KAJIAN SEBAB ATAS SUBYEK

Nurel Javissyarqi
http://pustakapujangga.com/2011/05/the-study-of-the-cause-on-subject/

Bagian II

Dalam menelaah konstruksi budaya, baik identitas-identitas personal maupun kolektif, teori kritis, teori budaya, lebih beralih dari menggunakan kata ?diri? (self) menjadi menggunakan istilah ?Subyek? (subject). Hal ini dikarenakan kata ?diri? secara tradisional memunculkan ide tentang identitas sebagai sebuah kepemilikan pribadi, sebuah gagasan mengenai individu sebagai unit dan otonom. ?Subyek? lebih mendua atau ambigu. Subyek bersifat pasif maupun aktif. (Dani Cavallaro, 2001).

Saya bertanya-tanya tentang ?subyek? kata Cavallaro, yang mengatakan subyek bersifat pasif maupun aktif. Pertanyaannya: apakah yang berkedudukan sebagai subyek bersifat pasif? Apakah bisa dikatakan subyek, jika tidak memiliki identitas predikat atau turunan?

Atau, apakah dapat dikatakan ?diri? sebagai wujud ?ambisi? dan ?subyek? penjelmaan dari ?bayangan.? Sebab ambisi serta bayangan, keduanya sama-sama ngelangut pada ketidak-menentuan. Pula keduanya berhenti di pojok kelelahan, keletihan fatamurgana, walau senyatanya berangkat dari kesadaran berlebih, semacam rindu atau daya cemburu. Keberlebihan inilah hingga orang-orang menilai sebagai subyek maupun diri (self).

Contoh: ?Diri wanita itu membekukan hatinya.? Apakah kalimah barusan cukup dimaknakan pasif, sedangkan yang menggerakkan hal lain itu aksi yang menampilkan reaksi. Kemiripannya terletak pada contoh: ?Para demonstran itu tutup mulut.?

Lalu saya bertanya: apakah tidak sama antara para demonstran dengan diri wanita itu? Ataukah saudara membandingkan antara kuantitas daripada diri yang beraksi?

Untuk sampai pada kemungkinan sebenarnya, kudunya tidak menjatuhkan persoalan begitu mudah tercerahkan dengan argumentasi yang meski menjanjikan kebenaran. Karenanya, berhati-hatilah menerima pendapat, dan ingat pendapat yang sedang dikeluarkan bagi pendapatan, atau jarak mata pancaran kehadiran yang subyek, atau diri.

Sebab setiap lelipatan persoalan, penulisnya tentu berharap yang diimpikan demi jalannya pemikiran. Dapat pula sebagai hal bertolaknya akal yang tak sesuai dengan maksud musim serta cuaca rindu di dalam persoalan diri.

Olehnya, daya tuntut kuat menanggung sakit berketabahan ialah jiwa-jiwa patut diteruskan. Tersebab setiap pergulatan, pergolakan nilai yang bertebaran, jika sabar memungutinya bagi suatu kepemilikan.

Pertama:

Dalam pada itu berbalik muka pertama. Biasanya saudara terdorong atas pencarian awal, atau landasan penelitian. Dapat terjadi memaknai penyebab karena berangkat dari suatu yang tersebabkan bagi pijakan. Padahal belum tentu anggapan sebab benar-benar ?sebab? adanya. Maka bisa dinilai, saudara sering mengambil makna ?sebab? berawal dari keyakinan, maka fakta yang ?ada? keimanan sebagai penyebab yang akan terjadi.

Sebelum pada kebenaran yang dilalaikan sejak awal. Ini peringatan saya, atas saudara anggap fakta kebenaran penyebab, bukan berangkat dari faktual adanya, karena menaruh keyakinan demi pijakan kajian.

Maka penelitian saudara menjadi kesangsian saya, yang selalu berkesegaran melimpah. Saya lihat kadang saudara menujum penelitian, contoh duluan mana ayam dan telur? Dengan didorong semangat penelitian tersebut, cepat-cepat menentukan keyakinan, bahwa ?A? atau ?B? penyebabnya.

Manfaat kajian ini, saudara bisa berpijak di batuan mitos tanpa merasa sangsi, sebab mitologi anak turun keimanan. Boleh jadi logika kemarin yang berlaku atau tidak berjalan sama sekali, tersebab telah mendapati jawaban sebelum penelitian. Keterangan ini sengaja saya perbalikkan agar melewati akrobatik, lantas cepat keluar sedari keraguan menggapai yang seharusnya tertempati sebagai pijakan.

Saya tanya: Apakah sebab itu? Saya harap saudara tidak kedodoran menerapkan keyakinan, sehingga tidak saya tinggalkan. (Ini pertanyaan sederhana tapi membekas, menggemparkan jika penerimaan kedalamannya tidak memiliki pandangan luas).

Prosesi yang saya andalkan di sini: penyebab adalah suatu ketunggalan, namun memiliki beberapa sebutan. Di mana sebab itu sesuatu yang memiliki tenaga, dan bukan yang ber-tenaga. Makna bertenaga tidak dari pekerjaan makan, tapi secara hakikat kodrati, niscaya benar memiliki hasrat. Karena ?sebab? itu kebesaran ego, atau gairah berlimpah.

Ini berangkat dari perasaan subyektifitas murni. Tragedi sebab-akibat pernah dibahas Nietzsche, namun dengan melenyapkan suatu bentuk tanggung jawab, dikarenakan meninggikan subyekyifitas ego, dengan penghilangan fungsi Tuhan.

Kali ini saya menuntut jawaban dengan memasuki perihal sesungguhnya, jarak yang tidak menerima formula tersebut. Dia percaya akan kebenaran tunggal dirinya. Meski itu suatu amat membanggakan diri yang berkelana.

Kalau penulis singgung kepribadiannya, Nietzsche seolah bercermin pada dirinya, dan menjadi benar jikalau cermin mengenal asal fungsinya. Maka kesadaran akan cahaya itu keniscayaan, sedangkan dirinya tidak menghiraukan cahaya dengan sangat percahaya diri, mampu memantulkan segala di depan kajiannya.

Kefatalan terjadi, ketiadaannya penjelasan gamblang, letak pijakan memuaskan demi lapangan yang menjanjikan damai. Tapi bukan berarti saya menghalalkan sesuatu dari kesepian.

Ada mengatakan kesepian wanita, akibat kesendiriannya. Namun jika sadar kesepian, hal tersebut berubah menjadi penyebab segala sesuatu berharga. Inilah penciuman awal, jikalau sudi berhadap bersama melahap hidangan di meja.

Saudara bertanya: apakah tidak benar perputaran dunia itu sebab-akibat, berkesinambungan sampai sekarang. Jawab: boleh mengikuti cara itu, tapi seharusnya disadari bahwa penyebab awal kali manusia ialah kesadaran akan fitroh.

Lalu saudara bertanya: Tetapi, kesadaran selalu berubah-ubah menurut kekuasaan masa dari kanak, dewasa hingga kematangan pemikirannya. Olehnya perubahan kesadaran berarti sebab, yang bisa bermakna akibat dari kesadaran sebelumnya.

Jawab: bagaimana pun perubahan diri yang namanya sebab, tetap berangkat sedari kesadaran benar, bukan didasarkan tujuan kajian sementara demi harapan, keharusan pijakan penelitian sementara atas impian-harapan semata.

Saudara mencari pertanyaan lagi: Bagaimana mengartikan kesadaran itu sebab. Cobalah lihat kasus ketika lapar. Yang tampil ialah kesadaran makan, dari sini makan berarti akibat dari lapar. Ini saya anggap kasus begitu fatal, dan termasuk dekaden.

Kemerosotan perlu ditilik. Atas kesadaran menempati subyek sebagai obyek atau sebaliknya, karena saudara sangsi dengan cukup mempercayai sebagai pijakan. Atau saudara menyudutkan saya dengan mengambil keyakinan yang ditampilkan sebagai tujuan penelitian.

Kasus semacam ini, tujuan penelitian menghasilkan ketuk palu bagi subyek, atau penyebab yang saudara pilih sebagai keyakinan. Kesangsian saya, sebelum saudara meneliti telah mengambil sikap, seperti: Saya kudu berangkat dari garis ?A? menuju ?B.? Ini dekadensi, sebab hasil penelitian itu wujud ramalan yang terharapkan sebelum terjadi proses penelitian.

Jadi saudara mengikuti jalan teryakini demi mendapati yang teridam, atau telah bernujum sebelumnya. Maka kefatalan, menyamakan keyakinan dengan nujum. Dalam kasus saya kembangkan: ?Ciptakanlah sebab.? Dengan apa? Di atas telah disinggung. Sebab berdasarkan kesadaran penuh, sedangkan rasa sakit bukan dicipta atau dikondisionalkan.

Atau saya beranggapan, pengulangan kerja bukan akibat dari kebodohan awal masa puncak kepenuhan yang tidak mau bersahabat. Tapi proses itu sebab yang menghasilkan akibat (?). Di sini langsung saya tekankan: kematian ialah akibat segalanya. Maka buah karya patut dinilai, jika dianggap telah ditinggalkan. Maka pengulangan yang menghasilkan kemerosotan, sama halnya bunuh diri.

Kajian daripada akibat ialah dekaden. Seperti pengulangan pun pendektean sejarah yang diulas tanpa menghasilkan sejarah. Atau tuntunan yang tidak menciptakan tuntutan. Inilah kemandekan fatal, ketakutan membuai, memproses sebagai kesadaran awal dari penyebab kematengan.

Tinjauan kasus: hukum saklek akan memotong pribadinya sendiri atau kebijakan bukan suatu kebijakan di lain tempat, ketika keyakinan satu dengan lainnya berbeda. Untuk menggabungkan diagram ini, kita cukup menggunakan catatan nilai dari muatan yang ada. Hingga pemaknaan menjelma universal.

Kedua:

Yang memiliki keimanan percaya: Tuhan adalah Penyebab segala sebab. Kita dihadirkan ke belahan dunia ini, bukan lantaran Tuhan mengusir Adam karena makan buah khuldi semata. Tapi di sini agar menjadi penyebab yang Rahmatan lil Alamin.

Penyebab bukan hasil kesakitan, tetapi fitalitas tinggi yang tak dari kesembuhan lantaran benci. Kita berasal dari alam kandungan demi mengatur bumi. Pengatur ialah penyebab, bisa ditarik kesimpulan, selama manusia masih hidup, dia sebagai subyek atau penyebab.

Kasus yang terjadi, sering orang merasakan kesengsaraan dunia karena kerap menganggap dirinya obyek, penderita atau akibat, semisal memiliki dosa turunan. Manusia lahir dalam keadaan fitroh, untuk menjaga kefitrian tersebut, dengan selalu sadar, bahwa manusia diemban teruntuk kemaslahatan alam.

Karena itu Tuhan menangguhkan catatan amal, meski setelah kita tiada. Sebab Dia Maha Bijak, tak menutup kemungkinan bermaknanya kehidupan ialah proses dari subyektifitas keyakinan diri. Yang ternilai baik-buruknya, tentu kita memiliki cermin nurani.

Nurani bukan wujud kebakuan pasif atas tampang, sebab manipulasi dapat dihadirkan cahaya remang kegamangan yang menjerat langkah sampai jatuh. Nurani ialah cermin patut dipergunakan, kala lupa makna hakikat subyektifitas. Wajah diri yang diutus, menjelma penyebab di alam dunia.

Dari awal saya singgung kedatangan subyek itu gairah berlimpah. Ego gairah berlimpah sesungguhnya bukan subyek, tapi sekedar pintu memasukkan kesadaran. Kenapa tak dikatakan lebih dulu di muka? Karna saya ingin saudara duduk terlebih dulu di bangku persoalan, agar niscaya benar nantinya.

Bukan kebenaran perasaan yakin atas tujuan penelitian. Yang dicacat bagi kesombongan bukan atas tampilan ego, tapi ego yang sampai mengganggap dirinya penyebab awal. Yang diharapkan kehidupan kita sebagai rahmat lil alamain: agar dalam mengembangkan ego atau proses gairah berlebih tidak lupa, berasal dari kerahasiaan pemilik perbendaharaan tersembunyi, Allah SWT.

Kesimpulannya, kepatuhan kita bukanlah dinamakan akibat, tetapi kepatuhan sebab dari sang Penyebab. Di sini bukan berarti manusia anak Tuhan, tapi yang dipercayai mengatur urusan dunia, serta tidak melampaui batas ketentuan-Nya.

Segala proses itu subyek atau penyebab. Kepatuhan kita sebagai subyek dari sang Maha Subyek. Dan akibat yang kita yakini ialah sandungan (setan), demi mengutuk sebuah takdir yang sejatinya membahagiakan, jika sadar kehidupan itu penyebab.

Penutup:

Bagian ini saya artikan putih menyehatkan seperti susu dalam gelas. Saya awali makna ?rasa bersalah.? Rasa bersalah itu dari kemerosotan, tokoh dekadensi moral sekaligus guru mengajarkan keterpurukan, kelangutan, keputusasaan, prinsipnya pembodohan.

Perasaan bersalah sebagaimana akibat, atau menyetujui timbulnya akibat. Menurut saya terlalu dini keputusannya jika disebut akibat. Yang pandangan umum berkata akibat, saya mengatakan suatu tangga kenaikan sebab, atau tangan panjang dari sebab niatan semula.

Jiwa penyebab selalu muda bergairah. Memang penyebab mengalami kelelahan, namun bukan akibat dari penyebab berlebihan. Tetapi demi penelitian lanjut, hal telah terjadi sebagai bahan penajaman proses, penguatan bukti bahwa penyebab itu puncak dari tuntutan.

Di sini memasuki gerbang yang kanan-kirinya tiada ilalang kesangsian. Bagimana pun, pencahayaan sempurna akan menghasilkan warna pelangi di lensa mata jeli. Ini terbukti walau tiada pancuran air menghadirkannya secara kongkrit.

Proses sampai tahap ini, berasal energi cahaya. Sebagai misal, jikalau tanpa cahaya tidak mungkin mendapati diri terlihat di cermin. Inilah bukti cahaya bukan perwujudan dari ego atau gairah berlebih, tapi cahaya itu salah satu simbul Maha Penyebab.

Benar kiranya kalbu ibarat cermin berfungsi jika mendapati cahaya. Bagaimana pun beningnya kajian nalar, namun jika tidak mendapati cahaya hidayah, yang tampak hanya batu berhala keyakinan di kegelapan. Sebab itu cermin mestinya bergantung cahaya, kalau ingin manfaat keberadaan dirinya demi yang lain.

Kiranya cermin memantulkan cahaya. Maka sebagaimana manusia ialah subyek atau penyebab dari Maha Penyebab. Atau penyebab manusia menjadi penyebab yang rahmatan lil alamin, jika mendapati Maha Penyebab. Hingga penyebab insaniah, sanggup memantulkan pensifatan Sang Penyebab Cahaya.

Ukuran cermin lebar-kecilnya tergantung kelapangan menerima cahaya. Semakin menganggap seluruh yang berproses penyebab, bertambah tertampunglah cahaya Sang Penyebab. Tapi tak harus dikatakan, sifat Cahaya itu serupa cahaya di cermin dan mendapati terangnya. Sebab hakikat pendapatan cahaya pada cermin sendiri, semacam daya berkah amanah pun hidayah.

Semakin dapat menjaga posisi cermin menghadap ketepatan datangnya Cahaya, bertambah komplitlah Cahaya masuk ke dalam diri berproses, usaha menerangi sekitar (rahmatan lil alamin). Dapat diartikan ibadah itu usaha cermin berhadap Cahaya, usaha subyek menghadap Subyek Tertinggi yang tidak berupa cermin tapi Cahaya, serta merupakan berkah sedari Sang Maha Cahaya.

Bertambah teranglah manusia itu menyampai Cahaya, sebab hatinya berupa kaca cermin. Dan keburamannya adalah rasa bersalah, yang menyatakan sebab sebagai akibat. Ditinjau dari sini, prinsip Tuhan beranak, anak itu mewarisi dosa orang tuanya, dan reinkarnasi, kesalahan fatal, seperti rasa bersalah. Saudara bertanya; Bagaimana hukum alam, atau sunahtullah serupa penimpahan adzab. Kembali di atas, rasa bersalah atau pengakibatan menuju pengakibatan akhir.

Jika menganggap kesengsaraan dunia itu adzab, atau sangsi sebelum sangsi sesungguhnya. Maka dapat ditarik manfaat, yang ditimpakan bagi peringatan. Ialah penajaman Cahaya ke dalam diri yang membersihkan cermin buram digetarkan atas kedatangan Cahaya ketiba-tibaan.

Sama kedudukannya adzab dan keputusan sementara dari-Nya. Atau keputusan penuh, tetapi bukan akhir. Keputusan adzab ialah tangga kenaikan kelas dari kelas bernama insan penyebab. Atau penyebab kedua (insan atau cermin) yang mendapati Cahaya.

Ringkasan:

Yang diberikan kesempatan bertaubat bukan adzab, tapi kenikmatan kesadaran. Adzab dapat berarti datangnya kiamat kecil (mati), yang sedang terjadi (bencana ditimpakan kaumnya Nabi Nuh AS, dan kiamat kehidupan).

Tahap selanjutnya cinta. Dia menurut konsep ini ialah titik tengah subyek ke obyek, titik tengah makna penyebab dan akibat, titik tengah antara niatan proses yang berproses dengan hasil akhir akibat. Di sini yang menentukan arah cermin dihadapkan ke mana, setelah mendapati Cahaya pada cermin diri.

Dapat diartikan cinta itu bahasa lain ujian, atau tangga penentu yang nantinya ke atas lurus, ataukah ke atas menyamping. Tentunya tiada keinginan menuruni tangga sebelum mencapai puncak sedari proses perjalanan hayati. Sebab meskipun turun karena takut ujian, tentu mengulang pekerjaan kemarin, hanya semakin menemukan kegelapan oleh membelakangi Cahaya di depan-atas.

Kenapa saya katakan cinta sangat menentukan kelanjutan proses penyebab, atau prosesi kehidupan subyek. Tersebab ketika berada di titik koordinat, jelas mendapati karakter diri sebenarnya atau dengan titik seimbang, cermin diri sanggup merasakan getaran kesungguhan dari sang maha Penyebab Cahaya Ilahi: Apakah kita gemetar, atau semakin asyik oleh kesejukan Cahaya. Sebelum sampai ke suatu akhir bernama akibat (mati, timbangan pahala).

Saya kira sudah jelas paparan ini, proses kehidupan insan adalah penyebab dari Maha Sebab, yang mana hasil akhir (kematian, tamatnya riwayat karya, perefisian puncak); itu hasil prosesi berlanjut, sebelum datangnya keputusan akhir kematian. Maka penderitaan dari proses bukan akibat, tapi tangga penyebab, demi penyebab kelanjutan jauh, sampai menemukan cinta dan atau keabadian.

Semoga yang tersampaikan ini, tidak menjadi sesuatu yang menimbulkan tak pedulinya Penyebab mencahayai penyebab (alam dunia, para insan, kaum mukminin). Tapi mendapati kepercayaan selaras ridho-Nya. Tidak menemukan benang keruwetan penyelidikan dalam menentukan pijakan, namun menjelma rahmatan lil alamin.

?Dialah yang telah membuatmu menjadi wakil di atas bumi dan telah mengangkat terajad kalian sebagian di atas yang lain guna menguji kalian dengan sesuatu yang telah diberikan kepada kalian,?.? (QS.6:165).

[1 dan 3 Muharrom 1426 H, Suro 1938,10 dan 12 Feb 2005]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *