Sabdatama, Mutiara Jawa

Drs H Budiono Herusatoto*
http://www.kr.co.id/

Hamenangi jaman edan, ewuh aya ing pambudi, melu ngedan nora tahan, yen tan melu hanglakoni, boya keduman melik, kaliren wekasanipun, ndilalah karsa Allah, begja-begjane kang lali, luwih begja kang eling lan waspada.

Terjemahan tekstualnya: Menghadapi zaman gila, serba salah untuk bersikap, ikut gila tak sampai hati, namun bila tidak begitu, tak kebagian rezeki, kelaparan akhirnya, (tetapi) atas kehendak Tuhan, betapapun beruntungnya yang lupa, lebih beruntung yang sadar dan waspada.

TEMBANG Sinom tersebut di atas, merupakan bentuk tembang yang mengandung sabdatama (ungkapan utama) atau kata mutiara Jawa yang azali (perenial) atau asli dan berlaku abadi, yakni dua baris terakhir begja-begjane kang lali, luwih begja kang eling lan waspada (betapapun beruntungnya yang lupa, lebih beruntung yang sadar dan waspada). Apa yang dituliskan oleh R Ng Ranggawarsita tersebut di atas adalah bentuk ?sastra pemberontakan? yang ditujukan untuk mengkritisi situasi, keadaan dan waktu itu (sedang) terjadi di kerajaan Surakarta, pada zaman pemerintahan Paku Buwana V (1820-1823) hingga Paku Buwana VIII (1858-1861 M) Ranggawarsita (1802-1873 M) lair pada masa pemerintahan Paku Buwana IV (1788-1820) dan menjadi pujangga sejak Paku Buwana V (1820-1823) hingga wafatnya pada masa Paku Buwana IX 1861-1893).

?Sastra pemberontakan? itu sendiri sejak awal telah dirintis oleh kakek buyut Rangga Warsita yakni, R Ng Yasadipura I (1729-1802), sejak masa pemerintahan Paku Buwana III (1749-1788( Daya kritis Yasadipura I itu ditunjukkan pada tulisannya Serat Panitisastra, sebuah prosa lirik (gancaran lining) atau ceritera dengan gaya bertelur yang mengkritisi keadaan di lingkungannya, dalam bahasa kramantara (krama lugu) dan ngoko lugu, seperti dikutip oleh S Padmosoekotjo (1960: 155-156) sebagai berikut:

1). Sarjana sujana boten badhe saged kasamaran dhateng ajining kencana ingkang kalingan jejember ingkang nyenyukeri. Samanten ugi kosokwangsulipun, boten badhe kasamaran dhateng sesuker ingkang winadhah ing beri kencana pinatik ing sesotya retna. (Sarjana yang cerdik tidak akan bisa terpengaruh oleh silaunya kekayaan materi yang tidak terlihat kotorannya sebab dipuja-puja? (sehingga menjadi materialistis). Begitu juga sebaliknya, tidak akan terpengaruh dengan segala kekotoran (materi) yang dibungkus dengan pujian yang dihiasi dengan segala bujukan/ucapan yang manis).

2). Yen pandhita ora ambeg lembah-manah lan narima, bakal disawiyah ing saben janma. Nanging yang penjenengane nata ambeg lembah-manah lan narima, nagarane mesthi direbut mungsuh, entek. (Jika pendeta/alim ulama tidak bersifat lapang dada (sabar) dan menerima keadaan dengan rasa syukur, akan dilecehkan oleh semua orang. Tetapi bila sang raja bersifat lapang dada dan menerima keadaan dengan rasa syukur saja, negaranya pasti akan direbut habis oleh musuhnya).

3). Ngapusi juru apus boten barang-barang. Malah kosok-wangsulipun: adol temen marang si julig iku lucu, dadi guyonane bocah cilik. (Menipu tukang menipu (penipu) tidaklah mudah. Bahkan sebaliknya: berbaik hati dan percaya pada si penjahat kondang itu adalah hal yang lucu dan ditertawakan oleh anak kecil.

Ketiga gancaran liring itu tentu saja ditujukan sebagai kritik terhadap situasi dan kondisi di istana Surakarta yang penuh dengan para bangsawan bersifat materialistis, dan raja Paku Buwana III yang lemah sikapnya dan mau dikuasai dan diperalat oleh Kumpeni, yang mengangkatnya sebagai raja Surakarta, sehingga menjadi bahan cemoohan oleh rakyatnya sendiri.

Daya kritis Yasadipura I itu diteladani oleh putranya R N Yasadipura II dan kemudian diangkat menjadi RT Sastranegara, yang hidup semasa pemerintahan Paku Buwana III (1749-1788), Paku Buwana IV (1788-1820) dan Paku Buwana V (1820-1823). Beliau menulis Serat Wicarakeras (artinya bicara dengan nada keras atau mengkritik dengan lugas) kepada Kumpeni Belanda (VOC) dan para anteknya, yakni para bangsawan Surakarta masa itu, dengan menyatakan:

Kumpeni pasthi bingung, nuli ngetung rugi untungipun, yen nekada budine pating kulithik, akele mung ngicuk-icuk, bubusuk kang duwe tabon.

Wong Jawa kurang guyub, nalare agung panting panjelut, ting kathikluk ting kathuwil ting pathithit, yen den gunggung muncu-muncu, kaya wudun meh mecothot.

Datan indhep den bujuk, nuli bingung tan wruh ing lor kidul, lali bangsa padha Islam gelem jurit, dene wong kang mangkononeku, pantese mung nggawa bathok.

Terjemahan tekstualnya: Kumpeni pasti bingung, dan kemudian menghitung rugi-untungnya, bila ia nekat pun akal bulusnya berjumpalitan, pikirannya terus berputar mencari akal, tipu dayanya pun berhamburan, membusukkan para pemimpin yang memiliki kekuasaan. – (melihat) Orang Jawa yang kurang kompak, dan pendapatnya pun melilit-lilit, saling berebut pengaruh, saling jatuh-menjatuhkan/memfitnah, (namun) bila ditunjukkan segala polah-tingkahnya itu lalu mengumpat-umpat, persis seperti sedang merasakan bisul yang hampir pecah. – Tanpa sadar bahwa sesungguhnya ia sedang dibujuki (oleh Kumpeni), namun bengong tanpa mengerti mana yang benar atau salah, lupa kepada sesama Muslim yang terus bertekat untuk berjuang, sehingga orang seperti itu, sepantasnyalah bila hanya menjadi pengemis saja.

Tiga contoh ?sastra pemberontakan? tersebut di atas disuguhkan di sini untuk menunjukkan bahwa para sastrawan yang telah menjadi turun-temurun dari bapak, anak dan buyut (terseling cucu Yasadipura I, atau putra Yasadipura II; R Pajangswara – ayah Ranggawarsita) dari zaman Pujangga Baru abad ke-18 dan ke-19 itu, telah berjuang tanpa ikut mengangkat senjata dalam perang fisik, tetapi berperang melalui goresan kalam (penanya); yang terasa pedih menggores ulu hati dan abadi menjadi bukti (fakta) sejarah yang menunjukkan betapa sikap heroisme mereka itu patut dijadikan teladan bagi generasi muda Indonesia sepanjang masa.

Namun, apa mau dikata bila pada kenyataannya ketiga ?sastra pemberontakan? itu pun berlaku pula sebagai kritik zaman ada masa kini? Dalam ?era zaman perubahan? saat ini untuk menuju era zaman baru yang dicita-citakan akan menjadi zaman yang adil sejahtera, tenteram dan damai, gemah ripah loh jinawi (subur makmur) – tetapi pada kenyataannya, ?sebagian para elite negeri? ini masih berjiwa sama dengan ?para bangsawan kerajaan Surakarta? di zaman VOC, seperti digambarkan dalam uraian di atas. Tidakkah sepantasnya bila ?klien KPK itu? disebut juga wakil rakyat berjiwa pengemis saja? Inikah Zaman Edan?

*) Pemerhati dan penulis budaya Jawa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *