Terlarang akibat Perang Dingin

Judul Buku: Indonesia
Penulis: Bruce Grant
Penerbit: Melbourne University Press, 3rd edition, 1996, Victoria, Australia
Tebal: xii + 248 halaman
Peresensi: Nurul Fatchiati
http://www2.kompas.com/

MESKI terhitung tetangga dekat, hubungan diplomatik Indonesia dan Australia tak selalu berjalan mulus. Sejarah mencatat, berulang kali terjadi ketidaksepahaman antara kedua negara ini terhadap berbagai masalah, terutama yang berkaitan dengan isu seputar wilayah regional Asia Tenggara. Beberapa tahun sebelum masalah Timor Timur ramai dipertentangkan, Indonesia dan Australia telah pernah melalui masa perang dingin karena persoalan konfrontasi Malaysia yang didahului dengan masalah aneksasi Irian Barat.

MENGHADAPI konfrontasi Indonesia terhadap Malaysia tersebut Australia berada dalam posisi dilematis. Di satu sisi negeri kangguru itu harus tetap berhati-hati menjaga hubungan baik dengan Indonesia-negara tetangga terdekatnya di bagian selatan yang berpenduduk banyak dan kaya akan sumber daya alam-tetapi di sisi lain, Australia mempunyai ikatan terhadap Malaysia sebagai sesama anggota Commonwealth atau Negara Persemakmuran Inggris. Namun, akhirnya Australia memutuskan sikap politik untuk mendukung Malaysia dan bersama Selandia Baru mengirimkan pasukannya pergi berperang melawan Indonesia.

Meskipun pada akhirnya konfrontasi yang dilancarkan Indonesia gagal karena Soekarno pada tahun 1965 menghadapi guncangan konflik politik dalam negeri antara PKI dan antikomunisme, posisi Indonesia dan Australia sudah telanjur saling berseberangan. Pascakonfrontasi memang tidak terjadi perang terbuka, tetapi hubungan diplomatik antarkedua negara bertetangga ini kian memburuk.

Kondisi tersebut berpengaruh terhadap berbagai kebijakan di dalam negeri yang diambil Pemerintah Indonesia terhadap hal-hal yang berhubungan dengan Australia. Pun dunia perbukuan tak luput menanggung dampak ketidakharmonisan hubungan antarkedua negara itu. Seiring dengan perang dingin antara Indonesia dan Australia yang telah berlangsung beberapa waktu, pada tahun 1965 Kejaksaan Agung (Kejagung) mencekal salah satu buku karya seorang pengarang Australia. Terhitung sejak 26 April 1965, buku berjudul Indonesia yang ditulis oleh Bruce Grant masuk dalam daftar buku hitam versi resmi Pemerintah Indonesia, dengan surat pembelengguan bernomor 005/KPTS/PERS/1965.

INDONESIA, yang pertama kali diterbitkan Melbourne University Press pada tahun 1964, adalah buku pertama Bruce Grant, mantan wartawan di sebuah surat kabar besar Australia untuk kawasan Asia (1959-1963) yang di kemudian hari meniti karier di jalur akademis dan politik. Pada masa pemerintahan Perdana Menteri Gough Whitlam, ia diangkat menjadi duta besar Australia untuk India dan Nepal (1973-1976).

Buku yang mengambil judul sama dengan nama negara yang ditulis itu, pada terbitan awal sebenarnya lebih merupakan panduan bagi orang yang ingin mengetahui sejarah Indonesia secara umum dan situasi politik, ekonomi, serta sosial budaya Indonesia paruh pertama tahun 1960-an secara ringkas. Hal tersebut ditunjukkan dalam pembagian bab-babnya yang tidak secara spesifik membagi tulisan ke dalam topik-topik khusus, tetapi hanya memilah bahasan ke dalam bab-bab dengan cakupan luas, seperti Politics, Military, Economy, Culture, dan Foreign Policy.

Pada bagian awal, buku ini berupaya menuturkan sejarah bangsa Indonesia secara singkat, padat, dan lengkap. Grant merunut sejarah keberadaan beberapa kerajaan besar seperti Majapahit, Kediri, Sriwijaya, dan Mataram, serta asal muasal penemuan beberapa pulau besar seperti Jawadwipa (Jawa), Sumatera, Borneo (Kalimantan), Celebes (Sulawesi), Moluccas (Maluku), Sumbawa, dan Lombok dengan mereferensi sejumlah literatur sejarah. Ia juga mendeskripsikan selintas kondisi kultural agamis masyarakat serta perjuangan rakyat melawan penindasan Belanda lewat contoh perang Pangeran Diponegoro.

Grant mengisyaratkan bahwa Indonesia adalah buku yang cenderung meninjau negara besar tetangga Australia itu dari perspektif politik. Kendati begitu, buku yang pada terbitan awal berisi 199 halaman ini lebih bersifat deskriptif ketimbang analisis. Pada beberapa bagian, ia menyandarkan penulisannya pada fakta-fakta politik dalam masa kepemimpinan Presiden Soekarno. Ia menjalin peristiwa demi peristiwa politik yang secara umum telah dibahas dalam banyak buku sejarah dan politik Indonesia menjadi satu tulisan yang mudah dipahami, termasuk untuk orang yang baru belajar tentang Indonesia sekalipun.

Sebagai penulis pemula, menurut Australian Book Review, sebuah jurnal bulanan di Australia yang terbit sejak tahun 1961, melalui Indonesia, Grant cukup berhasil menghadirkan buku yang dapat meneropong suatu negara dengan berbagai aspek kehidupannya secara jujur, terus terang, dan simpatik, meskipun ditujukan untuk mengkritik pemerintahan negara yang bersangkutan. Dalam jangka waktu dua tahun setelah terbitan perdana, Indonesia sudah memasuki cetakan kedua. Setahun setelah itu, yaitu pada tahun 1967, buku itu diterbitkan dengan revisi oleh Penguin Books, sebuah penerbit besar yang berinduk di Inggris.

Tahun 1996, atau 32 tahun setelah cetakan awal, Indonesia diterbitkan kembali dengan penambahan. Dalam edisi terbarunya, Grant yang pernah menjabat sebagai Ketua Lembaga Australia-Indonesia (1991) memperkaya isi buku tersebut dengan memperbandingkan era Soekarno dan Soeharto, baik secara politik, ekonomi, penguasaan militer, hingga kebijakan politik luar negeri Indonesia. Ia juga menambahkan satu bab yang berisi hasil wawancara tentang berbagai persoalan bangsa terhadap beberapa orang Indonesia dari berbagai usia dan kalangan: politisi, anggota DPR, aktivis Non Government Organization (NGO), istri seorang anggota PKI, dan karyawan.

Sebagai penutup, Grant yang pernah menjadi penasihat mantan Menteri Luar Negeri Australia Gareth Evans ini merefleksi kembali kesimpulan yang pernah dibuatnya 32 tahun lalu pada edisi pertama dan menambahkan kesimpulan baru tentang masa depan Indonesia pascaera Soeharto.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *