Gde Dharna, Kenekatan Sastra Bali

Putu Fajar Arcana
kompas.com

SAMPAI kini mungkin tak banyak yang tahu kalau penulis lagu daerah Bali berjudul Merah Putih bernama I Gde Dharna (69). Padahal hampir setiap anak Bali yang pernah mencicipi sekolahan pasti bisa menyanyikannya. Lagu yang dimaksudkan untuk membangkitkan heroisme para pejuang pada tahun 50-an itu, hingga kini sering ditembangkan dalam pementasan kesenian tradisi di Bali. Para anak muda juga suka mengumandangkan lagu itu di pos-pos keamanan lingkungan. Lagu ini secara resmi pernah diajarkan di sekolah-sekolah di Bali.

Seringkali hasil karya seseorang lebih dikenal daripada pengarangnya sendiri. Kenyataan ini pulalah yang dialami oleh Gde Dharna ketika namanya disebut sebagai salah satu penerima Hadiah Sastra “Rancage” tahun 2000. Khusus kepada para sastrawan Bali, hadiah ini mulai diberikan pada tahun 1998. Awalnya Hadiah Sastra “Rancage” sejak tahun 1989 diberikan kepada para sastrawan Sunda. Menyusul tahun 1994 kepada para sastrawan bahasa Jawa.

“Saya kaget. Baru tahu hari ini. Selama ini saya pikir tidak ada yang memperhatikan apa yang saya kerjakan,” ujar Gde Dharna, ketika ditemui akhir pekan lalu di Desa Sukasada, Buleleng (Bali). Namun, suami dari Ni Luh Telaga ini tak bisa menyembunyikan rasa bangganya. Ia mengeluarkan beberapa buku karyanya dalam cetakan-cetakan sederhana.

“Saya sudah cari koran yang menyebut nama saya sebagai penerima “Rancage,” tetapi habis, ndak dapat,” ujarnya. Kebanggaan Dharna seperti mengalir pula pada gemericik air di selokan dekat rumahnya. Rumputan yang tersentuh air bergoyang riang sekali.

Tentu saja, bukan hanya karena lagu Merah Putih itu Gde Dharna pantas dihargai. Sebagai penulis lagu, Dharna telah menciptakan lebih dari 200 lagu sejak ia memimpin Orkes Keroncong Murai tahun 50-an. Selain lagu-lagu keroncong berbahasa daerah, ia juga menulis lagu seriosa, lagu dolanan, pop daerah, serta tembang-tembang untuk seni janger dan genjek. Sebagian besar lagu yang diciptakannya itu pernah memperoleh penghargaan dalam Pesta Kesenian Bali (PKB) yang digelar saban tahun.

Sejak tahun 1970-an hingga 1990-an Dharna setia mengisi acara mendongeng di RRI Singaraja. Pensiunan pegawai Departemen Perdagangan di Singaraja ini tak pernah lelah mejalani laku kesenian. Bersama beberapa yuniornya seperti Putu Wijaya, Faisal Baraas, dan Made Taro, ia melakukan apresiasi sastra lewat radio.

Tahun 1955 saat Dharna menjadi guru swasta di Desa Busungbiu (Buleleng), ia mendengar ada lomba bintang radio di Denpasar.

“Saya penasaran ingin ikut lomba. Maka saya rela bersepeda gayung untuk ikut berlomba,” tutur lelaki bertubuh gempal itu. Singaraja-Denpasar yang berjarak 80 km dan harus mengayuh sepeda melintasi pegunungan, tak menjadi hambatan bagi Dharna. “Kebetulan saya mendapat juara II. Belakangan baru saya tahu lagu yang saya nyanyikan itu berjenis seriosa.”
***

DI tengah-tengah ketekunannya menggeluti dunia musik, Dharna juga menulis sastra. Kecintaan pada sastra bermula ketika ia menjadi pemenang pertama lomba puisi menyambut Hari Kartini se-Nusatenggara, tahun 1954.

“Waktu itu saya sudah SMA, tetapi masih pakai celana pendek. Maka ketika menerima hadiah dari Gubernur Nusra Sarimin, saya pinjam celana panjang dari seorang teman,” kata Dharna terkekeh. Walau hadiahnya hanya sebuah pulpen, ia menilainya sebagai luar biasa.

Akibat pengabdiannya yang “keras kepala” dan cenderung nekat kepada dunia seni, hidupnya jadi tak berketentuan. Ia pernah marah pada kemiskinan.

“Karena itulah anak-anak saya larang mendalami kesenian. Saya tak mau mereka melarat seperti saya. Seluruh alat musik saya jual,” katanya tersedak. Tiba-tiba penerima penghargaan seni Wija Kusuma dari Pemda Buleleng tahun 1981 ini menunduk. Ia terlihat menyesali apa yang pernah dilakukannya.

Penyesalan tiada tara itu, katanya, justru berbalik menjadi semangat untuk terus-menerus menggeluti kesenian, terutama musik, sastra, dan drama. Selain menciptakan lagu-lagu daerah untuk pelajaran di SD, hingga sekarang Dharna tetap menulis drama dan puisi berbahasa Bali. Buku terbarunya berupa kumpulan drama berbahasa daerah Bali berjudul Kobarang Apine (Kobarkan Api) diterbitkan Sanggar Buratwangi, Amlapura tahun 1999 lalu. Rencananya pada bulan April 2000 mendatang, Dharna akan menerbitkan buku berjudul Perang Bali. Buku ini berisi puisi-puisi berbahasa Bali yang menceritakan tentang perang yang dialami Bali di masa lalu.

Dharna memang seorang veteran pejuang. Di masa revolusi ia tergabung dalam Gerakan Rahasia Rakyat Indonesia. Sampai kini ia menjadi Sekretaris Markas Cabang Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Buleleng.
***

DHARNA tak pernah berhenti. Ia melangkah terus meski jalanan makin terjal dan berliku. Sementara kondisi sekarang ini, katanya, masyarakat tak pernah menggubris bahasa dan sastra Bali Anyar (Bali Baru). Mereka bahkan menganggap orang-orang seperti Dharna hanya berkelangenan dengan masa lalu. Namun menulis sudah menjadi kebutuhannya sehari-hari. Masalahnya kemudian, kebutuhan publikasi. Tak banyak media atau penerbit yang sukarela menerbitkan tulisan-tulisan kesusastraan, apalagi sastra daerah.

Maka sering buku-bukunya diterbitkan dalam bentuk sederhana seperti stensilan. Tak jarang ia mengupayakan biayanya sendiri. Belum lagi persoalan, kalangan mana yang membaca hasil karyanya.

“Bagi saya merupakan kebanggaan luar biasa kalau hasil karya saya dibaca. Sejak dulu saya tidak tahu siapa yang membacanya,” ujar mantan Ketua Lembaga Kebudayaan Nasional (LKN) Buleleng ini.

Dharna menyatakan sangat prihatin terhadap perkembangan sastra dan bahasa daerah, khususnya Bali. Ia benar-benar tidak mengerti akan sikap generasi belakangan ini.

“Jangankan membaca, di rumah saja mereka tak mau menggunakan bahasa daerahnya,” kata Dharna.

Padahal, tambahnya, sastra dan bahasa daerah merupakan akar dari satu komunitas budaya. Jika akarnya tercerabut, niscaya sendi-sendi komunitas budaya ikut hancur. Kehancuran sebuah komunitas budaya, berarti pula penghilangan identitas. Tambahnya, “Bayangkan kalau kita kehilangan jati diri sebagai bangsa.”

Oleh karena itulah Dharna tidak hanya berharap kepada Pemda Bali, tetapi yayasan-yayasan harus lebih aktif memikirkan soal kelestarian budaya daerah.

Bagi Dharna, menulis sastra, menyanyi seriosa dan mengingat celana panjang pinjaman atau sepeda gayung, bu,kan semata romantisme. Bukan pula sekadar cerita kebanggaan di hadapan para cucunya. Ia justru telah menjadi semacam simbol kecintaan dan pengabdiannya pada akar budaya daerahnya sendiri.
***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *