Mengenang WS Rendra dan Mbah Surip; Kesadaran Adalah Matahari

Darma Lubis
http://www.analisadaily.com/

Langit di luar Langit di badan Menyatu dalam jiwaKredo WS Rendra Indonesia sedang dirundung mega mendung. Dua tokoh fenomenal telah pergi. Meninggalkan Indonesia, meninggalkan kebudayaan di Indonesia.

Merekalah Wahyu Sulaiman Rendra atau lebih dikenal dengan WS Rendra dan Urip Ariyanto alias Mbah Surip.

Rendra melakukan perlawanan kebudayaan melalui proses teater di Bengkel Teater, puisi, essei, hingga pidato kebudayaannya. Perlawanan atas budaya popular yang berkembang.

Hal itu juga yang dilakonkan Mbah Surip. Lelaki yang tulus dan ikhlas menjalankan hidup dalam prosesi kemelaratan. Bahkan dengan kejujurannya, dia meninggalkan keluarga yang mesti dia tanggungjawabi dalam terminologi budaya popular.

Rendra dan Surip; dua sosok fenomena yang mengejutkan dunia, pada konteks kepergiannya. Mewariskan sayap-sayap merak dan kenangan tentang tanggungan beban kebudayaan.

Pertarungan nilai kebudayaan, beban berat bagi kedua orang berbeda cara hidup ini. Banyak cemooh hidup dari berbagai lapisan masyarakat bukan tidak sedikit. Materialisme yang cenderung menjadi basis kebudayaan popular ditolak mentah-mentah dari berbagai peluang yang diterima kedua tokoh ini.

Lihatlah Rendra. Dari kesederhanaan hidupnya, dia bukan tipe orang yang meletakkan materialisme sebagai “tuhan” baru. Meski peluang itu selalu ada di depan matanya.

Tak berbeda dengan Surip. Tokoh yang berdiri tegak di papan atas tangga lagu Indonesia dalam kurun 3 bulan terakhir ini pun, tak peduli dengan dampak material yang diterimanya.

Nilai mereka adalah pembebasan diri dari belenggu materialisme. Sesuatu yang membelenggu kesadaran hidup manusia. Melepaskan manusia dari berbagai tindakan “a” manusiawi yang mendorong manusia itu berjalan menuju pakem-pakem kemanusiaan sejati.

Seorang teman yang pernah mondok di Bengkel Teater pada beberapa tahun lalu, “mengatakan Rendra yang kukenal itu, pembangkang!” Ya, dia melakukan pembangkangan atas berbagai sistem kekuasan dan nilai populis. Ketika kebudayaan pemanusiaan berubah menjadi perebutan kekuasaan. Perebutan itu mengkristal menjadi sistem yang membentuk produk dari proses pertarungan kekuasaan itu sendiri.

Kita, secara kebudayaan, produk-produk kebudayaan itu sendiri. Berupa mesin-mesin “pembunuh” yang berakal tapi tak berbudi luhur serta tak bernilai.

Inilah penolakan Rendra. Si Burung Merak ini, kemudian memilih menjadi pencinta! Sekalipun cintanya paradoksal dengan metodologi mencinta manusia yang lahir dari produk kebudayaan populis.

Itu pula yang dilakukan Surip. Lelaki gimbal itu menolak dampak material yang dia terima dari seluruh proses produksi kebudayaan. Tentu saja, ini bagian dari sesuatu yang menggejala menjadi sebuah fakta sosial budaya seperti apa manusia kini.

Apakah yang ingin dicapai kedua orang ini? Dari beberapa orang yang sempat bertemu dan bercerita tentang prilaku hidup kedua orang tersebut, mereka adalah tipe-tipe manusia yang selalu ingin mencintai. Mencintai mahluk hidup untuk mendapatkan cinta sejati dari alam. Rendra dan Surip kerap ingin dicintai. Bukan oleh sekedar anak dan istri maupun handai tolan, tapi oleh mahluk hidup dan alam semesta. Dari sesuatu yang memberikan hidup. Energinya tidak akan pernah musnah. Hanya sekedar berubah wujud.

Ketika manusia mampu mencintai mahluk hidup, termasuk manusia itu sendiri, dia akan dicintai pula. Tentu saja alam akan mengembalikan energi itu. Bahkan energi yang diterima tidak akan pernah lebih kecil dari energi yang ia keluarkan.

Apa yang mendorong kedua manusia itu berpikir, manusia harus memberikan cintanya. Cinta yang tidak dilandasi oleh motivasi apapun. Cinta yang datang dari sikap tulus dan ikhlas. Bukan sekedar mencintai keindahan dalam makna duniawi, tapi mencintai itu dalam formasi ketulusan dan keikhlasan atas segala pemberian yang kita peroleh dari alam.

Sebagai puncak peradaban perlawanan dan pembangkangan kebudayaan kedua manusia ini, kecintaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kecintaan yang berharap kembali dicintai. Bukan mendapat dampak material seperti nilai kebudayaan populis.

Mencintai; adalah sisi lain pembelajaran terpenting dari perjalanan hidup kedua tokoh itu. Mencintai sesuatu dengan ketulusan dan keikhlasan. Sebuah proses yang tidak semua orang mampu melakukannya.

Cermin

Inilah cermin dari kedua tokoh fenomenal. Sampai saya memiliki dua pertanyaan pada peristiwa fenomenal yang terjadi pada kedua orang itu. Apakah yang ingin dicapai oleh Surip dan Rendra dalam hidupnya?

Surip dengan kemampuan dan jaringan sosial ekonomi yang dimilikinya, bukan tidak mungkin bisa memperoleh dampak material dalam kurun waktu lebih cepat dari yang terjadi. Dengan kemampuan akademiknya, sangat mungkin bagi Surip bergerak jauh lebih cepat menjadi bintang papan atas Indonesia.

Itu dia tidak lakukan. Dia lebih menggunakan berbagai pengetahuannya untuk mendapatkan kebebasan yang kini semakin sulit diperoleh dan diterima secara populis. Keegoannya itu tegas mendapat penolakan dari berbagai kelompok sosial yang hidup dalam pakem romantisme dan nilai manusiawi yang berbasis pada materialisme.

Mereka dengan sadar telah memilih proses panjang dalam mempelajari nilai hidup. Meski kesalahan-kesalahan kerap terjadi. Mereka juga tetap sadar dan belajar pada seluruh kesalahan yang pernah mereka lakukan.

Ditinjau dari sisi lain, keduanya memproses segala peristiwa hidup sebagai pembelajaran. Seperti halnya mendidik anak, kedua orang ini belajar dari kesalahan. Belajar tentang mengapa kesalahan perlu dilakukan.

Lepas dari absorbsi yang dilakukan keduanya positif maupun negatif. Material maupun immaterial. Karena memang ini adalah proses individualistik.

Terpenting, bagaimana proses itu dilakukan dengan jujur, total dan ikhlas. Sesuatu yang paling sulit kita terima dan lakukan dalam keseharian. Kejujuran, keikhlasan dan totalis paling murni dan datang dari dalam diri.

Kita terlalu sering menggunakan topeng. Sikap yang kerap kita jadikan pelindung dari berbagai serangan sosial. Padahal topeng itu membiasakan dan mengakibatkan kita melindungi sikap kita dari diri sejati kita.

Topeng itulah yang mengakibatkan kita tak lagi jujur pada diri sendiri dan hidup. Sikap itu mendorong kita”a”manusiawi. Tak lagi menghargai hidup kita yang merupakan bagian dari siklus alam itu sendiri.

Kenapa? Karena kita telah kehilangan kesadaran. Kesadaran yang sesungguhnya merupakan cahaya dan energi bagi hidup manusia. Seperti yang pernah diungkapkan Rendra dalam salah satu puisinya yang berjudul Sajak Sebatang Lisong: “Kesadaran adalah matahari, Kesabaran adalah bumi, Keberanian menjadi cakrawala dan Perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata!”

Dengan kesadaran, kesabaran, keberanian dan perjuangan itu, Rendra dan Surip sedang menyatukan langit di luar dan di dalam badannya ke dalam jiwa. Prosesnya saja yang berbeda. Karena keduanya memiliki paham yang berbeda meski nilai kesadaran budayanya yang sama.

Kehilangan

Saya memang tidak mengenal secara dekat kedua orang ini. Saya hanya punya kesempatan dan berbicara sedikit dengan Rendra beberapa tahun lalu. Bukan berarti saya tidak bisa belajar dari keduanya. Saya bisa bertanya banyak pada orang-orang yang pernah dekat dengannya.

Dengan semangat belajar yang tinggi, keduanya mengingatkan kepada saya tentang bahaya materliasme. Bagi mereka, materialisme mudarat dan penghambat dalam berbagai proses kreatif. Dunia dihancurkan semangat materialisme. Sesuatu bersumber dari dosa besar manusia ketika Adam dan Hawa masih di surga.

Ya, Tuhan, sejak awal manusia melarang Adam dan Hawa mendekati sesuatu secara materialisme. Peringatannya kepada Adam dan Hawa itu dapat disimbolkan melalui pesannya untuk tidak mendekati pohon khuldi.

Simbol tentang bahaya materialisme. Kemudian Adam dan Hawa terperosok jebakan materialisme. Kemudian menyebabkan kedua manusia pertama itu dibuang ke bumi. Meski kemudian kembali direhabilitasi setelah melalui penyucian panjang di bumi.

Pembelajaran dari dua kehilangan tokoh fenomenal yang melakoni kehidupannya dengan kejujuran, keikhlasan, totalitas dan kecintaan. Kepergian kedua tokoh ini, kehilangan terbesar pada perjalanan kebudayaan Indonesia.

Secara kebudayaan Rendra dan Surip pergi. Sesungguhnya kita bisa tetap mempertahankan pembelajaran atas nilai-nilai yang mereka yakini dalam hidupnya. Sebagai sebuah kenangan untuk menata kembali nilai-nilai kebudayaan kita yang hilang akibat materialisme yang mendorong sikap-sikap rakus, tidak jujur dan semangat menguasai.

Selamat jalan Rendra! Selamat jalan Surip! Terima kasih berbagai pembelajaran bagi kami, yang masih bergelimang dengan topeng dan ketidakjujuran. Harapmu menjauhkan berbagai bala dalam diri, bala pada alam, semoga saja terwujud.

Singgah singgah
Kolo singgah
Pan suminggah durgo kolo sumingker

Singo sira
Singo suku
Singo tan kasat moto
Singo tenggak
Singo wulu
Singo bahu

Kabeh podho sumingkiro
Balio mring asal ne ki

Wahai bala yang ada di kepalaku
Wahai bala yang ada di badanku

Menyingkirlah
Kembali ke asalmu

Catatan Ronggo Warsito yang dicuplik Rendra pada pertunjukan Selamatan Cucu Anak Sulaiman.

*) Jurnalis tinggal di Medan.darmalubis@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *