Wajah-wajah Karat ala Teguh

Seno Joko Suyono
http://www.tempointeraktif.com/

Bangkai-bangkai mesin milik Nikko Steel oleh Teguh Ostenrik digunakan sebagai materi patung yang berbicara mengenai ekspresi manusia–dipamerkan di Gedung Arsip Nasional, yang preview-nya mulai hari ini.

Patung-patung itu semuanya disusun dari aneka potongan rongsokan baja dan besi karatan. Tema pameran berbicara tentang deformasi wajah. Sekali lihat, pada mulanya, kita susah menangkap adanya bentuk paras atau raut muka.

Namun, bila kita amati perlahan-lahan, apalagi dengan bantuan membaca satu per satu judul patung, imaji kita dituntun untuk memahami ungkapan-ungkapan abstrak ini. Dan kita bisa tersenyum akan kemampuan sang pematung yang membuat permainan metafora dan alegori yang tinggi dari bahan-bahan bekas itu.

Lihatlah patung Dasamuka. Yang disajikan tentu bukan ekspresi harfiah wajah Rahwana seperti dalam wayang, tapi ada suatu bentuk “kuda-kudaan” dengan lengkungan lempeng-lempeng yang menghadap segala arah, mengandaikan banyak wajah dari segala sisi. Atau After Changing My Dentist. Di sebuah lempengan baja, ada mur besar ditempelkan di tengah dan membentuk asosiasi mulut yang bolong. Tataplah Mulutnya Penuh Kentang. Sebuah kap cerobong bagian bawahnya “disobek”, yang memberi kesan orang cemberut. Itulah pameran “Defacement”, karya Teguh Ostenrik, 59 tahun.

Pameran ini boleh dibilang lain daripada yang lain. Di antara kecenderungan pameran seni rupa yang seragam dan banyak pengulangan ide, pameran ini terasa menggigit. Yang sangat membuat istimewa adalah materi yang digunakan Teguh berasal dari bangkai-bangkai dan pretelan mesin-mesin. Pretelan itu dirangkai Teguh membentuk aneka “ekspresi wajah”. Unsur manual pertukangan pada pameran ini terasa kuat.

Rongsokan yang digunakan Teguh sendiri adalah sampah besi dan baja yang dimiliki Pabrik Niko Steel. Pabrik yang berdiri pada 1972 ini memproduksi kawat las listrik. Bisa dibilang pabrik ini adalah pabrik kawat las listrik pertama di Indonesia. Bila kita berkunjung ke lokasinya di Cikupa, Tangerang, begitu memasuki area pabrik, kita akan melihat banyak gulungan besar bahan baku kawat-kawat dari Krakatau Steel. Kawat ini yang nantinya diolah menjadi kawat las.

Perlu melalui beberapa mesin untuk menjadikan bahan mentah gelondongan kawat panjang itu menjadi kawat las yang pendek. Secara garis besar, mula-mula kawat dari gelondongan itu ditarik oleh mesin drawing, yang membuat kawat itu lurus, kemudian dimasukkan mesin cutting untuk dipotong kecil-kecil. Lalu diproses mesin mixer–untuk dibungkus bahan-bahan kimia, kemudian dimasukkan mesin boiler, dioven dalam temperatur tinggi dan rendah. Dan ujungnya adalah mesin pengepakan, yang siap memasukkan kawat las yang sudah jadi ke kotak-kotak untuk dijual. Tiap hari pabrik ini bisa menghasilkan lebih 15 ribu kotak untuk tiap jenis kawat. “Mesin drawing sampai mesin oven yang sudah rusak kami buang dan bangkai-bangkainya itu yang digunakan Teguh,” kata Hadi Sunyoto, pemilik Nikko Steel.

Saat dibawa oleh Hadi Sunyoto ke pabriknya, Teguh Ostenrik bergairah melihat berton-ton sampah besi itu. Adrenalinnya langsung naik. “Ini harta karun,” katanya. Bukan pertama kali Teguh menggunakan rongsokan besi. Tahun 2007 ia melakukannya di Penang, Malaysia. “Saya membeli sampah-sampah besi dari pemulung India,” kata Teguh. Dan yang dilihatnya di Niko Steel jauh lebih kaya bentuknya. Bekas pipa-pipa atau penutup angin mesin oven, misalnya, bentuknya unik-unik. Konsep Teguh adalah daur ulang. Ia tidak ingin merusak keunikan itu. “Konsep saya lingkungan,” katanya.

Selama sembilan bulan, hampir seminggu dua kali Teguh bekerja di Niko Steel. Hadi menyediakan dua orang tukang las untuk membantunya. Siang itu Tempo melihat Teguh mengelas karyanya yang berjudul Seribu Wajah. Lokasinya di bengkel engineering. Bengkel itu penuh dengan mesin bor, mesin bubut, mesin gerinda, dan mesin gergaji potong. Karya itu berupa rekatan lempengan baja setinggi 2 meter, seperti pembatas ruangan, dengan banyak celah di sana-sini. Karena sedemikian beratnya untuk menggeser, diperlukan hoist–rantai besi pengangkat barang yang kerekannya di langit-langit.

Teguh tidak merancang desain patung sedari awal. Semuanya bertolak dari bahan yang ada. Ia menghormati materi. “Saya menghargai bentuk semula,” katanya. Yang dilakukan adalah proses assemblage. Tindakan “kekerasannya” pada baja-baja ini adalah sebatas memotong, melengkungkan, atau membuat lubang. Kemampuan abstraksi Teguh harus dipuji. Teguh terlihat bekerja dengan sikap nakal dan liar. Ia membebaskan imajinya. Ia peka terhadap permainan dimensi. Insting memilihnya kuat. Ia tidak asal comot sana comot sini. Padahal, bila kita lihat mulanya, pretelan rongsokan besi itu bercampur aduk satu sama lain. Para karyawan sendiri yang tahu mesin belum tentu akan mampu memisah-misahkan dan mengkonstruksi suatu imaji darinya.

Tengoklah, misalnya, yang berjudul Jilbabnya Terlepas. Jilbab itu berupa plat dengan lubang-lubang kecil melekuk seperti tertiup angin. Bila kita lihat, Teguh banyak menampilkan bentuk-bentuk tumbuhan organis, juga bentuk serangga. Lihatlah patung Kucium Keberadaanmu. Ada sungut panjang dari kawat tebal, seolah-olah patung itu bisa mengendus-endus bau orang dari kejauhan. Secara umum ekspresi Teguh banyak yang lembut.

Aneka rongsokan spare part kita lihat sering menjadi bagian kuping atau mulut. “Gear dan mur bisa jadi mata,” kata Teguh. Kita juga melihat klaker, gear, dan baut bisa menjadi hidung atau bibir. Nikko Steel memproduksi bermacam-macam tipe kawat las. Ada ukuran 2 milimeter, 2,6 milimeter, 3,2 milimeter, 4 milimeter, dan 5 milimeter. Kawat berbagai tipe yang bengkok-bengkok banyak dipakai Teguh untuk imaji rambut. Juga kawat untuk mengikat gelondongan karena lentur dipakai untuk fantasi sulur-sulur.

Teguh ingin menampilkan kesan karat yang kuat pada karyanya. Ia tak menyisakan senoktah pun warna menempel. Bila ada warna, baja itu mulanya akan digerinda, dibakar biar terkelupas warnanya, lalu dibasuh unsur kimia tertentu agar terjadi korosi. Selama proses, Teguh meletakkan karya-karyanya di luar bengkel dan membiarkannya diterpa hujan lebat agar efek karat itu makin menjadi-jadi.

“Bila tidak dimanfaatkan Teguh, biasanya besi bekas ini kami jual kiloan ke pedagang barang besi,” kata Hadi Sunyoto. Menurut Hadi, harga sekilo paling cuma Rp 3.000. Dan kini barang-barang yang tadinya hanya diminati para tukang loak itu mejeng secara elegan di Gedung Arsip Nasional, yang didatangi banyak kolektor. Di tangan Teguh, rongsokan itu berharga puluhan juta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *