Kearifan Seorang Sufi

Akhmad Zaini*
http://www.jawapos.com/

Dalam sejarah perjalanan bangsa ini, nama KH Achmad Siddiq (1926-1991) tentu bukanlah nama asing. Sebab, dari ulama sederhana dan kharismatik itu, muncul sejumlah pemikiran besar yang berdampak sangat luas bagi kehidupan berbangsa dan bernegara di republik ini.

Pemikiran Kiai Achmad yang paling monumental adalah soal Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Menurut Kiai Achmad, NKRI yang berdasar Pancasila merupakan bentuk final. Karena itu, tidak perlu diotak-atik lagi. Dalam kehidupan bernegara, semua harus mengakui dan menerima NKRI dan Pancasila.

Di era itu (1980-an), pemikiran Kiai Achmad berdampak sangat luas. Sebab, beberapa saat sebelumnya pemerintah orde baru di bawah kepemimpinan Soeharto menerapkan asas tunggal Pancasila. Oleh Soeharto semua ormas dan orpol (organisasi politik) diwajibkan berasaskan Pancasila.

Ketika kebijakan tersebut dikeluarkan, kegelisahan melanda sejumlah ormas dan orpol, khususnya ormas-orpol Islam. Maklum, kala itu masih banyak ormas/orpol yang tidak berasaskan Pancasila. Termasuk, Nahdlatul Ulama (NU), di mana saat itu Kiai Achmad menjadi pimpinan tertinggi (Rais Aam) PB NU.

Nah, di tengah kegelisahan itu, Kiai Achmad melontarkan gagasan tentang NKRI. Mengingat posisi dan kharismanya yang sangat tinggi, gagasan tersebut dengan mudah diterima berbagai pihak. Apalagi, saat itu, ketua umum Tanfidziyah PB NU dijabat KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang memiliki pemikiran yang sangat progresif.

NU pun akhirnya secara resmi menerima Pancasila sebagai asas tunggal. Sikap NU ini mempunyai dampak sangat luas. Beberapa ormas/orpol dengan cepat mengikuti langkah NU. Benturan antara pemerintah –yang kala itu masih sangat represif– dengan umat Islam Indonesia akhirnya bisa dihindarkan.

Pemikiran lain Kiai Achmad yang juga monumental adalah soal konsep kerukunan di tengah-tengah kehidupan yang multietnik, multiras, dan multiidiologi seperti Indonesia. Dalam hal ini, Kiai Achmad melontarkan konsep ukhuwah (persaudaraan) yang dia kembangkan menjadi ukhuwah Islamyah, ukhuwah wathaniyyah, dan ukhuwah basyariyyah.

Dengan mengembangkan konsep tersebut, Kiai Achmad berpandangan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, umat Islam Indonesia tidak harus hidup secara esklusif. Namun, harus menjalin persaudaraan dengan umat lain (ukhuwah wathaniyah) serta ukhuwah basyariyyah (persaudaraan yang disandarkan pada kepentingan bersama sebagai sesama manusia).

Konsep kerukunan yang ditawarkan Kiai Achmad tersebut juga berdampak sangat luas. Ketegangan antargolongan –khususnya antaragama– bisa diminimalisasi sedemikian rupa. NU sebagai ormas Islam terbesar senantiasa terdepan dalam urusan ini. Dan, itu berlangsung sampai saat ini.

Di era reformasi ini, konsep pemikiran Kiai Achamd semakin mendapatkann relevansinya. Mungkin, suasananya menjadi lain bila konsep tersebut tidak pernah ditawarkan. Bisa jadi, di era reformasi –di mana kebebasan menyampaikan pendapat mendapatkan ruang yang sangat luas– perdebatan soal bentuk negara dan dasar negara kembali berkecamuk. Ini mengingat, sebelum Soeharto memberlakukan asas tunggal Pancasila, keinginan untuk kembali ke Piagam Jakarta masih sangat kuat.

Begitu juga soal kerukunan antargolongan. Bisa pula suasananya tidak setenteram sekarang.

Nah, karena pemikiran-pemikiran cemerlang itu, Kiai Achmad, kendati tidak termasuk orang yang produktif dalam menghasilkan karya tulis, mendapatkan perhatian khusus para cerdik pandai. Sejumlah penelitian dan buku yang mengkaji sepak terjang dan pemikiran Kiai Achmad banyak bermunculan. Yang terbaru buku The Wisdom of KH Achmad Siddiq: membumikan Tasawuf ini. Buku ini sebelumnya merupakan disertasi Syamsun Ni’am ketika menyelesaikan program doktor di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta pada 2006. Setelah dilakukan perbaikan dan penyesuaian, pada awal 2009 terbitlah sebagai buku.

Secara umum, apa yang dipaparkan Ni’am tidak jauh berbeda dengan buku-buku perihal Kiai Achmad yang terbit sebelumnya. Namun demikian, ada angle beda yang menjadi keiistimewaan buku ini. Yakni, ketika Ni’am memaparkan bahwa pemikiran Kiai Achmad yang luar biasa tersebut ternyata disandarkan pada tasawuf yang menjadi garis hidup kiai sederhana tersebut.

Tentu, pengaitan itu awalnya terasa janggal. Mengingat, ada kesan kuat bahwa tasawuf dan hiruk-pikuk hidup berbangsa dan bernegara merupakan dua dunia yang berbeda. Tasawuf lebih berkonotasi pada kehidupan yang menyucikan diri dan menyendiri. Sementara kehidupan berbangsa dan bernegara lebih dekat pada kehidupan yang hiruk-pikuk. Di sini bertemu sejumlah orang dan golongan yang berbeda kepentingan.

Lalu, bagaimana Kiai Achmad bisa menyatukan dua hal yang berlawanan itu? Ni’am memaparkan, Kiai Achmad berpandangan seorang sufi (penganut tasawuf) tidak harus hidup menyendiri (uzlah). Sebab, hakikatnya seorang ahli tasawuf bisa hidup di tengah-tengah keramaian (mu’asyarah). Kesucian hati bisa dijaga di tengah-tengah keramaian. Yang ditekankan dalam menjaga kesucian itu adalah hadirnya hati (al-hudhur al qalb) bersama Allah di mana saja, kapan saja, dan dalam kondisi apa pun. (hlm.178).

Dari pemikiran itulah, akhirnya sebagai penganut tasawuf, KH Achmad terlibat aktif dalam pergulatan kehidupan berbangsa dan bernegara. Dia mendasarkan kehidupan seorang sufi yang menekankan pada moral spiritual (al-ihsan) dalam menyikapi persoalan yang dihadapi bangsa.

Dari sinilah kearifan (wisdom) itu muncul. Karena itu, menurut Kiai Achmad, tasawuf harusnya tidak hanya dijalani oleh sekelompok orang ”khusus” saja. Tapi, masyakarat umum harus mengamalkannya.

Ni’am mengelaborasi semua itu dengan apik. Namun sayang, kesan bahwa buku ini buku berat (ilmiah) masih sulit ditanggalkan. Padahal, di awal pengantarnya Ni’am berharap buku ini bisa dibaca masyarakat umum.

Satu hal lagi yang terkesan kurang lengkap, buku ini sama sekali tidak menampilkan foto atau gambar KH Achmad. Padahal, ketika pembaca diajak menelusuri pemikirannya yang luar biasa, akan lebih lengkap bila pembaca bisa melihat sosok orangnya.

Namum, lepas dari kekurangan yang ada, buku ini tetap layak dan perlu dibaca. Terutama bagi mereka yang mendamba dan mencintai kehidupan yang penuh kedamaian dan kearifan. Karena dari sanalah hal itu bisa digali! (*)

*) Wartawan Jawa Pos

Judul Buku : The Wisdom of K.H. Achmad Siddiq
Pengarang : Dr Syamsun Ni’am
Penerbit : Penerbit Erlangga Jakarta
Cetakan : Pertama, 2009
Tebal : 242 halaman

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *