Mir Hossein Mousavi, “Bertapa” Selama 20 Tahun

Nuswantoro
http://jurnalnasional.com/

SAAT layanan SMS di Iran terganggu, akses internet diganjal, jejaring sosial maya seperti facebook dibuka-tutup, dan semua itu justru terjadi pada saat laga pemilihan presiden berlangsung, orang pun bertanya. Seberapa kritis posisi Mahmoud Ahmadinejad kini? Di sebaliknya ada sang penantang, yang beraliran moderat konservatif, Mir Hossein Mousavi.

Seperti kutup berlawanan dari Ahmadinejad, Mousavi adalah sosok yang lembut dan tidak berapi-api. Dalam sebuah wawancara, bahkan dikatakan, Mousavi menjawab pertanyaan dengan seolah-olah tengah berbisik. Meski bukan sosok yang garang, ia disukai kaum muda perkotaan Iran–oposan yang enerjik, berpendidikan, dan melek teknologi. Sangat berbeda dengan kaum muda pendukung Ahmadinejad yang terkonsentrasi di perdesaan, miskin, dan gagap dengan internet.

Dilahirkan di Khameneh, sebuah daerah di Barat Laut Iran, 67 tahun lalu, Mousavi berasal dari keluarga pedagang teh dan disebut-sebut masih punya hubungan darah dengan Ayatollah Ali Khamenei. Pada tahun 1981 hingga 1989 ia menjadi Perdana Menteri, sebelum kemudian jabatan itu dihilangkan dalam politik Iran. Sejak itu ia memutuskan menyepi dari gelanggang politik, dan memilih bekerja sesuai bakat seninya, sebagai seorang seniman dan arsitektur. Beberapa bangunan berciri postmodern dihasilkannya dalam kurun waktu ini.

Jalan kembali ke panggung politik makin terbuka lebar, setelah mantan presiden Mohammad Khatami yang moderat memilih mundur dari pencalonan untuk memberi kesempatan kepada Mousavi. Khatami beralasan dirinya tidak ingin suara oposisi terpecah. Ini seperti politik balas budi karena pada 1997 Mousavi urung mencalonkan sebagai presiden dan memberi kesempatan kepada Khatami yang kemudian memperoleh suara besar pada pemilihan saat itu. Pemilihan presiden Iran sendiri adalah laga yang riuh. Ada lebih dari 470 pendaftar, namun oleh majelis yang ditunjuk, yang terdiri dari 12 tokoh agama, hanya meloloskan empat calon.

Ahmadinejad sering kali mengatakan bahwa kaum perempuan adalah jiwa masyarakat Iran. Mousavi melakukan sesuatu yang lebih memikat dari itu. Istrinya, Zahra Rahnavard (64), seorang doktor sastra dan politik, diajaknya ikut serta dalam kampanye. Dan ini adalah sesuatu yang baru bagi politik Iran. Bahkan tak segan-segan Mousavi menggandeng tangan Rahnavard di panggung kampanye, di hadapan para pendukungnya. Rahnavard sendiri mendukung undang-undang pemakaian jilbab. Berbeda dengan kebanyakan perempuan Iran, ia yang juga dikenal sebagai aktivis perempuan ini kerap tampil dengan jilbab bermotif bunga. Kehadiran Rahnavard tak urung menjadi pesona lain Mousavi.

Ayah dengan tiga anak ini jarang menyinggung masalah internasional dalam kampanyenya. Ia lebih memilih mengangkat isu dalam negeri, seperti soal ekonomi, korupsi, dan hak-hak perempuan. Namun sebagaimana sikap pemimpin Iran lainnya, Mousavi tegas dalam soal keberadaan negara Israel, dan nuklir untuk tujuan damai.

Lalu dunia menyaksikan lewat gambar-gambar yang “bocor” ke luar Iran, anak-anak muda yang modis berteriak-teriak mendukung Mousavi. Beberapa di antaranya membawa poster dengan tulisan berbahasa Inggris.

Dalam sebuah wawancara Mousavi mengatakan, “Pesan saya telah mencapai mereka. Perubahan telah dimulai.” N Nus/Reuters/BBC/Time

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *