Wanita dalam Panggung Sastra Indonesia

Atih Ardiansyah*
http://www.pikiran-rakyat.com/

Dalam “belenggu” tradisi Jawa, Kartini dipingit. Namun, ia tidak kehabisan akal dengan hal itu. Ia lalu sering menulis surat dalam bahasa Belanda lalu mengirimkannya kepada sahabat-sahabatnya di Belanda. Keluarga Abendanon menjadi salah satu sahabat penanya. Kartini menuliskan pandangan-pandangannya mengenai dunia wanita dan pentingnya berbuat sesuatu untuk memajukan kaumnya. Ia pun terkenal dengan motonya “Aku mau?” (Annida edisi No.8/XVI/ 15 April-15 Mei2007, hlm.16)

APA yang dilakukan Kartini sampai sekarang masih diingat bangsa kita. Apa yang membuat kiprah Kartini masih membekas sampai sekarang? Apa pula yang kemudian menyebabkan berdirinya sekolah Kartini? Jawabannya adalah, karena Kartini menuliskan pemikiran-pemikirannya, walau melalui surat-surat, bahwa betapa penting peranan kaum wanita. Bayangkan jika saat itu Kartini hanya mengatakan unek-uneknya. Mungkin akan lain ceritanya.

Walau tidak dikenal sebagai sastrawan, bolehlah dikatakan bahwa senjata Kartini-sebagai wanita-adalah tulisan (sebuah representasi yang dekat sastra). Melalui tulisanlah (surat-surat), jejak-jejak keinginan, ide, tertuang dan terlacak untuk kemudian direalisasikan. Wanita, selama ini memang masih diidentikkan sebagai back up bagi kaum laki-laki. Istilah dapur, sumur, dan tempat tidur, masih melekat dalam diri wanita. Tak terkecuali dalam sejarah kesusastraan kita. Selama ini kita lebih akrab dengan sastrawan-sastrawan lelaki, ketimbang sastrawan perempuan. Sehingga, Maman S. Mahayana sampai berkesan bahwa ada masalah dalam sastra Indonesia, yaitu penilaian bukan jatuh kepada kualitas karya sastra. Akan tetapi jatuh kepada persoalan gender (makalah seminar Maman S. Mahayana “Perempuan dan Agama dalam Sastra: Pengalaman Indonesia dan Kanada”).

Padahal, jika mencermati media massa yang terbit pada awal abad ke-20 (1906-1928), tidak dapat dinafikan bahwa sesungguhnya pada masa itu telah berlahiran para penulis wanita. Dalam dua dasawarsa (1908-1928) tercatat sedikitnya ada 15 majalah wanita yang terbit di berbagai kota di Indonesia. Pada masa kolonial, kehadiran Balai Pustaka tidak bisa dihilangkan sebagai lokomotif kesusastraan Indonesia. Dan di antara penulis Balai Pustaka pun terdapat penulis wanita yaitu Paulus Supit, Selasih (=Sariamin =Seleguri), dan Hamidah (=Fatimah Hasan Delais).

Selepas merdeka, jumlah pengarang wanita mulai bertambah, beberapa di antaranya adalah Arti Purbani (istri Husein Djajadiningrat) dengan novelnya Widiyawati (1949). Pengarang-pengarang wanita lainnya, di antaranya Luwarsih Pringgoadisuryo, Titis Basino, Th. Sri Rahayu Prihatmi, Haryati Subadio (Aryanti), Marianne Katoppo, Oka Rusmini, dan N.H. Dini. Malah, N. H. menempati posisi paling istimewa, terutama dengan novelnya Pada Sebuah Kapal (1973).

Dilanjutkan setelah itu oleh Ayu Utami lewat Saman (1998), dan Larung (2001). Diikuti oleh gebrakan Dewi Lestari dengan Supernova (2001), Akar (2002), dan Fira Basuki dengan Jendela-jendela (2001) yang merupakan bagian pertama dari trilogi Pintu (2002) dan Atap (2002).

Terbaru dan paling gress, komunitas penulisan terbesar di Indonesia-Forum Lingkar Pena-juga diprakarsai oleh wanita yaitu Helvi Tiana Rosa, Asma Nadia, dan Muthmainnah. Helvi bahkan dikenal sebagai lokomotif penulis muda Indonesia (Republika), Asma Nadia telah menulis lebih dari 25 buku, dan Muthmainnah yang tulisannya banyak ditunggu oleh anak muda.

Sekali lagi, tidak dapat disangkal memang peranan wanita dalam perkembangan sastra di negeri ini. Memang benarlah apa yang disabdakan Nabi Muhammad, “Wanita itu tiang negara. Jika baik wanita, maka baik pula negara. Akan tetapi jika buruk wanita, maka buruk pula suatu negara.”

Semoga, sastra wanita Indonesia bisa makin eksis. Eksis, bukan untuk menyaingi karya sastra (atau sastrawan) kaum laki-laki. Tetapi untuk melengkapi dan makin memperkaya kesusastraan Indonesia. Sehingga, apa yang dikesankan oleh Maman S. Mahayana bahwa penilaian karya sastra Indonesia bukan pada kualitas namun lebih pada masalah gender, hanyalah sebuah kekhawatiran semata. Dan jejak-jejak Kartini dahulu, bekasnya tidak terkikis oleh laju zaman.

*) Mahasiswa Fikom Unpad, penulis buku dan skenario)***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *