Aura Candi Seribu Buddha

Heru C.N.
http://majalah.tempointeraktif.com/

Pada mulanya Borobudur adalah bangunan suci untuk peribadatan. Spiritualitas apa yang bisa digali untuk masa depan?
AURA spiritual Borobudur pernah menjadi magnet bagi masyarakat. Seorang pengamat budaya Jawa, Suryanto Sastroatmodjo, menggambarkan kuil tersebut sebagai obyek turisme sekaligus ziarah spiritual pada 1950-an. Dalam bukunya Menyingkap Tabir Misteri Borobudur, ia melukiskan fragmen-fragmen yang menyentuh di hari-hari tertentu. Sekelompok pengunjung dari berbagai usia bertafakur berjam-jam di kaki candi, lalu berjam-jam pula menyusun jari sesembahan di antara stupa-stupa besar. Kadang ada peziarah yang bertafakur dengan air mata menetes. Kadang ada sepasang suami-istri yang menciumi stupa berbentuk genta seraya menatap keteduhan dan kedamaian wajah sang Buddha.

Lima puluh tahun berselang, pemandangan itu adalah nostalgia belaka. Orang masih datang berziarah secara massal pada tiga momentum dalam setahun?salah satunya pada hari Waisak. Tapi, di luar hari-hari besar, altar kuil itu dikunjungi orang-orang yang digerakkan gairah turistik, eksotisme Timur, dan sambutan komersial pedagang asongan serta juru foto sekali jadi.

Dunia memang berubah. Dua kali Borobudur direstorasi: oleh Van Erp pada 1907-1911 dan kemudian di masa Orde Baru. Tapi keterangan resmi menegaskan bahwa tujuan pemugaran itu bukan menjadikan Candi Seribu Buddha?demikian sebutan sebagian orang?untuk persembahyangan umat. “Bentuk” asli dibangkitkan, sedangkan “isi” spiritualitas tak terjamah. Borobudur bukan lagi bangunan kuno yang masih berfungsi untuk beribadat. “Borobudur adalah sebuah dead monument,” kata Prof. Dr. Haryati Soebadio, bekas Direktur Jenderal Kebudayaan Departemen Kebudayaan dan Pendidikan, suatu waktu.

Borobudur dibangun dinasti Syailendra yang beragama Buddha Mahayana pada abad ke-8 sebagai sebuah bangunan suci untuk peribadatan. Dalam periode yang sama, Candi Pawon dan Candi Mendut, yang berjarak beberapa kilometer dalam satu garis lurus, dibangun. Borobudur tak berdiri sendiri. Prosesi ritual dilakukan dengan berjalan kaki dari Mendut, beristirahat di Pawon, lalu berakhir di Borobudur. Ada yang berpendapat bahwa Borobudur berdiri di atas candi Hindu Syiwa, agama yang dianut masyarakat setempat sebelumnya. Kehadiran Borobudur tak meletupkan konflik horizontal karena karakter kedua penganut agama tersebut sinkretis. “Borobudur adalah cara untuk mempersatukan raja, pemuka agama, dan rakyat,” kata Witono Widyapura, asisten Biksu Panyavaro, Ketua Vihara Mendut.

Mendut, Pawon, dan Borobudur sebagai tritunggal candi di Jawa memiliki keunikan masing-masing. Candi Mendut didesain menghadap ke arah timur laut, arah tempat pewartaan damma (darma) yang pertama. Di Candi Mendut, terdapat patung Buddha duduk dengan sikap tangan cakra pawarta, sedang mengajar. Bentuk candinya polos, tanpa relief kecuali pohon kalpataru. “Jadi Mendut untuk memperingati pewartaan damma yang pertama,” kata Witono.

Sedangkan Borobudur dibangun untuk memperingati pewartaan damma yang menyangkut kosmologi Buddhis. Karena itu, Borobudur banyak memuat simbol ajaran damma. Candi ini berbentuk punden berundak, yang terdiri atas enam tingkat berbentuk bujur sangkar, tiga tingkat berbentuk bundar melingkar, dan sebuah stupa induk sebagai puncaknya. Simbol-simbol utama termuat dalam stupa (tempat penyimpanan peninggalan Buddha), relief, dan arca Budha.

Contohnya, dalam setiap stupa, yang berjumlah puluhan buah, terdapat arca Buddha dengan posisi tangan yang berbeda-beda, masing-masing mengandung arti. Sikap damma cakra mudra adalah sikap mengajar, sikap dyani mudra adalah sikap meditasi, dan sikap wara mudra adalah sifat suka memberi. Sedangkan relief, yang berjumlah ratusan, berisi ajaran-ajaran hukum karma dan riwayat hidup Buddha.

Bagian terpenting dari simbolisme Borobudur adalah stupa, yang sesungguhnya merupakan tiruan alam semesta. Menurut filsafat agama Buddha, alam terdiri atas tiga bagian besar. Alam terbawah, kamadhatu atau kamaloka, menggambarkan kehidupan yang masih penuh dengan karma. Tingkat kedua adalah rupadhatu, alam antara, tempat manusia meninggalkan hal-hal duniawi. Sedangkan tingkat tertinggi arupaloka, alam atas, tempat para dewa. Bila orang mencapai tingkat ini, ia berada dalam ketenangan dan ketenteraman. Tingkat ini disimbolkan dengan stupa agung yang melambangkan kekosongan dan kebebasan abadi sebagai tujuan akhir dari kehidupan.

Dunia memang berubah. Tapi Marco Kusumawijaya, seorang arsitek di Jakarta, dan kelompoknya mencemaskan rencana pembangunan mal Jagat Jawa di kawasan Borobudur. Rencana itu seakan tanda kemenangan dunia kebendaan atas dunia spiritual manusia. Terlampau sentimentilkah dia? Yang jelas, Marco dan kawan-kawan melakukan perlawanan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *