KRITIK SEORANG DARA PADA LELAKI ISENG

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

?Rumah Dara? adalah cerpen pertama Titis Basino yang dimuat majalah Sastra, No. 12, Th. II, 1962. Sebagai cerpen seorang pemula yang ditulis Titis dalam usia 23 tahun ketika ia menjadi mahasiswa FSUI, tentu saja cerpen ini tergolong mengejutkan. Bahasanya mengalir tenang, potret sosial yang diangkatnya barangkali mewakili kondisi anak dara seusia itu pada zamannya, dan emosi yang dihembuskan si tokoh aku, terkesan begitu arif dan matang. Sepertinya, tokoh aku dalam cerpen itu laksana seorang dewasa yang melihat teman-teman sebayanya berbuat sesuatu yang tak pantas menurut norma.

Secara tematis, cerpen ini mesti diakui, tidaklah terlalu istimewa. Sebuah problem sosial yang sangat mungkin bisa terjadi tidak hanya di kota-kota besar di mana pun, tetapi juga di pedesaan ketika masuk pengaruh luar. Oleh karena itu, tema cerpen ini sesungguhnya universal. Bagaimanapun, peristiwa semacam ini, mungkin pula terjadi kapan saja. Dalam hal ini, ketika seseorang memasuki wilayah usia transisi antara remaja dan dewasa, bisa saja ia tiba-tiba merasa sudah sangat dewasa dan bergaul dengan orang-orang yang jauh lebih dewasa. Maka, berbagai kemungkinan buruk pun dapat saja terjadi. Jadi, Titis pada masa itu sudah dapat mencermati bagaimana perubahan sikap, perilaku, dan kultur, mulai melanda kalangan anak dara masa itu atau perubahan itu terjadi pada seseorang ketika ia memasuki usia-usia transisi.

Dalam hal pelukisan latar tempat, tampak benar penulisnya masih mengesankan kegagapan. Namun, ketika ia mengangkat karakter tokoh-tokohnya, baik teman-teman di pondokannya, maupun para lelaki hidung belang yang baru dikenalnya, Titis berhasil mengungkapkan sebuah potret sosial. Dan keberhasilan itu justru dilakukan melalui penggambaran yang terkesan begitu bersahaja; lugu dan sederhana. Perhatikan kutipan berikut ini:

Kamarku di depan. Aku bisa melihat keluar masuknya teman-teman tiap malam Minggu kalau aku mau; tapi itu merupakan barang yang aku haramkan. Memang hatiku selalu mengajak menengok siapa gerangan teman ke luar mereka malam ini. Dan sekali dua kali keinginan ini tak bisa aku tahan kalau sudah aku dengar betapa sibuk dan riuhnya mereka di depan pintu. Laki-laki itu ingin bicara terus dan temanku selalu ingin lekas-lekas masuk. Dan laki-laki itu biasanya masih berbicara setelah duduk dalam mobilnya.

Kalau saat-saat seperti itu aku tengok, pasti aku melihat film tanpa bayar dan tanpa layar ?.

Cermati cara bertutur tokoh aku. Ia seperti bercerita tanpa pretensi, tanpa beban. Tetapi di balik itu, ada sesuatu yang disembunyikan. Pernyataan, ?Laki-laki itu ingin bicara terus dan temanku selalu ingin lekas-lekas masuk?. laki-laki itu biasanya masih berbicara setelah duduk dalam mobilnya,? sesungguhnya memberi gambaran psikologis yang cukup mendalam mengenai rasa penasaran si lelaki iseng dan rasa kesal si anak dara, teman tokoh aku. Dan seperti lazimnya di banyak asrama wanita, peristiwa seperti itu, bukanlah hal yang luar biasa lagi.

Demikian pula pernyataan: ?Kalau saat-saat seperti itu aku tengok, pasti aku melihat film tanpa bayar dan tanpa layar ?.? menunjukkan kearifan Titis Basino yang tidak mau mengatakan adegan ?film tanpa bayar dan tanpa layar? secara eksplisit. Meski begitu, kita tahu bahwa itu dimaksudkan sebagai adegan berciuman atau sejenisnya. Jadi, pilihan kata, kalimat dan ungkapan dalam cerpen ini memperlihatkan kecerdasan pengarangnya untuk menjaga agar cara bertuturnya tidak jatuh pada pernyataan-pernyataan yang eksplisit dan vulgar.

Ketika si tokoh aku menimbang-nimbang beberapa temannya yang hendak dipilih menjadi pemimpin rumah pondokan, deskripsi mengenai teman-temannya (Jus, Norma, dan Marselia), juga sepertinya tanpa maksud apa-apa. Padahal, deskripsi itu justru menjadi salah satu bagian penting dalam kerangka membangun tema yang hendak disampaikan. Marselia yang dianggap saleh, misalnya, ternyata menyimpan sisi gelap di belakangnya. Dan si tokoh aku menyampaikannya, juga dengan cara implisit.

Pagi-pagi aku bangun oleh ketukan pintu depan. Dan setengah tidur aku buka pintu. Berdirilah di depanku Marsel dengan bajunya yang hanya bertali kecil di pundaknya.
?.

? Aku kira kau sudah siap ke gereja pagi ini. Kiranya pulang juga belum. Aku menyindir tanpa melihat reaksi apa yang ada di mukanya. Marsel diam tidak menyahut. Kediaman tiap pencuri yang ketahuan.

Adakah hal yang aneh dalam kutipan di atas? Perhatikan gambaran baju Marsel yang disampaikan tokoh aku: ?? bajunya yang hanya bertali kecil di pundaknya? dapat saja sebenarnya dikatakan: bagian dadanya setengah telanjang atau bajunya setengah terbuka, tanpa bra. Lalu, apa yang terjadi jika seorang dara dengan pakaian yang seperti itu, baru pulang pagi hari? Pasti ada sesuatu yang tak beres, satu penyimpangan norma yang tak perlu disampaikan secara eksplisit. Dan Marsel sendiri mengakui perbuatannya tanpa harus mengatakannya: ?Marsel diam tidak menyahut. Kediaman tiap pencuri yang ketahuan.?

Mengapa mesti menggunakan ungkapan: ?Kediaman tiap pencuri yang ketahuan? dan bukan ?pencuri yang tertangkap basah?? Mengapa pula dianalogikan dengan pencuri? Jelas di sini Titis berusaha menghindar bentuk klise. Selain itu, makna ungkapan ?pencuri yang tertangkap basah? cenderung mengesankan sebagai suatu pekerjaan atau perbuatan profesional. Sementara, ungkapan ?pencuri yang ketahuan? lebih bermakna mencuri sebagai keisengan, sekadar coba-coba atau dilakukan seorang amatiran. Kembali soal pilihan kata menjadikan cerpen ini terasa matang.

Tiga nama tokoh (Jus, Norma, dan Marsel) yang disampaikan tokoh aku, boleh jadi merupakan representasi anak-anak dara yang lepas kendali. Jus yang semula dianggap sering marah dan kurang bergaul, justru yang kemudian menceburkan tokoh aku pada lingkungan pergaulan lelaki hidung belang. Norma yang terlalu sering ke luar malam, belakangan malah menjadi orang pertama yang menyadari adanya ketidakberesan dalam pergaulan anak-anak dara di rumah pondokan itu.
***

Kepiawaian Titis tidak hanya pada penggambaran karakter tokoh-tokoh wanita yang memang telah menjadi bagian dari dirinya selaku wanita, tetapi juga pada penggambaran tokoh lelaki. Bagaimana keadaan pesta para lelaki iseng, cara menggombalnya, dan sekaligus taktik menjerat buruannya. Semua disajikan secara cukup meyakinkan. Perhatikan kutipan berikut ini:

Begitulah malam itu aku ada di situ. Di antara orang-orang yang bukan lingkung-anku. Semua tampangnya bulat dan gemuk. Pipinya seperti memakan sesuatu. Tertawanya amat memuakkan.

Aku ingat pesta di sekolah. Semua kelihatan muda dan segar. Sedang yang ada saat itu semua muram dan mesum. Katanya pesta, tapi orang-orangnya hanya minum bir dan merokok. Sambil sebentar-sebentar tertawa antara mereka. ?.

Ada kontras yang hendak diangkat di sana: pesta yang bukan lingkungannya dengan pesta di sekolah. Semua tampangnya bulat dan gemuk, semua muram dan mesum, hanya minum bir dan merokok, dan sebentar-sebentar tertawa ? dengan keadaan pesta di sekolah yang semua kelihatan muda dan segar. Tentu pesta di dalam sekolah tidak ada orang minum bir dan merokok. Gambaran orang-orang dengan sosok: bulat-gemuk, muram-mesum, yang ditingkahi bir-rokok, dan tertawa merupakan prototipe para lelaki iseng yang kelebihan uang dan di rumah tak bahagia. Bir-rokok dan tertawa itu juga merupakan bagian penting yang selalu menjadi semacam aksesoris para lelaki semacam itu.

Kontras itu tidak hanya antara pesta anak-anak sekolah dan pesta para lelaki iseng, tetapi juga wajah dan perilaku mereka. Muram dan mesum dengan tertawa menunjukkan betapa para lelaki iseng itu penuh diliputi kemunafikan, kamuflase dari keadaan jiwanya yang tak beres. Dengan deskripsi seperti itu, makin jelas bagaimana anak-anak dara itu mencoba-coba menjadi orang dewasa dan bergaul dengan para lelaki yang sudah sangat matang dalam persoalan yang berkaitan dengan hubungan jantina. Jadi, kembali, cerpen yang tampaknya sederhana ini, sesungguhnya menyimpan problem sosial yang serius.

Gambaran tersebut didukung pula oleh cara lelaki itu menggombal dan menjerat mangsa buruannya. Bahwa tokoh aku kemudian pulang diantar oleh salah seorang lelaki itu dan ia merasa telah ditolong lelaki baik-baik, menunjukkan kemahiran menggombal dan menjerat lelaki itu dan sekaligus juga memperlihatkan keluguan si tokoh aku. Belakangan diketahui bahwa lelaki yang dianggap sebagai orang baik-baik itu, ternyata tunangan Norma, temannya. Dan Norma sendiri menyadari kelakuannya yang kacau.

Di akhir cerita, Norma bermaksud pindah pondokan. Ketika lelaki itu datang dan mengetahui bahwa Norma tak ada di situ, lelaki itu malah mengajak tokoh aku dengan memperlihatkan setumpuk uang. ?Aku ternganga. Dia tertawa terkekeh-kekeh dan aku tinggalkan dia menyelesaikan tertawanya.? Sebuah pesan terselubung berhasil disampaikan pengarang. Meninggalkan lelaki itu menyelesaikan tertawanya memperlihatkan sebuah garis demarkasi; dua dunia yang berbeda; tokoh aku punya sikap yang tak tergoda uang, dan si lelaki itu dibiarkan menyelesaikan kamuflasenya.
***

Sebagai sebuah cerpen seorang pemula, karya ini secara jelas memperlihatkan potensi pengarang dalam menyajikan fakta sosial. Kritiknya yang halus dan pesan-pesan moralnya yang terselubung telah menempatkan cerpen ini tidak jatuh pada cerita populer ?apalagi sebagai karya propaganda, yang mengharamkan ketaksaaan (ambiguitas) dan mengharuskan pesan disampaikan secara eksplisit.

Menempatkan cerpen ini di dalam konteks kepengarangan Titis Basino, sangat wajar jika sejumlah pengamat sastra menyebut Titis sebagai pengarang yang cerdas, bahasanya lancar dan segar, jujur dalam mengungkapkan perasaan wanita dan berani menelanjangi kebusukan lelaki. Dan semua itu, sudah tampak dalam cerpen pertamanya ini.

*) Pengajar FSUI, Depok.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *