Puisi-Puisi Kurniawan Yunianto

http://oase.kompas.com/
CATATAN AKHIR MUSIM

entah sejak kapan angin
mendadak begitu terasa dingin
bikin pecat rasa ingin

lalu menempelkannya ke dinding tiap rumah
di mana kau pernah singgah
tempat saat tinggal telah menemu betah

meski bercerita tentang bunga bunga
dan belantara hutan hijau tua
tapi mengapa selalu bersama airmata

kini ke mana pergi para nabi
yang dulu ikut meneteskan embunpagi
dari dedaunan ke peluk bumi

di penghujung musim
diamdiam ada yang memecat mukim
tak beranjak lalu menyublim

CATATAN TAHUN 2007

nyaris di sepanjang tahun ini
di tiap malam menjelang pagi
ratusan burung silih berganti datang dan pergi

bahkan beberapa di antara mereka begitu betah
menjadikan pohon nangka depan rumah
tempat singgah mukim dan istirah

burungburung itu
riuhkicaunya bikin jiwa risih

burungburung itu
geleparsayapnya bikin hati kian perih

burungburung itu
tegursapanya bikin kalbu makin merepih

aih ternyata penawar rindu sedang menunggu
sungguh begitu dekat tak jauh dari pintu
lalu ke mana dulu aku
kenapa tak pernah tahu menahu

meski banyak orang menginginkannya tumbang
pohon nangka itu hingga kini tak jua ku tebang

ku biarkan saja tetap menjulang
tempat burungburung menanamkan kasihsayang

ada memang yang ingin butuh ku bilang
di banyak air matamelinang
hanya satu yang pantas dikenang
sayang engkau tak pernah datang

CATATAN PINGGIR KALI

di pinggir sungai beralas koran
kau bersimpuh menyandarkan harapan
pada lebih dari lima joran
yang melarik bermata kail dan umpan

di dalam air jauh dari pancuran
berharap kenyang ikan melahap umpan
di mulutnya menancap matakail kekejaman
tersengal ia menjerit pelan

meski di pasar lebih dari sekedar mampu kau beli
tetap saja ikanikan kau kaili pagi ini
tanpa sempat dengar lagi
sumpahserapah yang lolos memaki

ikanikan di lubuk kali
kau memancingnya di siang dan pagi
sambil berdalih belajar sabar menanti
mengapa tapi menyerta tipudaya tak berperi

TAK SEPERTI PASAR

bertambah dan berkurang dipantang benar
semua pas saat ditakar
tidak seperti di pasar
tak ada lagi tawar menawar

begitulah semestinya bagi mawar
siang ini ia harus mekar
meski matahari membakar
dan tak seorangpun membayar

bagi mawar
tetap saja ia harus mekar

ditukarkannya warna merah
dengan secangkir darah
sebelum kemudian layu menyerah
pasrah menjadi sampah

TAK SEPERTI DESEMBER

saat desember hadir
mengguyurkan air
begitu jauh mengalir
menggigilkan akal pikir

aku dan kekasih enggan berpelukan
anak anak sungkan bermain di halaman
kami sibuk menghangatkan badan
menggagapi got dan selokan
kemudian menaburi dengan anganangan
berharap medapat ikan

saat desember hadir
resah dan getir
cemas dan khawatir
begitu mengukir

meski mereka tak sabar dan sibuk menafsir
tak seorang pun tahu kapan berakhir
: di nyaris sepanjang tahun desember hadir

TAK SEPERTI MUSIM PANEN

dulu …
saat kita menyemai padi
dan menanamnya di lubuk hati
dalam ritual hidup bertani
tak ada yang bimbang dengan aniani

kemarin …
pada penantian panjang
menunggu musim panen datang
yang dikata orang
akan mewujudkan harapan dan impian
mengapa tibatiba cemas dan waswas membayang
meski di tiap malam selalu rembulan dan bintang
selalu mantra dan doa
selalu bunga tak lupa dupa

sekarang …
kaupun bilang jangan pernah bosan menanti
kita akan menuainya meski setelah mati
begitu selalu kau ucap di tiap pagi
bersama matahari

ya …
matahari yang itu itu juga
yang kini mulai berkarat
menunggu kapan diperkenankan
terbit dari barat

MENGGEBALAU

di mata silau
di kepala risau
di hati galau
di tangan pisau

ia berteriak parau
meski di dalam surau

berulang ia sebutsebut namamu
terus ia panggilpanggil namamu
namun tak sekalipun ia sebut dan panggil kamu

ia hanya bisa menyebutpanggil namamu
ia hanya dapat meneriakkan namamu
ia benarbenar telah melupakanmu

meski berteriak parau
di dalam surau

di matanya silau
di kepalanya risau
di hatinya galau
di tangannya pisau

sungguh ia tak pernah bertemu engkau

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *