Puisi-Puisi Denny Mizhar

SISA PERTANYAAN AKAN KENANGAN

Bulan jingga setengah rentah
menyapa degub hati gelisa
hanyut dalam kesepian malam purna

Berserat-serat tarian dedaunan
memuja kelam
pada kejinggan dalam keterjagaan

Gegunungan memandang,
menunduk – berderet

Baris-baris lampu kota
hiasan mata memandang
Jauh lanskap petunjuk malam
pesona perbukitan, dimana kota menjadi kenangan

Seperti kemarin
dari jauh penuh harap
kau memandang

Kini ku dapati
kau menyelinap dibalik semak-semak, entah kemana?

harapan tertinggal sia
meranggas seperti jati di musim kemarau

kau pertanyakan perihal cinta, kepadaku?
mengejar
menyergap
terdesak
tertinggal keyakinan
tak mampu berkata-kata

Rembulan remang bercampur bintang
penghias malam serta petunjuk nelayan

Aku terperangkap dalam lembah-lembah, malam pekat
tak sadar lalu hilang,
bagai ashabul kaffi
mata terbuka dengan kebaruan

(Dimana ku temui percakapan panjang para filosof
tentang kebenaran cinta: sehabis aku tertidur didalamnya).

Malang, November 2008

MENGENALMU
;nt

Biarkan aku mengenalmu. Lewat tubuhmu dari ujung rambut hingga ujung lentik jemari kakimu. Belai panjang rambutmu temukan serpihan fikirmu, inspirasikan jalan terjal. kehidupan pengembala peradaban.

Kecup kening-cium bibirmu, temukan keindahan bahasa kemanusiaan lewat air liur yang menetes kendalikan nafsuku,
merajut nilai-nilai suci

Pelukkan tubuhmu mengajak pergi jauh temui lorong-lorong panjang kemunafikan, terhentikan seketika saat kenikmatan kuasai semu surga janjimu.

Dan kukenal pertikaian dari balik sikap tubuh acuh-bergumul, dengan laras senapan tak pernah berhenti menekan pelatuknya, ambisi kepuasan selaput tipis menurunkan derajatmu.

Kau mulai melepas sutra yang menempel ditubuh, membuat lupa siapa diriku? hatiku mati seketika bersama ledakan meriam-meriam tak pernah henti.

Harapku: kembalikan ranum bibir manis-bertabur senyum kemanusiaan, hentikan dangkal fikir-hidupkan luka hati

Mulai kenalkan kaki, langkah tegap menuju surga-surga tak berujung

Malang, 10 Januari 2008

KENANG PURNAMA

Pada malam purnama
Terbawa dalam satu asa
Bergelimpangan kesadaran

Terbang bersama ilusi
Temui gemintang berdegup kencang
Perjalanan seorang putri penjaga mimpi

Satu luka mengelupas dibawah bayangan bulan
Menginjak satu petanda zaman
Dua dinding hati membuka

Air tumpah
Di pelipis mata rindu
Lama tersimpan duka

Berjalan lambat
Mengikat pada satu langkah
Sakral tertumpah dalam peluk jiwa

Malang, Februarai 2009

DI PINTU MALAM

Terbuka sudah
Rahasia surga

Mengintip tanah tak rata
Kening menjadi saksi mata

Berduan larik sajak
Ketuk pintu ditiga baitnya

Malang, Februari 2009

MENJELANG PAGI

Seorang putri
Memamah payu darahnya
Terayu dahaga

Embun jatuh ditubuhnya
Tak sempat basah
Sudah tergugah

Bergeleparan mata terjaga
Berlarian rasa terjajah
Sembunyi di bilik dosa

Malang, Februari 2009

SEPEREMPAT MUSIM

Seperempat musim meretas nasib. Melahirkan aku yang kalah menyiasati waktu. Berlinangan darah mrembes ke dada, seketika berdegup kencang. Tanah-tanah tak lagi basah bahkan melebihinya. Ratusan mulut menganga: kedinginan tanpa tirai kehangatan.

Papan-papan kayu berlarian terus berputar. Serupa hantu tanpa waktu memenjarakan aku yang beranjak sembunyi?seakan tak mau tau. Kalimat suciku runtuh berlinangan air mata. Tak sanggup menahan haru.

Sedang segerombol orang menyelam tak sampai dasar tanah, lalu banyak bicara sembari tertawa tergelak-gelak tanpa pelatuk lucu. Aku kembali runtuh tak mampu mengadu. Di seperempat musim aku mati kutu.

Lamongan, Februari 2009

NYANYIAN PEZIARAH

Semburat aroma dupa
wewangian kembang tujuh rupa
masuk mata memicu mantra-mantra
do?a menjadi sedekah

Langit menangis
mukanya pekat-lebam
disertai teriakan petir
menjilat-jilat pepohonan
ranting patah
tanah-basah

Dalam ragu
orang-orang meminta keselamatan
menukar dengan dupa
kembang tujuh rupa

Langitpun tersenyum
dalam nada sakral para peziarah

petikkan melodi ingatan beku

kembang dupa mekar wangi
naiki langit
dinada akhir lagu merdu

Gunung Kawi, 3 Januari 2009

MERINDUMU
;kawan lama

Terkadang ada setumpuk rindu
dan lewat begitu saja.
(menyerangi nafas perjalanan)

Harapan adalah kesaksian akan masa depan
dan hanya beku di akal
hati pun enggan membakar.

Dulu-kini-esok
hanyalah waktu
berlagu merdu.

Berubahkah kalimat-kalimat suci itu
janji di ruang tunggu
menanti pintu-pintu
rumah: dimana kita berawal.
(saat-saat ingin bertemu).

Sesobek kesadaran menganga
dari kilatan pedang muasal rindu
beringsut dalam tanya; untuk apa?
(menatap wajahmu dengan ragu)

Malang, Februari 2009

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *