Mencari Cinta di Mesir

Anitya Wahdini
http://jurnalnasional.com/

Ketika Cinta Bertasbih mencoba memuat setiap detail cerita dan karakter yang ada dalam novel ke layar lebar.
Judul Film : Ketika Cinta Bertasbih
Genre : Drama
Sutradara : Chaerul Umam
Penulis : Imam Tantowi
Pemain : Kholidi Asadil Alam, Oki Setiana Dewi, Alice Norin
Produksi : Sinemart Pictures
Durasi : 120 menit

Di dunia perfilman nasional, nama Habiburrahman El Shirazy mulai dikenal setelah sutradara Hanung Bramantyo memfilmkan novel Ayat-ayat Cinta, yang merupakan salah satu karya best seller-nya. Film yang dibintangi Fedi Nuril, Rianty Cartwright, dan Carissa Putri tersebut meraih sukses dan diklaim sebagai salah satu film terlaris karena ditonton jutaan penonton.

Tak heran jika kemudian masyarakat menaruh harapan besar saat setahun lalu dikabarkan novel best seller lainnya milik Kang Abik?sapaan akrab novelis itu?kembali dilayarlebarkan. Bahkan, audisi untuk para pemeran utamanya telah digelar hingga ke sembilan kota besar di Indonesia. Sebuah proyek besar yang disebut Sinemart Pictures sebagai produser, sebagai megafilm.

Film Ketika Cinta Bertasbih siap dirilis pada 11 Juni mendatang. Di tangan sutradara senior Chaerul Umam, film yang mengisahkan perjuangan seorang pemuda bernama Khairul Azzam (Kholidi Asadil Alam) dalam menyelesaikan studinya di Mesir, memiliki gaya penuturan dan efek yang berbeda dengan Ayat-ayat Cinta. Meskipun, berasal dari karya penulis novel yang sama.

Berpengalaman sebagai sutradara sinetron-sinetron religi, Chaerul Umam agaknya lebih senang dengan alur yang lebih lambat dan mengalir. Banyak dialog dan adegan yang mengedepankan dakwah akan ajaran-ajaran Islam, sehingga film ini menjadi lebih teduh dan bersahaja dari segi moral. Berbeda dengan gaya penuturan Hanung yang berapi-api, mementingkan keindahan visual dan dramatisasi cerita. Hasilnya, Ayat-ayat Cinta lebih padat dan komersial.

Dalam Ketika Cinta Bertasbih, penulis skenario Imam Tantowi mencoba menggambarkan serinci mungkin setiap detail cerita yang termuat dalam novel. Memang tak mudah mengadaptasi novel menjadi sebuah film. Ada perhitungan durasi dan skenario di dalamnya. Tak sedikit sutradara dan penulis skenario yang mungkin menggunting cerita di sana-sini bahkan mengubahnya sehingga menjadi sebuah tontonan yang lebih menyenangkan.

Namun, tidak demikian dengan Ketika Cinta Bertasbih. Gambaran alur persis seperti yang tersaji dalam novel. Dibuka dengan adegan Khairul Azzam saat menjalani pekerjaan membuat soto di acara Pekan Budaya Indonesia di KBRI Mesir yang dirancang oleh anak gadis Pak Dubes, Eliana (Alice Norin).

Dampaknya, banyak hal yang tak jelas di awal film. Tak sedikit tokoh yang muncul begitu saja tanpa penjelasan sebelumnya, seperti misalnya kehadiran Furqon (Andi Arsyil Rahman) yang tiba-tiba akrab dengan Azzam. Hingga akhir film, awal mula keakraban mereka tak pernah dijelaskan secara gamblang, mereka hanyalah sesama mahasiswa Indonesia yang kebetulan sedang menimba ilmu di Mesir. Tak mudah menerjemahkan seribu satu penjelasan yang termuat dalam novel ke dalam bentuk visual dan adegan.

Ketika Cinta Bertasbih berfokus pada kisah Azzam, seorang mahasiswa Indonesia yang menuntut ilmu di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. Kelulusannya tertunda selama sembilan tahun setelah ayahnya meninggal dunia, satu tahun setelah ia pindah ke Kairo. Alhasil, Azzam harus menghidupi ibu dan tiga adik perempuannya di Solo dengan berjualan tempe dan bakso. Dari pekerjaan itulah, Azzam kemudian mengenal Eliana, gadis lulusan Prancis yang memiliki pola pikir ala Barat.

Hati Azzam rupanya tak hanya terusik oleh kehadiran Eliana. Di tengah perjalanan, ia berjumpa dengan Anna (Oki Setiana Dewi), seorang perempuan Indonesia cerdas yang tengah mengejar gelar S2-nya. Sayang, perjumpaan keduanya terlambat karena Anna telah dipinang oleh Furqon yang tak lain adalah sahabat karib Azzam.

Kang Abik rupanya masih belum lepas dari konflik cinta segi tiga layaknya dalam Ayat-ayat Cinta. Bedanya, konflik percintaan dalam Ketika Cinta Bertasbih lebih rumit, karena melibatkan persoalan yang lebih kompleks dan tokoh yang lebih banyak. Bahkan, kisah Azzam-Eliana-Anna-Furqon bukanlah satu-satunya kisah cinta dalam film ini, karena masih ada kisah-kisah lain dari teman-teman satu rumah Azzam.

Kerumitan kisah ini tetap diangkat ke layar lebar oleh Chaerul Umam dan Imam Tantowi. Seolah tak ingin melewatkan setitik pun kisah dalam novel. Alhasil, alur sering lompat kian ke mari, berganti adegan dan tokoh. Padahal, tak ada salahnya menghilangkan bagian yang kurang mendukung keseluruhan cerita agar film menjadi lebih padat dan terhindar dari kebosanan penonton akibat durasi yang terlampau panjang dan kisah berbelit-belit ala sinetron.

Terlepas dari segala kekurangannya, Ketika Cinta Bertasbih tetap memperlihatkan keseriusan penggarapannya. Wajah para bintang baru hasil audisi memberikan kesegaran tersendiri meski mereka tak dapat dikatakan bermain cemerlang.

Untuk mengimbanginya, film ini juga didukung oleh belasan bintang senior papan atas, antara lain Deddy Mizwar, Didi Petet, Slamet Rahardjo, dan Ninik L Karim. Bahkan Din Syamsuddin, ketua umum PP Muhammadiyah, dan sastrawan Taufik Ismail sempat muncul sebagai kameo. Sementara, ilustrasi musik dan soundtrack ditangani oleh Melly Goeslaw dan Anto Hoed.

Selain itu, penonton juga dimanjakan dengan setting film yang juga disesuaikan dengan gambaran dalam novel. Mengambil tempat di Mesir, Ketika Cinta Bertasbih menyuguhkan pemandangan Kota Kairo, sungai Nil, Sphinx, Kota Alexandria, Laut Mediterania, bentang Qait Bay, dan beberapa tempat indah lainnya di Mesir.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *