Mencari Jeck

Gita Nuari
http://www.suarakarya-online.com/

Setiap masuk bulan Ramadhan, entah kenapa aku selalu teringat Jeck, teman lama yang sudah kuanggap saudara sendiri. Setiap menjelang bulan Ramadhan atau setelah satu minggu ibadah puasa berjalan, Jeck suka datang ke rumahku membawa dua buah botol sirup, “Untuk buka puasa,” katanya. Tapi, baru beberapa ucap, ia pergi begitu saja tanpa kutahu kemana perginya. Sampai satu ketika Laras, istrinya, memintaku untuk mencarikan Jeck, atau mencari tahu dimana keberadaan Jeck saat itu.

“Kalau sempat berjumpa, sampaikan pesanku untuk cepat pulang,” pesan Laras waktu itu. Tapi ketika kucoba untuk membantu mencarikannya, sulitnya bukan main. Di tempat biasanya nongkrong, tak kutemukan Jeck.

Dulu mencari Jeck mudah, semudah membalikan tangan. Tapi sekarang, sulitnya bukan main. Sudah kucari ke beberapa tempat tapi tak kutemukan Jeck. Entah dimana dia sekarang.

Jeck adalah teman baikku sejak kami satu sanggar dimana kami suka latihan teater dan baca puisi bersama. Bakat Jeck cenderung menonjol sebagai penyair ketimbang pemain teater. Maka Jeck konsisten pada jalurnya yaitu menulis terutama yang nyastra ketimbang aksi panggungnya. Banyak pengamat mengatakan bahwa Jeck bakal jadi sastrawan besar. Sebab idealismenya kuat terhadap sastra. Ditopang oleh gaya prosanya yang unik dan memukau. Esai-esainya cukup berbobot serta puisi-puisinya memikat dan kuat.

Tapi dimana dia sekarang?
Mencari Jeck dulu mudah. Jika ada acara pembacaan puisi di Taman Ismail Marzuki, Jeck pasti ada di situ. duduk di lantai, menyimak dengan serius. Tidak baca puisi, ya jadi penonton pembacaan puisi. Dengan mata memerah serta wajah pucat karena kurang tidur. Memang, Jeck kurang bisa menjaga kesehatannya. Mungkin itu akibat banyak jalan, tidak kakinya, ya otaknya.

“Laras, ini duniaku. Kau harus tahu itu. Harus ngerti, harus memahami. Jika kau perahu, aku adalah arus sungai. Tentunya kau selalu ada di pundakku ke manapun aku bergerak!” kata Jeck puitis kepada istrinya sewaktu aku menginap di rumah kontrakannya sepulang menyaksikan Jeck baca puisi.

Jeck tak bisa dikendalikan orang. Istrinya sendiripun tak berkutik. Laras menginginkan Jeck kerja yang lain, yang tetap. Bekerja jadi pegawai atau karyawan apa saja yang penting setiap bulan ada yang diharap dan itu pasti. Jeck tak mengubrisnya. Menanggapi sedikitpun tidak. Jeck tetap setia pada dunianya, yaitu seni.

“Apa cukup kau menghidupi anak istrimu hanya dengan honor tulisan yang tidak menentu itu, Jeck?” kataku padanya suatu hari. Jeck tak menyahut, Jeck tak peduli.

Mencari Jeck dulu mudah, semudah pula menemukan debu di ujung sepatu. tapi sekarang, mencari Jeck sama halnya dengan mencari jarum di lapangan sepakbola.

“Di luar kemanusiaanku, orang boleh jadi apa saja. Kau, atau siapapun. Dan aku jadi penyair adalah kodrat. Tak boleh dibantah. Dunia tidak hanya membutuhkan sandangpangan, politik, perang dan sebagainya. Tapi dunia pun butuh penyair, butuh puisi. Meski puisi itu sendiri tidak memerlukan dunia karena puisi sudah memiliki dunianya sendiri,” kata Jeck sepulang menyaksikan pementasan teater di TIM, setahun yang lalu. Aku selalu ingat kata-katanya itu sehingga aku jadi kangan padanya. Dan kini sudah dua ramadhan aku tak bertemu dirinya lagi. Terus terang, aku rindu berbincang tentang seni dengannya. Terutama sastra. Ya, bagaimana aku bisa melupakan dirinya kalau di saku celana jeans belelnya selalu ada secarik kertas yang penuh coretan tangan menguraikan bait-bait puisi. Ah, Jeck di mana kau sekarang?

Teman-teman yang dulu satu sanggar tak tahu dimana Jeck sekarang berada. apakah Jeck sudah berganti profesi jadi pelukis karena bakatnya ada juga di sektor itu. Lalu dia menawarkan jasa lukisnya di trotoar? Atau bergabung dengan rekan pelukis lainnya di pasar seni? Akan tetapi, kenihilanlah yang kudapatkan setelah tak kutemukan Jeck di tempat itu.

“Pulang ke kampung ibunya barangkali, jadi petani!” kata Hendy, seorang pelukis senior.
“Bisa jadi. Bukankah orangtuanya kaya, siapa tahu si Jeck dikasih modal untuk jadi petani berdasi?” dukung Jajad, seorang pelukis senior lainnya.

“Apa mungkin, Jad?” sanggahku. “Sebab aku tahu sekali sifat si Jeck, dia pantang dibantu.”
“Hmm, barangkali saja si Jeck jadi TKI ke negeri jiran,” celetuk Narno seorang pengukir.

“Ya, ya ya, bisa juga! Jadi pembantu pagi hari, siang ngamen, malam menulis puisi! Pulang ke Indonesia langsung bisa bangun rumah!” timpal Jajad dimana ocehannya menyinggung perasaanku sebagai teman dekat Jeck. Aku pikir, aku tak merasa perlu lagi bertanya pada mereka tentang Jeck mengingat kekonyolan ucapannya lagi yang akan kudapat.

* * *

Hari itu Jakarta benar-benar dipanggang matahari. Puasa terasa berat dalam iklim seperti itu. Tapi niatlah yang menjadikan kami kuat menjalankan ibadah puasa. Aku bersama Gina, tunanganku, menyeberang jalan melalui jembatan penyeberangan dari jalan Gajah Mada menuju jalan Hayam Wuruk. Turun dari tangga penyeberangan tepat di samping halte bus. Aku tuntun Gina sambil menyetop bus kota jurusan Blok M.

Bus yang kami tumpangi dalam keadaan penuh penumpang. Tapi aku nekat mengajak Gina naik ke dalam bus itu. Para penumpang berjejal dari dalam sampai ke pintu persis ikan pepes. Padat. Aku tarik tangan Gina untuk bisa merangsek masuk ke dalam. Namun sampai di dalam aku justru khawatir terhadap Gina jika dia tak dapat tempat duduk atau tak ada orang yang mau memberi tempat duduk untuknya sebab calon istriku ini tak kuat berlama-lama berdiri di dalam bus yang padat seperti itu karena sering pusing dan mual jika menghirup aroma penumpang siang hari terutama didekat orang yang berkeringat banyak dan bau. Gina suka langsung muntah.

Bisa-bisa batal puasanya, pikirku. Semalahan, jika ditemukan penumpang yang merokok di dalam bus, Gina langsung minta turun walau tujuan masih jauh. beruntung tidak berselang lama, ada seorang perempuan bangkit hendak turun. Bangku yang ditinggalkannya itu langsung saja kuserobot untuk Gina duduk. Akhirnya Gina merasa nyaman. Aku sendiri lega.

“Tutup sedikit jendelanya, Mas,” pinta Gina setelah merasakan angin kencang dan berdebu masuk mengacak-acak rambutnya. Dengan tersenyum aku melakukan perintahnya. Aku iklas melakukannya karena aku sangat sayang padanya. Wajah Gina berkeringat. Aku beri dia sapu tangan. Dia menotoli butir-butir keringat di wajahnya. Matahari terus memanggang kami di dalam bus.

Tapi di dalam sesaknya penumpang, masih sempat saja seorang pengamen naik ke dalam bus dan langsung menyelinap ke belakang supir. Supir tak berani melarang. Bisa-bisa jadi masalah dibelakang harinya. Maka dibiarkan saja pengamen itu mengambil kesempatan di dalam kesempitan. Pengamen yang memakai topi kupluk itu kemudian berbasa-basi untuk menjual suaranya.

Aku menoleh ke arah Gina. Gina tersenyum. Terdengar gitar dipetik. Suara pengamen dan suara gitar yang bercampur baur dengan suara teriakan kondektur serta mesin mobil itu mulai melagu. Lagu rakyat jelata yang lagi naik daun itu mengumandang sumbang. Fals. Gina terus menotol-notol butir keringat di leher dan tengkuknya.

Pengamen itu selesai menyanyi, terus membuka topi kupluk sebagai alat meminta imbalan balas jasanya. Aku terkejut. Gina melihat keterkejutanku.
“Ada apa, Mas?” tanya Gina
“Tak ada apa-apa. Tapi, bukankah itu Jeck? Ya, itu Jeck Jeck temanku yang selama ini aku cari!”
“Jeck siapa?” potong Gina.

“Jeck, si penyair itu, Gina. Temanku dulu! Tapi kenapa dia jadi pengamen?” cetusku tak percaya. Jeck tak melihat keberadaanku di dalam bus itu. Sambil sedikit menunduk, Jeck menyodorkan topi kupluknya itu ke setiap penumpang. Dan ketika dia sampai dihadapanku, langsung kusapa. “Jeck” sapaku.

Jeck memperjelas pandangan. Jeck terkejut. Dengan tergesa dia beringsut ke belakang menuju pintu bus setelah mengenali wajahku. Aku kejar Jeck ke pintu sambil menerobos puluhan ketiak para penumpang.

“Jeck, aku Danang. Masak kau tak mengenali aku, temanmu! Eh, ke mana saja kau, penyair!” seruku sambil memegangi pundaknya. Jeck tak bisa berkutik. Jeck yang kukenal selalu tegar, selalu ceria, hari itu lesu tak bergairah bertemu denganku.

“Aku sekarang jadi pengamen, Nang. Bukan penyair lagi,” ujarnya lirih. Aku terenyuh. Suara Jeck dibebani derita yang amat berat.

“Kau tetap penyair yang kubanggakan. Makanya, aku selalu mencari kau dimanapun kau berada. Kapan kau baca puisi-puisimu lagi. Aku kangen Jeck”

“Tidak lagi, Nang. Sekarang aku pilih mengamen. Aku butuh uang. Anak dan istriku perlu makan, perlu baju untuk Lebaran,” katanya polos. Aku merinding dibuatnya. Alhamdulillah, Jeck sudah berkumpul lagi dengan keluarganya. Gina tiba-tiba memanggil dari tempat duduknya.

Dan saat aku menoleh ke arah Gina, Jeck sudah melompat ke jalan. Aku kecewa. Tak mungkin aku ikut melompat untuk ikut sejenak bersamanya demi mendengar cerita hidupnya selama tak bertemu atau tentang keberadaannya sekarang sebab suara Gina yang terus-menerus memanggilku. Sedang bus semakin jauh meninggalkannya. Ah, aku kehilangan Jeck lagi.***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *