Puisi-Puisi Budhi Setyawan

http://oase.kompas.com/
MEREBAHKAN SEPI

selamat kembali ke dalam kebun
tumbuhnya sajak merona jejak
menidurkan sepi yang letih jaga
dan lumut masih merayapi wajah zaman

sampai bertemu lagi
di gemericik lingkar kelopak kata

Jakarta, 19 Pebruari 2008

EPILOG MASYGUL

taring halilintar menerkam cabik
lidah jeritmu yang bagai cicit anak unggas
samar-samar sayup
tak memberimu percik bias kamar sekedar sembunyi
sebentar
ketika hari-hari leleh mengelupas menjadi kebodohan yang berkarat
semua wajah menanti tajam mantramu untuk
memangkas gunung mengurug lembah

dan sebuah kisah terbakar
karena sumbu berminyak menjuntai ke gambar kusam silsilah api
tanpa sisa tanpa jejak
segala kelebat sayap lenyap

Jakarta, 22 Pebruari 2008

REPUBLIK DENDAM

mengapa wajah ken arok yang selalu terbit
di saat riuh dinding pun bercakap tentang
pemimpin negeri
ini negara republik, malah mengaku demokrasi
namun selalu suka berwarna dan beraroma kerajaan
berduyun-duyun dan mengekalkan bangga
dengan menekuni tuah kutuk empu gandring
mengembangbiakkan dendam tak berkesudahan

apa yang dicari?
kebingungan menganyam kebingungan
kegamangan demi kegamangan
oh malang melintang keangkuhan dalam kebodohan
bercuap-cuap ucap sendiri
tak disadari tak didasari arah angin
tak dimengerti bertubi-tubi

suka mabuk amuk kecamuk
terperosok pada lautan otak membusuk
silau kilau emas kemasan
bolong melompong barisan tong kosong
menyimpan api-api yang siap bakar
lantak menyeruak tukak-tukak
sejarah zaman yang rusak
tersisa patung dengan mata terbeliak

Jakarta, 23 Pebruari 2008

YANG MENUA DI STASIUN KERETA

ini besi-besi
berkarat
mengeriput tergigil termangu
membingkai lusuh memburu
relief tarian
batu

kereta rentamu melukis dulu
kepenatan kaca jendela mewadahi butir-butir kisah
yang lepas dari pagut cakrawala

Bekasi, 5 Maret 2008

YANG TIBA-TIBA GELOMBANG

rampak gendang berdentang
berdentam
meniti lengang lorong
di jalan pembuluh

ah, apakah ini kapalmu yang berlabuh
di tepi subuh?

debar-debar
getar-getar
mawar-mawar
yang dulu terdiam
terpejam
lalu bangkit menari bersama matahari

mari memecah arus sungai
mari menulis lekuk pantai

dengan tinta risau yang
tlah lupa letih
terus menari di riak-riak musim
yang sayapnya mengepak mengembang
di pojok tepi ruang
yang rajin menyimpan temaram

irama ini titisan rindu api kepada panas
mengalun sendiri
menari sendiri

Jakarta, 7 April 2008

ELEGI SENJA TERINGAT PAGI

hujan meliuk gemulai melubangi abad senyap
berburu ayat-ayat yang mekar di jalan
tergenang jerit arus zaman kian seram
di sana orang-orang bertopeng puisi cinta
melarung waktunya di sungai-sungai
berwarna pelangi tanpa rasa
patah jurus cahaya

kampung-kampung kurus kering
papa compang-camping
berjalan mundur di terjal licin
tertatih terseok terhuyung
tersaruk pada lautan onak
berhias luka
bercecer cerita
tak kuasa sekedar melambaikan tangan
buat tapak jejak yang
memanjang
meradang
menghilang
sebelum sketsa-sketsanya terbayang

suntuk
terantuk
hilang tepuk

terkurung
murung
siapa menampung?

Jakarta, 8 April 2008

KATA PENGANTAR

masih tertutup gerbang
rapat bergeming
membeku pandang

belum terkuak
sebaris tabir
menunggu mantra

kapan terbuka
setapak kata
kesiap cahaya

Jakarta, 10 April 2008

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *