Ruang Dialog

D. Zawawi Imron
http://www.jawapos.com/

”Kenapa kau memasang gambarku di belakang fotomu pada baliho-baliho di tepi-tepi jalan itu?” tanya kiai kepada putranya pada era kampanye pemilu sebulan yang lalu.

”Supaya perolehan suara saya lebih banyak lagi. Orang-orang yang cinta dan hormat kepada ayah akan mencontreng nama saya, karena saya putra ayah.”

”Itu perbuatan tidak baik,” ujar Pak Kiai. ”Seyogyanya orang memilih dirimu karena semata-mata percaya kepadamu, bukan karena kau berada dalam bayang-bayangku. Kau memasang gambarku pertanda kau tidak percaya diri, tidak yakin kepada kredibilitasmu.”

”Sebenarnya saya yakin dan percaya bahwa saya mampu, tapi untuk mendongkrak suara lebih banyak, saya harus memasang gambar ayah. Sebab saya yakin ayah adalah tokoh yang dicintai umat serta kharismatik.”

”Apa pun alasanmu itu tidak menghargai dirimu sendiri. Bukankah di pesantren ada ungkapan laysal fata man yaqulu kana abi, walakinnal fata man yaqulu ha anadza. Pemuda bukan yang mengatakan itulah ayahku, tapi yang disebut pemuda ialah yang berkata, inilah aku.”

”Ya ayah, kalau tidak keliru itu ucapan Imam Muhamamd Idris Asy-Syafi’i.”

”Tapi kenapa kau membangga-banggakan aku dengan memasang gambarku untuk mendongkrak daya jualmu sebagai caleg? Ayah sedih dengan perbuatan yang menghina dirimu sendiri. Seharusnya kau menakar dulu kemampuanmu, tanpa harus mempertautkan dengan ayah. Aku akan sangat bersyukur, kalau kau punya kemandirian. Kau harus mampu berdiri di atas kakimu sendiri.”
***

Percakapan di atas, secara budaya sangat menarik karena memberikan kesadaran kepada kita, betapa pentingnya seseorang mampu menampilkan dirinya secara total bukan karena bayang-bayang orang tua. Anak-anak yang membonceng keberhasilan dan popularitas orang tua, dulu disebut orang ”karbitan”. Kata itu berasal dari kata karbit. Biasanya, pisang yang belum masak agar cepat masak diberi karbit agar segera bisa dijual ke pasar. Namanya karbitan, rasanya tentu tidak seenak pisang yang masak di pohon.

Dari sini kita mendapat inspirasi tentang pentingnya menyiapkan kader-kader yang matang, bukan kader-kader karbitan. Lalu siapa yang punya tugas untuk menyiapkan generasi muda yang siap dan matang?

Kalau generasi tua tak punya simpati untuk mencetak kader-kader tangguh, sebenarnya pemuda itu sendiri yang harus bangkit dan bangkit untuk mengambil peran, jangan menunggu anugerah dan kelegaan hati orang-orang tua. Generasi tua perlu introspeksi, untuk menyadari sebagian pikirannya yang tidak sesuai lagi dengan zaman. Untuk itu, perlu ada dialog antara daun-daun yang sudah menguning dengan daun-daun yang baru bersemi. Dialog antargenerasi seperti itu menjadi penting untuk menguji dan mengasah jiwa serta vitalitas generasi muda untuk menjadi calon pemimpin yang visioner. Ruang dialog bukan untuk bertengkar. Dialog bukan demo yang hanya mengandalkan otot dan bukan otak.

Anak-anak muda sekarang sudah sepantasnya mengembangkan daya pikir dan daya intelektual untuk lebih jeli dan lebih cerdas dari generasi tua yang sebagian mungkin sudah capek. Bangsa yang besar memerlukan pikiran anak-anak muda ”pendobrak” yang bisa menelurkan formula-formula baru yang tidak mungkin lahir dari generasi tua.

Sayidina Ali mengingatkan bahwa anak-anak kita dilahirkan untuk zamannya sendiri yang lain dengan zaman kita. Maksudnya, masa depan niscaya milik anak-anak muda yang membawa pikiran segar. Tapi sejauh mana anak-anak muda bisa eksis tanpa bayang-bayang generasi tua. Bapak-bapak dan kakek-kakek yang tidak kreatif sudah waktunya minggir untuk menyambut fajar indah yang menyingsing dari senyum anak-anak muda yang lebih cemerlang. Generasi muda yang tidak tergesa dan gegabah, tapi juga tidak terlambat mengambil peran tanpa mengurangi rasa hormat kepada pendahulunya. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *