Puisi-Puisi Ach. Nurcholis Majid

http://oase.kompas.com/
Mari Kita Bakar Anjing di Kepalamu dan Benalu di Sekujur Tubuhku

Angin baru saja usai, di tengah lautan, seseorang mengambang menjadi pesta ikan-ikan.
Di halaman, ayam bekisar berperang melawan seekor elang. Satu anaknya hilang dibawa terbang.

Di negeriku, demokrasi menjadi hantu yang membawa lari kemanusiaan. Rakyat seperti orang kencing di pojok pantai. Sambil mematikan rokok, meninggalkan pesing dan mengambil sedikit daun atau lupa membersihkan kelamin.
Mataku panas mengeluarkan api.

Aku tidur di atas keranjang sampah. Dan Permisifisme adalah sikap universal di negeri ini. Membuat kerongkongan dipenuhi belatung, cacing dan lalat yang hidup secara bergantian dalam semusim.

Ini bukan cerita Fir?aun atau Ratu Balqis yang begitu feminis, dalam suatu halaman buku.
Mari aku ambil sikat gigi dan sabun mandi. Sekujur tubuhmu ditumbuhi akar dan benalu. Mari bersihkan dulu. Negeri kita hampir hilang ditelan demokrasi.

10 Januari dini hari, seseorang ditemukan lagi, mati. Anjing-anjing memburu tubuhnya dan mungkin membaginya kepadamu?
Telingaku terserang sipilis karena menjadi corong berita kematian setiap waktu. Mendengung. Lihat! Dia tidak punya KTP, dompetnya hanya berisi harapan berdesakan.

Bung! Sebelum bulan padam di tengah langit, mari bakar anjing di kepalamu dan benalu di sekujur tubuhku.

Nurrobbi/Al-Amien Prenduan 2009

LEDAKKAN PADAKU

fitnah itu sangat menyakitkan abah, padahal kalau engkau mau, kau bisa meledakkan api pada sekujur tubuhku, hingga suatu waktu aku terbakar oleh amarahmu.
suatu malam aku memimpikan ular bergerak di riak rumah kita, sisa air hujan kemarin sore. maklumlah abah rumah kita tiada berpaving iman. jadi bukan salah siapa-siapa jika ular-ular itu mengapung seperti kenakalanku selama musim hujan bermain lumpur.
berulang kali fatamorgana memukau di kejauhan pandang, tapi sadarkah abah, itu hanya sebatas bayang menjadikan dahaga semakin gersang. pikiran abah telah direbut benci sehingga amarah berhasil meledak-ledak dari katup bibir dan detak hatimu.
jurang semakin rumit untuk dibuat pertapa, karena telah banyak curiga mengumpat dan bergumul dengan pasir yang ada, bersama cacing-cacing dan ulat-ulat kebencian. abah, ledakkan padaku semua api ragu, siapa tahu terlepas juga darinya pelangi yang terpendam.

-choiserobe.08-

One Reply to “Puisi-Puisi Ach. Nurcholis Majid”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *