Puisi-Puisi Eimond Esya

http://www.facebook.com/people/Eimond-Esya/1345467895
Soda

Tentang mereka yang terjepit bagai senja di antara siang mumi
dan malam mayat, bagai batas keabadian teror yang sesekali
memang bahagia
Itulah bunker alam tempat kau bisa mendengar raung kultikula
pertanda beberapa fosil tengah diserang uban dan gatal
Sedang sesungguhnya kau tak pernah mati meski sesekali

memang sedih

Pada perang kasih yang berulang-ulang dikumandangkan
Seterang suara sepanjang gema aku peringatkan,
Bahwa gema tak pernah ada karena cinta tak berdinding
dan berdiri di atas bumi yang sesekali, coba kau pikirkan:
memang piring.
Karena itulah jiwamu yang berjalan sejauh batas elips tertentu

sementara
yang kau perduli dan nikmati masih ciuman buntu

Tepatnya,
Betapa sempitnya ruang hampa
Keabadian menyewa energi seperti kasih sayang membayar tunai
hutang tak terbayar tubuh pada ruh yang selalu mengajarkan
hidung mencium makna wangi-wangian,
telinga mengukur tikungan, dan
leher agar tetap longgar meski yang menghapus haus,
akhirnya nanti

Bukan air.

E.E 2009

Aku
:Chairil

Kubingkai bayangan manismu
Duduk di limpa malam
menuliskan sajak keras
Tentang angin yang tak terbakar oleh api

Tapi
Tinggi kudengar sekarat angin
Ketika kalimat api kau kobarkan padanya
Walau siapa yang mampu membakar angin?
Kecuali seribu tahun musim dingin?

Akhirnya kau tuliskan dirimu sendiri
Pelosok sunyi antara Karawang dan Bekasi
Saat tak ada yang bergerak,
Yang kudengar hanya lenguh serak
ranting-ranting sajakmu yang kuinjak

2001

A Chant for Yuhilma

I.
Anginpun jatuh deras dan menyapu ladang
Lepas kerak tanah di mata bajak
Yang tak hendak pulang

Di sana, di sebuah ngarai yang tak kau tahu
akar-akar gulma karam
gemerisik ilalang liar
Adalah lirih sunyi yang mengejar-ngejar
Hingga ke ujung tanjung ranting

Dalam unggun belukar yang berayun-ayun
Rinduku sehelai daun kering
Tangkainya berguncang menahan angin

II
Akulah mercu yang menunggu, O Yuhilma
Namun kusaksikan kemudian
laut menggarami matahari

Sauh senja dan segala yang terang
Kilat air juga halus suar cintaku
Seketika padam dijangkar malam

Kemudian serupa perahu di bawah bulan muram
Aku kandas dan oleng
Di tampung ombang gelombang
Hanyut ke tengah kepundan kabut

Ketika itulah kuingat jurai rambutmu yang panjang
Dan Kita yang terhampar dijerat subuh kelam
Bersentuhan pinggang
Dalam segala bisikan yang jadi pelukan

III
Meski tak akan pernah kumengerti hal ini
Kikis penantian
Pantai-pantai yang mundur digempur ombak
Karang-karang yang pecah
Jiwa dan cinta yang akhirnya jadi semata
pulau kecil tempat singgah

Tapi kesana lah kulihat induk burung kembali
Membawa ke sarang sesuap harap
Bagi anak-anak mereka yang tak bersayap

Aku pun mencobanya O, Yuhilma
Terbang ke sudut langit
Hingga basah perasaanku dalam buih awan
Serupa kain yang tercelup air mata Tuhan

Namun betapa kau telah begitu jauh lepas
Mengikuti angin luas nan deras
Meninggalkan pesisir dingin
Dalam pemahaman-pemahamanku yang lincir

Akan kenangan
Akan segala cinta yang pernah kucicip

Dengan rasa gaib

E.E 1998-2003

Gonggong

Pernahkah kau dengar hujan katak, hujan daging,
Ikan-ikan segar dan gerimis serbuk batu?
Kini tatapan mendung lebih keji
Jantung matanya duri

Lihatlah ketika tangisnya menghambur
Sungai-sungai seketika mencuci maut
Luncuran liat malaikat belut
Ke pelosok celah menung bangkai

Yang koyak tak berbunyi
Tak usai usai
Seperti geming cemburu lonceng mati
Pada gonggong gembira kawanan anjing
Setiap terkais lagi nestapa,

Sepotong tulang mendung
Kembali menatap mereka.

E.E 2007

Nostalgik

Perlahan dan setenang bayangan
Kita tersipu dalam rayu
Lenganku melingkar ramping pinggangmu
menggoda rusuk mudamu hingga malu

Saat itu, kau dan aku seranum apel segar
Semu tebal rona, pendam manja tenaga
Merah senyummu, getar bibirku
melepas haus, cumbu tak putus-putus

Hulu laut hilir sungai menyambut rindu
Tapi muara, bukan hanya akhir segala yang sampai
Di sana segala yang bersatu, terbelah
ketika tajam lidah laut memisah arus yang kusut

Kau pun lenyap seperti cawan suci
Entah kemana ombak menyeret mu pergi
Hanya kukumu yang mencakar pasir
Menorehkan cacat parut, jejak cinta nan terusir

Sedang aku, lalu menemui hidup di ruang bidik
catur takdir yang licik
laju serang pion waktu, papan tempur hitam-putih
jebakan-jebakan pelik; ruang kosong

Betapa mungkin,
Semua yang kau tunggu justru masa lalu
Meski sebuah fianseto membawamu maju
Ingatlah,
Ketika matahari semakin terang,
rambutmu akan menjelma

Pirang

E.E 2006

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *