juga merupakan krisis pemikiran dan imajinasi kolektif pemuda. Mereka bukan hanya tidak bisa merancang masa depan, tetapi juga tidak bisa membedakan mana hal yang penting dan mana yang tidak penting. Semua energi dan pikiran dihabiskan bukan untuk memenuhi apa yang mereka butuhkan (needs) tetapi apa yang mereka inginkan untuk mengikuti trends, yaitu hasrat untuk mengikuti perkembangan gaya hidup anak muda pada umumnya tanpa kendali atau memenuhi desire. Kecenderungan ini menyebabkan hilangnya etos dan idealisme, dan pada saat yang sama menyuburkan konsumerisme dan hedonisme.

Itulah persoalan penting yang harus disadari sejak dini oleh semua pihak. Karena kalau pemuda yang akan mewarisi masa depan sudah mengalami krisis sedemikian akut, maka sejarah bangsa dan masyarakat kita ke depan juga akan penuh dengan problematika yang jauh lebih kompleks dari apa yang terjadi saat ini. Sudah waktunya dirumuskan bentuk?bentuk ideologisasi gerakan pemuda yang sesuai dengan tuntutan perubahan zaman dan juga sesuai dengan semangat kaum muda masa kini.***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *