Sastra dan Spiritualitas (2)

Yudi Latif
http://www.kompas.com/

Sastra-Tulis dan Spiritualitas
Ketika tradisi lisan beralih ke tradisi tulisan, para mistikus dan penulis kreatif terus berusaha mempertautkan bahasa jiwa sebagai vibrasi dari semesta ini. Mereka mencoba menangkapnya dengan menerjemahkan dari bidang pengalaman dan ujaran ke bahasa tulis. Sejak itu, para pencari dan penganut keyakinan berusaha menulis dan mencari literatur spiritualitas untuk menemukan makna dan wawasan (insight). Penulisan kreatif dan literatur berperan penting dalam semua tradisi agama sebagai ekspresi dari ketuhanan.

Setiap tridisi kepercayaan memiliki kumpulan karya sastra, di luar teks suci, tempat para pencari menemukan inspirasi?pintu masuk ke arah pengembaraan spiritual menuju dunia keabadian.

Terutama dalam agama-agama ahlul kitab, karena ajaran agama berdasarkan pada firman Tuhan yang diwahyukan sebagai kitab suci, maka sastra menempati posisi yang utama dan istimewa sebagai wahana pengalaman keagamaan. Sejauh dikaitkan dengan tradisi Islam, Seyyed Hossen Nasr mengatakan, ?Pengaruh Al-Quran terhadap jiwa kaum Muslim begitu besarnya sehingga lingkungan budaya Islam memperlakukan kata atau sastra sebagai bentuk utama ekspresi seni di mana pun Islam berada dan di mana pun pengaruh Al-Quran terasa? (Nasr 1993a: 15).

Sebelum mengalami gejala sekularisasi yang dalam, semua agama kitab suci tidak mengenal pemisahan antara seni dan pemikiran, intelektualitas dan sensualitas, logika dan intuisi-puitik, realitas kosmik dengan bahasa manusia. Menurut doktrin tradisional agama-agama, realitas batin alam semesta mengungkapkan dirinya melalui mata batin atau penglihatan intelektual?sebagai alat persepsi. Keselaran yang berlangsung di alam fisis terpantul dalam keselarasan dunia bahasa, yang merupakan refleksi dari jiwa manusia maupun kosmos. Dalam bahasa, kata menjadi substansi yang menggantikan hakikat materi dunia eksternal, dan menyiratkan keselarasan kosmik (Nasr 1993b: 101).

Mengutip tradisi Hindu, ?Alam semesta dipandang oleh kaum intelektual sebagai ?mata hati?, yang merupakan hasil perkawinan antara keselarasan (saman) dan kata-kata.? Jika dalam makrokosmos keselarasan alam semesta terwujud pada taraf realitas yang lebih tinggi, begitu pun dalam bahasa. Selalu terdapat keselarasan dalam kata-kata dan substansi bahasa, hingga terwujudlah syair. ?Melalui syairlah menggema kembali keselarasan fundamental yang memungkinkan manusia untuk kembali pada keberadaan dan kesadaran yang lebih tinggi? (Nasr, 1993b: 101).

Keselarasan antara yang zhahir dan yang batin, logika dan puisi, serta antara dimensi maskulin dan feminin ini, ditemukan dalam tradisi Timur Jauh, yang diungkapkan dalam keselarasan antara Yin dan Yang; juga dalam Islam dengan tradisi tasaufnya yang menjaga keselarasan antara penampakan (shurah) dan batin (ma?na).

Dalam tradisi Timur, syair adalah hasil imposisi Prinsip Spiritual dan intelektual pada materi dan substansi bahasa. Lebih lanjut, ?Irama yang ada dalam bentuk batin syair tradisional juga menjadi inti praktik spiritual atau upacara yang memanfaatkan ilmu pengetahuan tradisional tentang bunyi-bunyian (mantra menurut bahasa Sansekerta) dan berkaitan dengan bahasa suci yang disakralkan oleh keyakinan tertentu.? (Nasr 1993b: 102). Seperti dilukiskan secara indah oleh sufi Persia, ?Abd Al-Rahman Jami:
Apakah syair itu? Nyanyian seekor burung intelek
Apakah syair itu? Perumpamaan alam keabadian
Dengan syair menjadi nyatalah nilai burung itu
Dan seorang menemukannya, tak peduli dari bak air kamar mandi ataukah dari taman bunga mawar
Ia mengubah syair dari taman Ilahi;
Ia meperoleh kekuatan dan maknanya dari pelataran yang suci.

Dalam tradisi tasauf, syair dipandang sebagai buah pengamatan dan hasil ?sekunder? ekspresi kebenaran spiritual, dari seseorang yang telah mencapai keselarasan dengan keindahan kosmik (cosmic beauty). Adapun bait-bait puisi menyiratkan Keselarasan Universal melalui substansi bahasa, yang muncul secara spontan memancarkan keindahan dan keselarasan jiwa sebagai vibrasi dari keselarasan kosmik. Oleh karena itu, Jalal Al-Din Rumi menolak dirinya sebagai penyair meskipun dirinya menggubah syair. Seperti dilukiskan oleh Syaikh Mahmud Syabistari:
Setiap orang tahu bahwa selama hidupku, tak pernah aku bermaksud menggubah syair,
Meski tabiatku mampu untuk menggubahnya, jarang kupilih ?tuk menggubah syair.

Betapun kaum sufi tidak menempatkan dirinya dalam profesi kepenyairan, kehadiran mereka membentuk tradisi sastra spiritualitas dengan jangkauan yang luas. Karya agung sastra religius dalam lingkungan Islam seperti Matsnawi-nya Rumi atau Javid Nama-nya Iqbal, menunjukkan kehadiran dimensi spiritualitas yang universal dalam ungkapan dan pesan yang memantulkan pergolakan batin penggubahnya sekaligus kerinduan akan ?aku? dan ?engkau? yang lain. Karena itu karya sastra dari penulis Islam ini bisa jauh melampaui daerah di mana karya itu dilahirkan. Bukan hanya karena bantuan teknologi percetakan, tetapi yang lebih penting karena aspek universilatas pesannya yang bisa menyentuh batin para pembaca di luar geografisnya. (bersambung)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *