With Love From Gaza

Zulfahani Hasyim
http://oase.kompas.com/

“Kau tenang saja sayangku, kau akan segera mendapat perawatan.” Kata Abdullah kepada Fayla, isterinya. Sementara Fayla semakin merapatakan pelukannya di dada Abdullah. Tak ada keluh kesah keluar dari bibir Fayla. Ketulusan cintanya telah membenamkan semua rasa sakit dalam lautan kerelaan. Walau bayi dalam kandungannya terus memberontak hendak keluar karena memang sudah saatnya dia terlahir ke dunia.
“Teruslah bertasbih, Allah selalu bersama kita.” Begitulah Abdullah terus berusaha menguatkan isterinya. Dengan tangannya dia terus mengusap-usap kepala Fayla. Sesekali dia mencium keningnya.

Di dalam rumah itu Abdullah dan Fayla berlindung. Mereka berdua sedang menunggu adik Abdullah yang keluar mencarikan kendaraan untuk membawa Fayla ke rumah sakit untuk bersalin. Sebenarnya rumah itupun tak akan mampu melindungi mereka berdua seandainya sebuah misil mendarat di rumah itu. Namun harapan mereka akan rahmat Allah tak pernah terhenti sesaatpun. Tak ada putus asa yang terpercik dalam jiwa mereka. Mereka berdua selalu yakin Allah mencintai mereka. Mungkin hanya itulah yang menguatkan Abdullah dan Fayla untuk terus berjuang hidup walau tanpa ada senjata di tangan.

Sementara di luar sana serdadu Israel sedang haus darah. Memburu siapa saja untuk dimangsa. Bagaikan serigala lapar mereka menembaki siapa saja yang mereka temui. Gaza berubah menjadi lautan darah. Jutaan tangis pecah seiring sulangan arak pejabat-pejabat Yahudi. Satu per satu rumah-rumah dan bangunan luluh lantak. Dan bagaimana dengan dunia? Ya, dunia hanya mampu bercerita tentang mereka, mengirimkan sejuta simpati yang tak akan menghapus luka mereka dan tak akan bisa menghentikan kekejaman Israel.

Pintu belakang rumah yang sebenarnya tidak layak untuk dikatakan sebagai rumah itu diketuk. Setelah dibuka muncullah Ahmad adik Abdullah dari balik daun pintu. “Kau dapat kendaraan?” Tanya Abdullah langsung begitu melihat adiknya itu kembali.
“Dapat kak. Bagaimana keadaan Kak Fayla?”
“Sudah tak perlu banyak tanya. Aku harus langsung membawa dia ke rumah sakit.”
Abdullah langsung menuju Fayla yang tergolek lemah di atas dipan.
“Tapi kak, di luar tentara Israel tengah mengamuk bagai anjing liar.”
“Ahmad, ketahuilah! Seandainya Allah berkenan menyelamatkan Fayla hanya setelah aku melewati seribu tentara Israel, maka aku akan hadapi mereka semua. Tentu kau sudah mengenal baik kakakmu ini kan, Ahmad?” Ahmad hanya mengangguk yakin. Dia percaya terhadap kata-kata kakaknya itu.
“Semoga Allah senantiasa melindungi kalian berdua.”
“Amin.” Jawab Abdullah singkat.
“Mau berangkat sekarang kak?”
“Ya, tentu saja. Kenapa?”
“Aku Ikut.”
“Tidak. Kemabalilah kau ke rumahmu. Kota sedang genting. Siapa yang akan
menjaga abah dan ummi kalau kau ikut?”
“Tapi kak..”
“Sudah. Pulanglah! Sampaikan salamku ke abah dan ummi. Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikum salam.” Ahmad hanya tertegun memandangi kakaknya itu setelah
menjawab salamnya.
Abdullah segera menggendong Fayla. Kemudian mendudukkannya di mobil yang dibawa Ahmad tadi. Sementara itu Ahmad memandang dari ambang pintu. Dia masih tertegun dan rasa kehilangan sudah bergelayut di hati Ahmad. Seakan-akan ini adalah pertemuan terakhirnya dengan kakaknya itu. Namun doa-doa terus bergemuruh dalam hatinya. Dirangkainya baik-baik doa-doa itu. Dan dia naikkan rangkaian doa itu ke langit, ke Zat Yang Maha Memberi keselamatan dimana Dialah tempat semua harapan dan doa para mu’minin tertuju.

Secepat kilat Abdullah melajukan mobilnya. Tidak ada gentar bergetar. Tidak ada takut yang membuat langkahnya surut. Cintalah yang membuat mereka berani. Cintalah yang membuat mereka kuat. Walau peluru menghujani mereka. Walau maut membayangi langkah mereka. Cinta yang dibangun di atas kesucian dan keridhoan Ilahi pasti akan mampu menerjang apapun. Itulah keyakinan yang selalu mereka hujamkan dalam hati mereka.
“Suamiku, sepertinya jalan di depan telah diblokade oleh tentara Israel.” Kata Fayla mengingatkan suaminya.
“Iya betul. Kita harus cari jalan yang lain untuk sampai ke rumah sakit.”
Abdullah pun memutar balik mobilnya. Dia pun memilih sebuah lorong kecil untuk mencapai jalan lain yang bisa mengantarkannya ke rumah sakit. Untung dia yang pernah menjadi sopir truk di Gaza. Maka dia pun sangatlah hafal lekuk-lekuk jalan di Jalur Gaza. Maka tidak perlu berpikir dua kali untuk mencari jalan pintas.

Namun rintangan kembali datang. Mobil yang dikendarainya ternyata kehabisan bahan bakar. Dan tentu tidak ada pompa bensin yang beroperasi saat isolasi seperti ini.
Terpaksa dia menggendong Fayla menempuhi sisa perjalanan menuju rumah sakit.
Dalam gendongan Abdullah Fayla sempat membacakan puisi kesukaan Abdullah.
Sayang, panggillah namaku
Saat kau merasa terasing dari riuhnya dunia
Panggillah! Panggillah!
Hingga kau merasa menjadi yang terhebat di dunia
Sayang, ingatlah cinta kita
Saat dunia mencoba mengoyakmu
Ingatlah! Ingatlah!
Hingga kau merasa kuat untuk menaklukkan dunia
“Terimakasih sayang, karena ketulusanmu telah menguatkan aku.” Fayla hanya membalas dengan senyuman. Manis sekali. Seakan tidak ada rasa sakit sedikitpun yang Ia rasakan.
“Suamiku apa kau mendengar tangisan anak kecil?” Tanya Fayla.
“Ah tidak, mungkin kau berhalusinasi, sayangku.”
“Tidak, aku sedang sadar. Coba kaudengar baik-baik sekali lagi.”
“Iya benar. Ada anak kecil menangis.”
“Lihat suamiku! Dia di sana?” Fayla menunjuk ke arah bahu jalan. “Kau harus menolongnya suamiku!” Lanjut Fayla.
“Bagaimana mungkin aku menolongnya? Sementara aku harus membawamu ke rumah sakit. Ah tidak usah pedulikan dia.”
“Suamiku kau tak boleh seperti itu. Kau harus menolongnya. Bukankah kata Baginda Rasulullah hanya karena menolong seekor anjing yang hampir mati kehausan, seorang pelacur menjadi masuk surga. Apalagi ini adalah anak manusia. Sama seperti kita. Tolonglah dia suamiku. Tenang saja aku masih cukup kuat. Letakan saja aku di tempat yang aman.”
“Tapi,” Jari lentik Fayla langsung menutup bibir Abdullah. Fayla mengangguk memberi isyarat bahwa suaminya harus menolong anak kecil itu. “Begitu mulia hatimu sayangku. Seandainya bukan kau sendiri yang memaksaku tentu aku tak akan melakukannya.”
Abdullah teringat di sekitar daerah itu ada rumah sahabat akrabnya. Sahabat ketika dia talaqi qira’at kepada Syeikh Muhammad Hasan. Dia langsung menuju rumah sahabat akrabnya itu. Sampai di sana dia langsung menitipkan isterinya itu kepada sahabat akrabnya. Setelah itu Ia kembali ke jalan raya mencari anak kecil yang menangis itu.
“Hai bocah kecil. Kenapa kau di luar rumah? Tentara Yahudi sekarang sedang mengamuk. Sangat berbahaya kalau kau tetap di sini. Di mana orang tuamu?”
“Abah dan ummi ditembak tentara Israel.” Jawab bocah laki-laki itu lugu sambil terus berisak tangis.
“Baiklah bocah kecil, aku tak punya banyak waktu. Isteriku menyuruhku menolongmu. Kalau kau percaya padaku aku akan membawamu ke tempat yang aman.
Jangan sampai peluru serdadu Yahudi menembus jantungmu.” Bujuk Abdullah dengan nada bicara agak tergesa. Maklum dia masih harus mengantarkan Isterinya ke rumah sakit.

Bocah laki-laki yang tengah di landa ketakutan itu pun menurut saja pada Abdullah. Abdullah segera membawanya ke rumah sahabatnya untuk dilindungi. Memang cukup riskan membiarkan seorang bocah di jalanan dalam keadaan genting seperti ini.

Setelah menitipkan bocah laki-laki itu di rumah sahabatnya, dia pun segera pamit untuk melanjutkan perjalanan membawa isterinya menuju rumah sakit. kali ini dia harus menggendong isterinya lagi. Karena dalam keadaan seperti ini tak ada satupun kendaraan yang bisa Ia gunakan untuk mengantar isterinya.

Namun kali ini Abdullah tidak bertangan kosong. Sahabat karibnya itu membekalinya sebuah senapan otomatis peninggalan almarhum kakaknya yang adalah anggota Hamas. Dengan sebuah senapan di tangan Abdullah semakin mantap melangkah menembus peperangan demi membawa isterinya Fayla menuju rumah sakit untuk bersalin.

Dalam rengkuhan suaminya Fayla berkata dengan suara lemah. “Suamiku kau tampak gagah. Kaulah mujahid yang paling hebat yang pernah aku kenal.” Abdullah hanya memandang Fayla yang ada di gendongannya dan membalas kata-kata Fayla dengan senyuman penuh kharisma.
“Fayla.”
“Ya, suamiku.”
“Jikalau raga diciptakan untuk menyongsong kematian, maka kematian di ujung pedang di jalan Allah jauh lebih baik dan mulia ketimbang mati di atas ranjang” Kata-kata Abdullah ini menyitir kata-kata Sayyidina Husein bin Ali bin Abi Thalib R.A.
“Kau hebat sayangku. Aku bangga mempunyai suami sepertimu.”
“Dan aku merasa menjadi laki-laki terhebat karena mempunyai isteri seperti dirimu.”

Keduanya lalu bertashbih dan bertakbir. Dan kemudian melanjutkan perjalanan. Mereka berdua menembus desingan peluru dan ledakan mortir yang membahana di segenap penjuru kota. Mereka berdua menembusnya dengan simponi cinta mengalun dalam hati. Mereka berdua melangkah dengan takbir membara dalam jiwa. Hingga takut akan kematianpun sirna seketika.

Di depan ada lima serdadu Israel sedang berpatroli di ruas jalan Jalur Gaza yang sepi. Pastinya mereka sedang memburu penduduk Gaza seperti memburu rusa. Mereka tak layak lagi disebut manusia. mereka lebih pantas disebut vampire atau drakula haus darah.
“Suamiku,” Fayla mengisyaratkan sebuah ketakutan.
“Tenang! Allah selalu bersama kita.”
Sambil menggendong Fayla Abdullah mengarahkan senapannya ke arah para serdadu Israel yang sedang berpatroli.
“Fayla bersiaplah kita akan menghabisi Yahudi laknatullah itu.” Setelah memekikkan takbir Abdullah memberondong kelima serdadu Israel itu. Dia terus bertakbir, bertakbir, dan bertakbir.
“Allahu akbar! Allahu Akbar!”

Tanpa perlawanan kelima serdadu Israel itu pun tumbang seperti diberondong seratus serdadu. Peluru-peluru yang ditembakkan Abdullah menembus dada-dada lima serdadu itu. Abdullah memang cukup mahir memegang senjata karena dia pernah bergabung dengan Hamas dan pernah juga ikut dalam barisan Hisbullah di Lebanon.
“Mampus kalian la’natullah!!” Teriak Abdullah kepada mayat-mayat serdadu Yahudi itu. Dia pun terus melangkah. Walau dia tahu bahwa di depan pasti serdadu Israel akan lebih banyak lagi menghadangnya.
“Sayang kau tenang saja. Selama kau dalam pelukanku kau akan seperti penduduk Madinah yang berlindung di seberang parit saat diserbu kaum musyrikin Quraisy. Aku adalah perisai bagimu, sayangku.” Fayla pun mengangguk yakin tanda dia percaya kepada suaminya itu.
Benar saja di depan puluhan serdadu Israel yang lain kembali menghadang.

Abdullah menghentikan langkah. Bukan karena takut atau gentar. Hanya saja dia harus menata hati dan jiwanya. Dia tahu dia sedang berhadapan dengan maut. Tapi dia tetap harus menyelamatkan isteri dan jabang bayi yang dikandung isterinya.
“Wahai Zat Yang Maha Perkasa dengan segala kekuatan yang Engkau miliki di langit dan di bumi aku pinta sepercik kekuatan-MU. Seandainya aku harus mati di tembus peluru serdadu Yahudi maka aku rela mati demi cintaku pada-Mu dan pada isteriku. Namun selamatkanlah isteriku ini agar dapat melahirkan generasi pejuang agama-Mu di bumi Gaza ini. Allahu Akbar!!!” Abdullah pun melangkah tanpa ragu dan mengarahkan senapan ke arah para serdadu itu. Peluru satu per satu menembusi tubuh Abdullah.

Namun tak ada satupun yang mengenai tubuh Fayla. Dia benar-benar seperti parit yang melindungi penduduk madinah. Dia bak perisai baja yang melindungi Fayla. Dan Abdullah
pun terus menerjang tanpa mempedulikan peluru-peluru yang menghujaninya.

Abdullah pun memberondongkan senapannya ke arah puluhan serdadu itu. Dengan seizin Allah Abdullah berhasil menumbangkan banyak serdadu Israel yang menghadangnya itu. Sementara serdadu yang lain lari pontang-panting ketakutan.

Abdullah pun terus melangkah menuju rumah sakit tanpa peduli darah yang mengalir deras bagai aliran sungai eufrat dari sekujur tubuhnya. Dia terus melangkah.

Membawa Fayla menuju persalinannya. Membawa fayla dengan rengkuhannya. Membawa Fayla dengan cintanya.
Awan hitam menyelimuti Gaza siang itu. Matahari pun bersembunyi di balik mendung. Gaza berduka. Gaza menangis. Para syahid pun tersenyum menyongsong surga. Seorang wanita bernama Fayla, Faylasufa, berada di depan sebuah makam dengan menggendong bayi laki-laki yang tampan. Batu nisan makam itu bertuliskan sebuah nama, Abdullah bin Yasin. Gaza kembali menjadi saksi gugurnya seorang mujahid yang berjuang untuk agamanya, keluarganya, dan cintanya.

———–
Selesai ditulis di El Mansoura, Daqhaliya, 25 Februari 2009, 02.41 a.m
Aku dedikasikan karya ini untuk semua saudaraku seiman di Gaza

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *