Puisi sebagai Cara Berkomunikasi

Catatan Krakatau Award 2006*

Budi Hutasuhut**
http://www.lampungpost.com/

Bahasa sebagai alat yang dipergunakan penyair untuk menghamparkan fakta-fakta pemikiran dan perasaan atas realitas kehidupan yang ada di lingkungan sosial maupun kulturalnya, mestinya tampil dalam wujud paling tradisional yakni sebagai sebuah cara berkomunikasi, sehingga puisi yang muncul di lingkungan masyarakat tidak lagi dipenuhi ikon-ikon asing (aliens code) dan ganjil.

Ikon-ikon yang selama ini membuat masyarakat luas mengambil jarak dari realitas dunia puisi, menjadi penyebab dunia kesusastraan hanya dunia sebagian kecil masyarakat kita.

Adakah upaya yang dilakukan para penyair ini untuk menyiasati agar dunia kesusastraan menjadi universal, atau semua ini hanya bagian dari tren penulisan puisi yang sedang menggejala di kalangan penyair kita?

Yang jelas, membaca puisi-puisi yang muncul di lingkungan masyarakat akhir-akhir ini, tidak lagi membuat kita mengkerutkan kening untuk menangkap substansi dari setiap ikon yang terpampang di dalamnya. Semua terlihat begitu jelas dan terbuka, sehingga kita bisa tahu makna dari sepotong puisi yang ditulis penyair tanpa harus memperbaiki atau meningkatkan pengetahuan kita tentang teori-teori sastra. Kita tidak perlu membolak-bolik buku-buku teori sastra, atau meng-up grade pengetahuan kita dengan teori-teori baru, jika hanya ingin memahami sebuah puisi.

Puisi-puisi itu sudah mengisahkan tentang dirinya sendiri, dan kita tinggal membacanya. Puisi yang ditulis penyair karena memiliki kesadaran yang sangat tinggi atas teori komunikasi. Dengan kesadaran itu, mereka tahu persis kedudukannya sebagai komunikator, entitas yang harus paham betul karakteristik pembaca karya-karyanya, saat menulis puisi.

Ada frame dalam kepala mereka bahwa untuk “menyampaikan gagasan dan perasaan”, maka pesan itu hanya bisa sampai jika disesuaikan dengan karakteristik khalayak yang ada.

Hakikat komunikasi adalah menyampaikan informasi kepada khalayak agar pesan tersebut bisa sampai kepada audiens, tentu diikuti dengan upaya pendengar untuk berbuat, bertindak, berperilaku sesuai pesan yang disampaikan.

Berangkat dari teori itu, saya berkesimpulan fakta-fakta pemikiran dan perasaan dituangkan penyair dalam bahasa yang disiasati bisa dipahami masyarakat pembaca yang luas, sehingga setiap pembaca karya sastra tidak lagi merasa terperangkap dalam ikon-ikon asing dan ganjil. Dengan demikian, pembaca tidak lagi membutuhkan kehadiran seorang kritikus untuk menjembatani mereka dengan apa yang ingin dikomunikasikan seorang sastrawan dalam puisinya karena puisi itu sendiri sudah berbicara tentang banyak hal secara transparan. Bacalah puisi-puisi Joko Pinurbo yang tak berpretensi membuat pembaca mengerutkan kening kalau hanya untuk menangkap informasi yang disampaikannya. Karena puisi-puisi itu sudah sangat jelas dalam mengusung temanya sendiri, menghamparkan dirinya sendiri.

Pembaca tidak akan berhadapan dengan metafora yang mengalienasi masyarakat pembaca ke dalam kelompok “tahu puisi” dan “tidak tahu puisi”.

Semua masyarakat pembaca berada pada posisi yang sejajar, sebagai entitas yang sanggup mencerap informasi dalam puisi tanpa terlebih dahulu harus tahu teori-teori sastra. Seorang awam akan dengan mudah menangkap informasi dalam kumpulan puisi “Di Bawah Kibaran Sarung” meskipun seorang ahli sastra akan berusaha untuk menangkap hal yang lebih kaya dari substansi puisi-puisi dalam buku tersebut.

Perbedaan tingkat pemahaman itu tidak akan membuat dunia puisi kita menjadi amburadul karena puisi sebagai karya seni sangat terbuka terhadap segala bentuk dimensi kognisi pembaca.

Namun, mereka yang meyakini bahwa bahasa tidak sekadar ungkapan pikiran dan perasaan manusia, tetapi juga cara mengorganisasikan dunia, akan membantah kesimpulan saya ini. Berangkat dari Walter Bejamin, orang akan mengatakan puisi dimulai dengan pengorganisasian dunia kognitif, kemudian bergerak ke pengorganisasian dunia luar.

Bagi Benjamin, pengorganisasian dunia kognitif sudah dilakukan sejak penciptaan unsur dasar sastra seperti metafor yang merupakan perangkat di mana kesatuan dunia secara puitis disajikan.

Tapi, saya cenderung akan menolak puitisasi definisi semacam ini karena pada akhirnya berdampak terhadap bangkitnya persoalan lama tentang “sastra sebagai dunia sebagian kecil masyarakat”.

Puitisasi definisi semacam ini hanya melihat bahasa dari sudut pandang nonformal, sehingga universalitas terbaikan, yang akhirnya puisi menjadi tak berbeda dengan teks-teks atau risalah-risalah filsafat.

Dari 347 puisi yang dikirim 142 penyair dari seluruh negeri (hanya 12 penyair asal Lampung), yang ikut serta memperebutkan hadiah Krakatau Award 2006, saya tidak menemukan puisi dengan kualitas sastrawi seperti diyakini para penganut Walter Bejamin.

Puisi yang benar-benar kuat, setidaknya begitu keyakinan Walter Benjamin, adalah sastra yang akhirnya menyeret kehidupan hanyut meniru separo atau bahkan mungkin seluruh sastra tersebut. Sastra seperti ini, di mana kehidupan berpusar dan mengambil ilham darinya, tegak menjulang dengan bayang-bayang yang melintasi abad dan benua.

Pemahaman terhadap tawaran Walter Benjamin hanya akan menjebak penyair ke dalam dunia yang sangat individual. Dunia yang dipahami para penyair hanya sebagai dunia khas diri mereka, yang memerangkap mereka dalam kesibukan menulis puisi dalam aliens code. Puisi yang sangat mengesankan sebagai hasil dari dunia yang dilanda kaos. Mereka yang paling bertanggung jawab atas merebaknya tradisi puisi gelap di dalam dunia puisi kita, puisi-puisi yang mengalienasi masyarakat luas dari dunia kesusastraan, yang mempertegas pemeo “yang bukan penyair jangan ambil bagian”.

Puisi yang saya temui sebagian besar ditulis dalam kesadaran akan realitas masyarakat pembaca, kesadaraan bahwa puisi adalah salah satu cara berkomunikasi. Kesadaran serupa ini hanya muncul jika seorang penyair telah memiliki frame tentang dunia puisinya, dan memiliki gambaran tentang siapa yang akan membaca puisi tersebut.

Tentu saja hal pertama yang sangat kuat memengaruhi para penyair adalah “bagaimana meyakinkan para juri agar puisi mereka bisa memenangi Krakatau Award 2006”. Lewat tema perlombaan, mereka bisa membatasi diri, dan menyesuaikan isi puisi dengan pembacanya.

Puisi-puisi seperti itulah yang akhirnya memenangi Krakatau Award 2006 karena puisi-puisi seperti itu akan lebih mudah dipahami masyarakat luas.

Apalagi jika puisi-puisi itu dibebani tema yang disiasati untuk mempromosikan segala dinamika masyarakat Lampung kepada seluruh warga bangsa dan dunia. ***

*) Catatan ini bukan sikap tim juri dan panitia Krakatau Award 2006.
**) Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Lampung, Juri Krakatau Award 2006.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *