Aku, Suara, dan Maryam Kedua

Krisandi Dewi
http://www.facebook.com/people/Krisandi-Dewi/1177407133

Sekali lagi hujan turun kesekian kali hari ini.
Entahlah kenapa Tuhan tak sekaligus saja menurunkannya, sekalian mengguyur lapak-lapak tandus juga tanah bedeng yang biasanya sekali siram,apa-apa yang di atasnya pasti akan tenggelam,terendam.
Ah, tapi aku sudah bosan menelaah dan menerka kenapa Tuhan bertindak seperti ini, berkehendak layak itu.
Otakku sudah dungu, jadi tak mau lagi aku membuatnya semakin berkarat lalu sekarat gara-gara itu. Aku lebih melamunkan yang ada di tengah sawah saat ini.

Hujan pagi tadi telah melumerkan tanah halaman depan juga halaman belakang.
Pasti untuk hujan kelima ini,yang tiap tiga jam berselang sejak pagi sudah mampu membuat katak-katak berteriak girang di sepanjang sawah yang hanya seukuran dua bau itu.
Namun, bukan itu yang sedang kupikir, bukan pula tentang padi-padi yang belum juga menguning, apakah ikut terendam, tercerabut,patah, atau apapun lah.
Apalagi tentang katak-katak yang sedang girangnya berenang, apakah masih bisa bertahan atau malah mencapai ajal karena air sawah sudah jadi serupa bah.
Atau juga sepasang ular sawah yang tak siap mengatur nafas setelah puas menggelinjang dalam lobang,hingga akhirnya saling melilit,saling mengait, lalu tewas karena genangan air hujan yang luar biasa menyerang lalu menutup semua saluran lobang keluar.
Aku sama sekali tak memikirkannya.
Tak kupedulikan semua itu, kecuali satu..
?Maryam…Perempuan tengah sawah.Cinta keduaku??.

Setelah istriku meninggal, hanya dia yang mampu menggantikan.Ia rajin menungguku setiap kali aku harus mengolah sawah, menyiangi rumput yang sedikit-sedikit merambah liar di sekitar pematang,sekalian buat pakan ternak dua sapiku yang tenaganya lebih sering kubuat membajak petak sawahku saat tengah hari.
Ah,perempuan tengah sawahku?aku merindukannya hari ini.Sangat.
Jika saja hari tak harus hujan.Sial!

Dia adalah sisi lain dariku..(sedang aku hanya ?suara?. tanpa daya, jarang sekali mau didengarnya)
Dia adalah sisi lainku, pria yang rindu kasih istri juga sayang seorang ibu.
Dan pada orang-orangan sawah itulah dia temukan jiwa Maryam,almarhumah istrinya. Juga sosok ibunya, Marsinah.
Mungkin pula Lastri, Nur Sulastri lengkapnya,anak perempuan yang hanya setahun menghirup dunia lalu pergi menyusul ibunya yang dulu mati setelah beberapa saat melahirkannya.
Aku hanya ?suara? yang entah jelas atau tidak telah berjalan dari saraf otak lalu pelan-pelan menyusup ke tiap serat urat berusaha kukuh menuju benak.Hanya ingin menyadarkannya, bahwa cinta keduanya hanyalah orang-orangan sawah.
Tak bernyawa.Tak berjiwa.
Hampa.

Aku mengambil capilku di palang depan pintu dapur.Memakai jas hujan dari kantong plastik hitam yang baru kugunting semalam.Aku merindukannya.Sangat.
Maka tak peduli hujan deras,atau jalanan sungai berparas yang mungkin saja membuatku terpeleset lalu tewas.Tentunya dengan badan luka-luka,bergores,robek,nyinyir anyir berdarah.Seperti ikan bawal setengah dicacah.
Sungguh, aku tak lagi menghiraukannya..
Rindu bersenggama dengannya adalah hal terindah yang kurasa hari ini, sekaligus jengah karena tak bisa melampiaskan rindu itu dengan mudahnya.Dengan capil,jas hujan dari plastik hitam, dan tanpa alas kaki, aku pergi…
?Tunggu aku Maryam, tunggu aku sebentar lagi…?

Ah, piciknya dia.Lagi-lagi suara dariku tak mau didengarnya.
Suara terdekat, yang melekat disetiap tulang belikatnya, yang harusnya bisa mengikatnya untuk tak berangkat.
Tapi tetap saja ia melawan, menentang untuk tetap pergi menemuinya.
Padahal apa pentingnya perempuan itu, hanya orang-orangan sawah tanpa nyawa, tanpa jelas rupa.
Perempuan yang dibuatnya dari potongan-potongan kayu mahoni, sisa merenovasi palang dapur yang nyaris ambruk di musim penghujan keempat yang lalu.
Ia ciptakan ?Maryam kedua?,(duplikat istri pertamanya, katanya)
dengan dasar dua bilah kayu, dipaku membentuk salib, juga dari jerami, tali, tiga batok kelapa ; satu, yang ukurannya paling besar dijadikan kepala Maryam. Dan dua lainnya, dibuatnya serupa payudara .Ia ukir tempurung Maryam, menggambar mata, melukis alis,bibir, hidung, tapi tanpa telinga.Entah lupa atau sengaja.

Maryam kedua memang muncul, berbusana kebaya yang Maryam pertama kenakan di malam pertama perkawinannya.Sama-sama memberi kepuasan, tapi khayal.
Sebab orgasme yang Maryam(perempuan tengah sawah) rangsang, hanya bisa dilakukan di pematang, bukan di atas ranjang layaknya yang biasa dilakukan Maryam sebenarnya, perempuan yang sekarang selalu berbaring tiap malam di makam.
Entahlah, kenapa suaraku tak mau ia dengar.suara dari batinnya sendiri.
Ia lebih berkenan mangkal di sawah, di gardu mungil tempatnya memadu,mencumbu..
Juga di bajak sapi, tempatnya dengan Maryam kedua memasung sepi.
Sedangkan makam istrinya(Maryam pertamanya),ibu, pun makam Sulastri, hanya sebulan sekali ia datangi.Itu pun tak pernah ia menabur kembang..

?Kang, Kang Burman,Sampeyan mau kemana hujan-hujan gini???, tanya seseorang dengan lantang di seberang jalan.
?Oh, Dek Idang..mau ke sawah.Sampeyan sendiri darimana, hari ini tidak mulang??,tanyaku.
?Ada rapat Kang tadi, jadi murid-murid pulang pagi.Kang Burman hujan-hujan seperti ini hendak apa Kang di sawah..Bahaya.Tanggul sebelah selatan kemarin kan dikabarkan sedikit jebol?.
?Ah, hanya hendak matrol kok Dek.. ingin lihat saluran irigasinya gimana kalau hujan seperti ini.Aku tinggal dulu ya Dek..?
?Oh,monggo Kang.Hati-hati, jalanan licin…?
Buru-buru aku pamit, ngeloyor darinya sebelum diwawancara lebih detail oleh guru sukwan di salah satu Sekolah Dasar di kampungku itu.
Tak mungkin keceritakan bahwa aku jengah jika harus terus di rumah, memendam birahi terhadap Maryam sekaligus cemas yang teramat karena membiarkannya sendiri di tengah sawah.

Arrghh…padahal sudah kubisikkan padanya.?jangan pergi ke sawah hari ini?.
Tetap saja,suaraku, suara batin mungilnya sendiri dianggap angin lalu.Di pikiran dungunya hanya ada Maryam kedua.Perempuan yang sejatinya hanya terangkai dari dasar kayu mahoni, berdaging jerami, berbelikat tali ikat, berkepala pun dua payudaranya tercipta dari batok kelapa.
Hanya orang-orangan sawah, yang dalam imajinya, patung jerami itus sempat berkata,
? Kang, aku ingin menjaga sawah kita.Dari binatang-binatang jalang tak diundang, juga ingin menjadi saksi pertama jika air bah itu benar datang.Jadi tak perlu kau bawa aku ke rumahmu. Bukankah setiap saat kau merindukanku, kau senantiasa akan kesini.
Dan aku akan rutin menunggumu, di pojok gardu itu. Lalu kita akan saling mencumbu..?
Betapa mirisnya memang.maka suaraku tak lagi kubiarkan lirih atau berbisik seperti sebelumnya.Aku malah berteriak.Bberharap telinganya pekak kemudian sadar.
Tapi lagi-lagi..
Jangankan ia bertanya padaku, ?siapa kamu??, yang lalu akan ku jawab, ?ini aku, suaramu.suara batin kecilmu?,Justru ia sama sekali tak menganggapku ada. Tak bisa ia raba.Sudah, sudah lelah.aku terlalu tak berdaya.

?Maryam, aku datang?, kulihat Maryamku wajahnya pucat menggelap.
Daging-dagingnya lembek, kuyup.Tapi tetap kukaton ia cantik, menawan, semakin menggairahkan.
Kebaya kuning dengan tiga kancing menjadi sangat transparan ditubuhnya.
?Aku jarang sekali melihatmu seperti ini, Maryam.Dagingmu yang kuterawang halus sungguh merangsang untuk kuelus.Matamu sedikit sayu, bibirmu basah sebelum aku menularkan gairah megah lewatnya.Hidungmu, alismu adalah rindu yang kutumpuk dari rumah sedari pagi.Aduhai….Maryam, kau memang wanita yang pandai membuatku terangsang mabuk kepayang..?.
Dan tiba-tiba saja, dua payudaramu terlihat tak simetris.Entah kenapa.Tapi aku bahagia, sebab perlahan-lahan aku bisa menyentuhnya, meremas, hangat.Membayang ada puting yang bisa rutin aku pilin, sebelum akhirnya anak kita lahir (jika mungkin).
Dan pastinya ia akan mengambil alih kebiasaanku itu, menyusu padamu.
Aku berbisik pada Maryam,tapi tak lewat telinganya sebab kuciptakan ia tanpa bertelinga.
Aku meraba belah dadanya, beranggapan benaknya mengendap di sana.
Lalu aku bilang, ?Maryam, besok jika tak hujan, dan semua yang di sawah ini telah kering, akan kubuat daging-daging baru untukmu.Dan mengganti kebayamu dengan yang baru.Biar esoknya kau dan aku bisa melanjutkan prosesi mesra di pojok gardu.
….Aku rindu Maryam.Rindu menidurimu..

Suaraku benar-benar pudar, bukan lagi samar.
Tak lagi berlaku saat air segunung itu melanda, bukan hanya jebol dari tanggul selatan, tapi barat, timur, juga utara.
Semua menghempas lahan-lahan perkampungan, sawah, bedeng, segalanya dibabat,tamat!
Bahkan nisan kubur Maryam, Ibu, dan Lastri ikut tercerabut..Entah tengkoraknya tersangkut disungai, ladang, atau selokan mana.Tulang-belulangnya berhambur, hancur terhanyut bah, mengalir di derasnya banjir menuju hilir.
Ah, suaraku tak mampu memberi isyarat lagi.Ikut terhempas, saat dia,lelaki bernama Burman itu, suami Maryam, sosok lain yang menyimpan ?aku? sebagai perisai berupa ?suara batin? telah hanyut bersama katak-katak yang tak bisa tahan berenang, ular sawah yang terendam lalu tertusuk dahan runcing pohon ketapang, dengan ikan-ikan kecil yang kemarin gagal diumpan oleh mata kail,bersama bangkai yang terburai di penampungan sampah, juga darah yang samar melarut di keruh air banjir, semua teraduk jadi satu.

Ah, seandainya kau mau mendengarku(suara batin kecilmu) untuk tidak pergi ke sawah hari ini.Mungkin esok kau tak harus ditemukan tewas dengan lambung kiri tertancap dua bilah kayu mahoni..

?…Aku rindu, Maryam .Rindu menidurimu….?
-Lalu Maryam pun, perempuan orang-orangan sawah itu, membawa raga pria yang mencintainya semakin jauh.-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *