Sastra dan Spiritualitas (4)

Yudi Latif*
http://www.kompas.com/

Ancaman Fanatisisme
Modus keagamaan yang menekankan dimensi spiritualitas-puitik, yang memberi tempat bagi pengucapan unconscious mind, sungguh selaras dengan pandangan dunia klasik alam nusantara. Dalam Islam Observed (1968), Clofford Geertz melukiskan gaya klasik Islam Indonesia sebagai iluminasionisme, dengan pandangan dunianya yang bersifat sinkretik, selaras dengan ethosnya yang bersifat adaptif, gradualistik, estetik dan toleran. Gaya seperti ini menurutnya bertahan setidaknya hingga awal abad 19.

Namun sejak akhir abad itu, intrusi nasionalisme dan skripturalisme dalam ruang publik Nusantara membawa tantangan yang serius bagi gaya klasik tersebut. Efek modernisasi dan skripturalisasi menimbulkan clash of ideas pada ranah world view yang tak mudah didamaikan, diikuti oleh goyahnya ethos keberagamaan. Meskipun masyarakat masih menjaga simbol-simbol sucinya, mereka mulai kehilangan pengalaman perjumpaan langsung dengan Tuhannya. Gelombang modernisasi dan skripturalisasi sama-sama menimbulkan apa yang disebut Max Weber ?Disenchantment of the World?, pudarnya elemen-elemen magis dan spriritualitas yang membawa retakan dalam moda keberagamaan.

Modernisasi dan puritanisasi keagamaan menjadikan kekayaan imageri dan mitologi keagamaan dipandang sebagai ?takhyul?, yang membuat kemarau spiritualitas bagi kehidupan kontemporer.

Bersama kemarau spiritualitas, sastra mengalami komodifikasi yang membawa banalitas dalam karya sastra. Termasuk dalam sapuan komodifikasi ini adalah tema-tema sastra-keagamaan. Booming buku-buku sastra-keagamaan lebih banyak memanjakan gairah kesalehan formal dan spiritualitas instan, yang hanya menjanjikan kepuasan batin seketika.

Di sela-sela kemarau spiritualitas dan ekspansi komodifikasi ini, fanatisisme keagamaan bangkit menebaskan pedang ke segala arah. Fanatisisme adalah paham yang melakukan penolakan terhadap representasi. Bentuk yang paling elemental dari penolakan tersebut adalah ikonoklasme dalam arti yang paling literal dari kata tersebut: kebencian dan perusakan terhadap ikon dan citra.

Dalam seni, fanatisisme menolak representasi dengan melamurkan pandangan terhadap adanya ?aesthetic gap? yang memisahkan realitas sungguhan dengan realitas rekaan sebagai karya seni. Padahal interes seni terletak pada fakta bahwa tak ada aturan yang tetap dan diterima secara umum yang menghubungkan antara realitas yang direpresentasikan dengan representasi karya seni. Dengan menolak prinsip representasi yang memungkinkin seniman mengembangkan interpretasi dan rekaan, fanatisisme telah membunuh kreativitas imajinatif sebagai nyawa ekspresi estetik (Ankersmit, 1996).

Ketika ekspresi keagamaan kehilangan daya-daya imaji-puitiknya, spiritualitas menghilang dari kehidupan. Itulah pangkal alienasi dan nestapa kehidupan kontemporer.

Rujukan
Al-Attas, S.M.N. 1969, Preliminary Statement on a General Theory of th Islamization of the Malay-Indonesian Archipelago, Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur.
Al-Attas, S.M.N. 1970, The Mysticism of Hamzah Fanshuri, University of Malaya Press, Kuala Lumpur.
Ankersmit, F. R. 1996, Aesthetic Politics, Stanford University Press, California
Eliade, M. 1958, Patterns in Comparative Religion, Steed & Ward, London.
________1968, Myths, Dreams and Mysteries, Collins/Fontana, London.
Iqbal. M. 1970, The Reconstruction of Religious Thought in Islam (1934), dalam Modern Islamic Literature, Mentor Books.
Jung, C. G. 1938, Psychology and Religion, Yale University Press, New Haven.
________ (ed.) 1964, Man and His symbols, Pan Books, London.
________ 1971, The Portable Jung, ed. J. Campbell, Penguin Books, Harmondsworth.
Khan, H. I. 1988, The Mysticism of Music, Sound and Word, Motilal Banarsidass, Delhi.
Mangunwijaya, Y.B. 1988, Sastra dan Religiositas, Penerbit Kanisius, Yogyakarta.
Maslow, A. H. 1970, Religions, Values, and Peak-Experiences, Viking Press, New York.
__________ 1971, The Farther Reaches of Human Nature, Viking Press, New York.
Nasr, S.H. 1993a, A Young Muslim?s Guide to the Modern World, Kazi Publications, Chicago.
_________1993b, Spiritualitas dan Seni Islam, Mizan, Bandung.
Schimmel, A. 1982, As Through a Veil: Mystical Poetry in Islam , Columbia University Press, New York.
Teeuw, A. 1997, Citra Manusia dalam Karya Sastra Pramodya Ananta Toer, Pustaka Jaya, Jakarta.
________1967, Modern Indonesian Literature, Nijhoff, The Hague.
________1980, Tergantung pada Kata, Sepuluh Sajak Indonesia, Pustaka Jaya, Jakarta.

*) Yudi Latif yang dilahirkan di Sukabumi 40 tahun silam sempat mondok beberapa tahun di Pondok Pesantren Modern Gontor kemudian melanjutkan studi ke Fakultas Ilmu Komunikasi Unpad Bandung. Di Bandung, Yudi pernah menjadi ketua Ikatan Pemuda Mesjid Agung Bandung (IKAPMA). Dunia yang kini digelutinya adalah dunia penelitian. LIPI dan CIDES pernah menjadi tempatnya menimba pengalaman meneliti. Sekarang Yudi menjadi Direktur Eksekutif Reform Institute dan Wakil Rektor Universitas Paramadinamulya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *