Tetanggaku Cina

Weni Suryandari
http://oase.kompas.com/

?Ma……..Mama, Bu Mita udah pulang!? celoteh yang biasa kudengar setiap kali aku baru pulang mengajar dan baru mau membuka pintu pagar. Rumah yang terletak di hadapan rumahku itu selalu ramai dengan celoteh anak-anak kecil, si kembar dan si bungsu. Ketiganya laki-laki semua.

Aku menengok dan tertawa melihat celoteh mulut-mulut kecil itu. Mereka berebutan naik ayunan bahkan celah-celah pagar untuk bisa mengintipku dari balik pagar yang ditutupi fiberglass
?Iya, kenapa sayang? Ibu masuk dulu, ya?? Aku menyahut sambil membuka pagar.
?Ibu capek ya? Habis ngajar ya?? ah, anak itu sebenarnya santun. Pasti kalimat itu ditirunya dari sang mama. Biasanya sang Mama berada di dalam sambil membaca majalah atau menonton televisi. Papanya masih berdagang di pasar Kecapi, wilayah Pondok Gede, sebuah toko emas miliknya sendiri.

Siang itu, terik matahari meruapkan hawa panas pada tekanan atmosfir yang begitu pengap, menggigit seluruh permukaan kulitku, membuat suhu tubuhku meningkat. Bajuku basah di bagian punggung dan dada oleh keringat yang mengucur deras. Hal pertama yang ingin kulakukan adalah segera masuk ke kamar dan melucuti seluruh pakaian dinasku. Seperti biasanya aku langsung berbaring sambil menikmati udara dingin dari AC kamarku yang sudah dinyalakan oleh anak sulungku yang tiba lebih dulu dari sekolahnya di sebuah SMP di bilangan Halim, Jakarta. Jika sudah begini, aku tak bisa mendengar kicauan bocah-bocah itu dengan jelas, karena jendela tertutup rapat.

Ya. Sebuah keluarga Tionghoa tinggal persis di hadapan rumahku. Keluarga kecil bahagia sejahtera. Terdengar klise, tapi ini fakta. Mareka pandai berbaur dengan lingkungan Pribumi. Suami istri itu tak pernah memikirkan perbedaan warna kulit, mata, agama diantara kami. Aku muslim, berjilbab dan ia berpakaian biasa. Ia sering mengajakku pergi kemanapun yang kami inginkan Kebetulan aku bisa menyetir mobil dan ia belum lancar berkendara di jalan raya. Dari itulah kami saling membutuhkan sebagai teman bercerita selama perjalanan yang biasanya kami tempuh berdua. Ke mal-mal seputar Jakarta bahkan ke Bandungpun kami tempuh sendiri, tanpa dampingan laki-laki, suamiku maupun suaminya. Ia menungguiku melaksanakan sholat di Mushalla mal. Kadang pula kami pergi bersama dengan anak-anak kami.

Bocah-bocah itu, si kembar laki-laki yang sangat lucu berusia 5 tahun dan adik bungsunya yang baru 2,5 tahun. Mereka bergaul dengan keluargaku tanpa memandang bahwa aku berkulit gelap bermata bulat lebar, artinya tidak sipit dan berkulit putih seperti keluarga mereka. Akupun tidak merasa canggung bergaul dengan mereka, karena keterbukaan mereka (atau keterbukaanku juga?) dalam bertegur sapa.

Setiap pagi kudengar suara-suara ribut mereka berceloteh riang hendak berangkat ke sekolahnya, sebuah TK di sekitar perumahan kami. Bahkan pada sore hari, ketika mereka sedang bermain di jalanan depan rumah, terdengar suara mereka dengan bahasa Indonesia yang sangat lancar. Kadang mengetuk-ngetuk pintu pagarku sekedar untuk mengadukan kenakalan adik atau kakaknya. Maklum lingkunganku adalah perumahan kelas menengah, BTN bertipe 45 yang sederhana.

?Pak Kardi…..Pak Kardi………..Tian belum mandi!? Atau, ?Pak Kardi……..Pak Kardi………….Christoper main becek-becekan nih, gak mau pake sandal!? Aku tersenyum lucu. Meski yang dipanggil-panggil adalah suamiku, aku juga yang menyahut karena suamiku belum pulang dari kantor.

?Ayooo………..siapa yang gak mau mandi? Bukan anak pintar kalau gak mau mandi!? barulah yang disebut tadi buru-buru masuk pagar rumahnya, dan bilang,
?Aku mau mandi, aku mau mandi!? sambil terbirit-birit masuk dengan tidak bercelana. Mamanyapun kadang kewalahan menghadapi kenakalan anak-anak itu. Bagiku, anak-anak tetaplah anak-anak. dengan kelincahan dan kepolosan tingkahnya tanpa dipengaruhi dunia pikiran orang dewasa. Tak peduli Cina, Jawa, Ambon, Batak atau Belanda sekalipun. Aku senang karena mereka memelihara wibawaku sebagai Ibu Guru. Mamanya selalu menekankan pada mereka bahwa aku adalah Ibu Guru.

?Awas lo, ada Bu Guru. Nanti mama bilangin ke Bu Guru!? begitu bila didapatinya anak-anaknya sulit makan ketika disuapi. Biasanya mereka menurut dan terbirit-birit masuk rumah dengan berteriak…………
?Bu Mita…………aku mau mandi!? sambil terbirit-birit masuk rumah dengan tertawa riang. Jika mereka sudah mandi, mereka akan memberikan laporan singkat padaku
?Bu……..Toper sudah mandi. Tian juga ! ? Dengan senang hati aku tertawa mendengar perbincangan mereka dari teras rumahku. Aku sama sekali tidak terusik dengan kehadiran mereka, karena mereka adalah tetangga yang menyenangkan dan tak terlalu usil pada tetangga sekitar.

Ci? Abuy, begitu aku memanggil ibu dari si kembar, Christian dan Christoper, adalah sosok yang lugu. Tak terlalu bangga dengan ke-Cinaannya dan tak terlalu perduli tentang perbedaan etnis ini. Suatu hari aku mampir ke rumahnya sepulang mengajar, bercerita banyak hal tentang kejadian di sekolahku.

Kutanyai anak-anak itu,
?Ayo……..mana bukunya, Ibu mau lihat, sudah belajar apa saja? Sudah
bisa nyanyi apa?? Mereka tertawa girang berebutan mengambil tas masing-masing dan menyerahkan buku-buku tulisnya padaku.
?Ini…….ini! Kokoh sudah sampai huruf sa pu! ? Si Kakak menghambur kehadapanku membolak-balik bukunya. Adiknya berebut menyela
?Ini…..ini. Dedek sudah sampai sini!? ditunjuknya deretan huruf sa pi

Aku tertawa mengamati buku-buku mereka. Kusuruh mereka menyanyi satu persatu bergantian, lagu-lagu TK yang biasa dinyanyikan anak-anak sekolah. Mereka segara menyanyikan lagu Pelangi-pelangi, Taman Kanak-kanak, Naik Kereta Api, dan sebagainya. Ah…….mereka lancar membawakan lagu-lagu itu. Lidahnya bukan lidah Cina, meski agak samar pengucapan huruf ?r? nya.

Dengan wajah tulus aku bertepuk tangan ketika mereka selesai menyanyi. Kuberikan soal hitungan di buku mereka masing-masing, berebutan mereka menjawab adu cepat. Sambil tertawa-tawa bangga akan dinilai oleh Bu Guru yang sebenarnya bukan gurunya. Kunilai juga keduanya dengan angka seratus dengan tanda tanganku dibawahnya. Mereka kegirangan dan berebutan duduk disebelahku. Berbagai permen dan makanan disuguhkan padaku. Aku tertawa terpingkal-pingkal. Kubilang, ?Tidak nak……Ibu sudah kenyang!?

Pernah suatu hari anakku yang bungsu berulang tahun. Seperti biasanya aku membuatkan nasi kuning dan kukirimkan pada tetangga sekitar, tanpa merayakannya dengan pesta di rumah. Hanya kusisipkan kata-kata dalam secarik kertas dari komputer bahwa hari ini 15 Desember Qonita berusia 7 tahun. Disertai tulisan permohonan ucapan doa dari tetangga sekitar sebagai penutup pada kartu ucapan itu..

Dua hari setelah itu Ci? Abuy bertandang ke rumahku. Ia amat menyesal tidak dapat membantuku. Dengan ekspresi kecewa ia ungkapkan penyesalannya karena tak membantu. Yah, memang menurutku tak perlu memberi kabar karena aku terbiasa memasak sendiri apalagi dengan lauk yang tak banyak macam.

?Ibu kok gak ngasih tahu saya. ?Kan saya bisa bantuin masak. Kok diam-diam sih?? ujarnya
?Ah, Cuma masak sedikit Ci?! Gampang kok, aku takut ngerepotin kalau minta bantuan!? jawabku tersenyum.

Ia biasa ringan tangan. Jika ia tidak sedang pergi kemana-mana kalau di RT ku ada acara khusus dan kami masak banyak, ia tidak berat hati terjun membantu meski bersimbah peluh di dapur siapapun. Padahal kulit putihnya yang bersih dan wajahnya yang cantik (agak sedikit di bawah Gong Li), sering kuanggap tak patut belepotan masakan dan berbau bumbu. Begitulah keakraban kami dalam bertetangga dengannya. Karena sikap dan pembawaannya, tak ada tetangga lainnya yang merasa keberatan dengan kehadirannya di wilayah kami atau bersikap aneh dan tertutup menghadapinya. Karena kutahu ia memang asyik dalam bergaul. Tidak pernah ada masalah dengan siapapun.

Pagi belum saja beranjak ketika suamiku menerima surat penempatan tugas di kota lain. Ya, kami harus pindah ke kota S. Ci? Abuy begitu kaget mendengar kami akan pindah rumah.

Setelah rumah kami laku terjual dan pekan depan akan ditempati oleh orang lain. Kami segera siap-siap berkemas. Seluruh perabotan rumah sudah kami paketkan sedikit demi sedikit, tinggal furniture yang akan berangkat dengan truk bersamaan dengan kami di mobil lainnya.

Selama sepekan Ci? Abuy membantuku membereskan barang-barang kami. Tetangga sekitar sudah kupamiti dan kumintakan ma?af jika keluarga kami banyak berbuat khilaf dan menyakitkan mereka. Tentu saja semua tetangga terperangah. Betapa tidak!

Kami menempati rumah ini sejak anak keduaku berusia 6 bulan sampai saat ini, sudah kelas V SD. Semua merasa kehilangan dengan kepergianku. Teman akrab maupun yang kurang akrab, tetangga baru maupun lama, dengan karakter yang berbeda-beda semua pasti akan meninggalkan kenangan manis, atau pahit sekalipun dan tak terlupakan di benak masing-masing.

Tahukah mengapa aku ceritakan semua ini? Tak lebih karena tetangga Cina-ku itu selalu menangis setiap kali membantuku mengepak barang-barangku, seolah kami memang sudah berpisah.

?Ya Ampuun……..Bu Mita, kenapa harus pergi sih? Saya jadi sedih, gak punya teman yang bisa diajak ngobrol..? Isaknya dengan hidung memerah menahan tangis. Dari tadi kulihat ia menahan sedu sedannya.

?Nanti siapa lagi yang bisa ngawasin Kokoh Dedek. Mereka cuma menurut sama Bu Mita. Ya Ampun Dedek….Kokoh………Bu Mita mau pindah! Kita gak bisa ketemu lagi deh….? suaranya lirih sambil menengok anak-anaknya.

Si Kembar Kokoh dan Dedek terbengong-bengong di samping mamanya yang sedang memasang-masang lak ban buat menutup dus buku-bukuku. Mereka tak mengerti bagaimana harus bersikap. Tapi kutahu mereka sedih, menatapku dengan termangu dan pandangan mata memelas. Aku menangis juga. Kupeluki anak itu satu persatu. Meski jilbabku bersimbah keringat karena mondar-mandir berjongkok dan berdiri mengurusi barang-barang dan airmata di pipiku berlinangan, Kokoh dan Dedek tak perduli. Kedua bocah itu memelukku erat. Si Bungsu Ah Se (Lexi) memandang adegan itu dengan bengong. Ia belum mengerti toh usianya baru 2 tahun.

? Ci?………nanti kita telepon-teleponan ya. Jangan sampai putus hubungan. Sekali sekali mainlah ke sana!? Wanita cantik itu mengusap air matanya lagi!

Esoknya, pagi-pagi sekali selepas Subuh kami akan berangkat. Beberapa tetanggaku menunggui keberangkatan kami. Kusuruh anakku mencium tangan mereka semua, satu persatu. Suamiku memeluk bapak-bapaknya dan aku memeluk ibu-ibunya satu persatu. Semua terisak mengucapkan selamat jalan. Yang paling menyisakan kenangan bagiku adalah pribadi Ci? Abuy. Ia diam-diam menitipkan masakannya yang merupakan makanan favoritku.

?Buat bekal di jalan Bu. Gak pake B lho!? ujarnya. Tentu saja aku tahu karena ia tak doyan B meski Cina. Duh, jam berapa ia bangun dan memasak untuk kami? Aku makin terharu. Kusambut paket itu. Berat amat! Tapi aku simpan juga. Nanti di jalan baru aku buka jika kami ingin makan. Ci? menangis melambaikan tangannya ketika kami berangkat pelan-pelan. Akupun begitu. Christopher dan Christian si kembar belum bangun, Lexi si bungsu juga masih terlelap, toh pagi itu masih gelap.

Selang satu jam ketika hari sudah terang, diperjalanan aku membuka dus berat berisi makanan yang masih hangat itu. Ada fuyung hai dengan saus khasnya, kailan cah sapi dan nasi putih cukup untuk berlima. Semua diletakkan dalam wadah rapat. Ups, dibawah wadah makanan ada dus rapi terbungkus kertas kado rapat sekali. Kuangkat bungkusan itu. Berat juga! Tak sabar kubuka bungkusnya, aha, rupanya dua buah buku tebal-tebal. Dia tahu aku senang membaca). Satu berjudul La Tahzan yang terkenal itu, satunya lagi kisah cinta Nabi Muhammad dengan Khadijah dengan cover tebal berwarna pink. Kedua-duanya cukup mahal bagiku.

Betapa girang hatiku! Kupeluki kedua buku itu. Ia masih ingat, waktu itu ketika aku ajak dia ke toko buku, aku ingin sekali membeli kedua buku itu, namun aku meletakkannya kembali di rak buku, tidak jadi. Uangku sudah tak cukup, karena kubelikan novel-novel sastra dan psikologi. Sepanjang perjalanan pulang dari toko buku itu aku berceloteh tentang betapa bagusnya buku itu,
?Sayang uangku sudah habis untuk membeli buku-buku ini Ci? !? keluhku saat itu ketika baru keluar dari tempat parkir. Ah, rupanya adegan itu ia ingat dalam-dalam.

Ia belikan kedua buku itu untukku sebagai kenang-kenangan. Tak peduli bahwa buku-buku itu adalah buku-buku Islam. Ikatan batin antara kami begitu kuat meski kami berbeda etnis. Aku membatin dalam hati, pasti Tuhan punya cara tersendiri untuk membalas ketulusannya. Ketulusan Ci? Abuy, tetangga Cinaku itu……

Jakarta, 26 Desember 2006

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *