Teks Buku Motivasi v Konteks Sosial

Husni Anshori
http://www.jawapos.com/

Item buku motivasi serasa begitu marak beberapa waktu belakangan. Entah itu besutan anak bangsa maupun impor atawa terjemahannya. Selain itu, bejibun pula karangan sejumlah motivator dadakan yang sebenarnya juga hanya menjajal peruntungan mengamini kecenderungan pasar. Siapa tahu bernasib mujur dapat memulung omzet melimpah. Jangan heran bila stoknya lumayan mendominasi aneka dagangan gerai pustaka di berbagai tempat. Orang-orang pun kesemsem pada remik-remik komoditas literasi musiman tersebut.

Jamaknya buku motivasi berkitar-kitar memacu dorongan psikis masyarakat untuk senantiasa istiqamah berupaya melejitkan endapan potensi diri, cerdas meretas rintangan apa pun demi kesuksesan, serta pantang menyerah dalam menyibak tiras kemungkinan penggapaian impian (kebahagiaan) hidup. Bertolak dari sekelumit liku-liku rekam jejak pribadi, biasanya sang penganggit keukeuh berbagi pengalaman tentang kiat-kiat menapak pencerahan dengan segudang kemusykilannya. Ditambah sugesti layaknya adagium: banyak jalan menuju Roma; senyampang ada kemauan pasti angan dapat terwujud nyata; dalam kerumitan tersembunyi serpihan kemudahan; dan sebagainya; lewat adonan kata-kata yang sengaja diracik sedemikian menyihir pikiran.

Dengan begitu hadirnya yang sempat booming telah menoreh kesan tersendiri, seiring jagat perbukuan yang terasa ikut bertambah merona. Pilihan literatur untuk sekalian bukumania juga menjadi lebih variatif. Sebagian elemen masyarakat pun terlipur lantaran mungkin eksistensinya dirasa sebagai ”teman curhat” semata wayang –tatkala empati antarindividu seolah kian langka– guna memperbincangkan problematika yang teramat memasung asa. Utamanya bagi kebanyakan sesama yang kerap dirajam sial bertubi-tubi dan berulang-ulang terjerembab ke deretan liang kegagalan, hingga tertatih-tatih sekadar ingin nimbrung menyeruput nikmatnya seteguk oase dunia fana. Kasihan deh lu!

Yang menggiurkan, konon saban eksemplarnya mengemas khasiat suplemen pembugar batin dalam rangka meneruskan episode kelana meraih seonggok cita. Praktis, sebagian penikmatnya kadang termotivasi ngudar kembali capaian berikut ”PR” yang tertunda kemarin, membikin perhitungan baru, menggenapi bekal (wawasan, keterampilan, mental, serta spiritual), lantas bertekad menggiatkan ikhtiar yang makin progresif usai mendarasnya. Sedangkan mereka yang telah sekian kali menyesap buah keberuntungan dengan gelimang duniawi selama ini, tidak mustahil terlecut pula meraup lebih banyak kepuasan lainnya.

Namun bukan tidak mungkin di antara khalayak memendam apresiasi berbeda soal buku motivasi. Dalam rubrik ini, beberapa pekan silam, misalnya, mencungul tulisan yang memertanyakan senarai bagiannya. Lepas dari itu, upaya mencerap esensinya memang butuh penelaahan kritis. Jika ditelisik, gaya penulisan rerata keluarannya cenderung menggurui. Lalu wacananya terkesan sebatas legit secara idealisme, aplikasinya rada susah dicerna pemikiran masyarakat awam. Sensasinya yang semula cukup meyakinkan akan datangnya kenyataan manis sewaktu-waktu pun tak jarang kemudian seakan membuai hasrat belaka.

Lebih dari itu, muatan gagasan di dalamnya belum sepenuhnya menghadirkan win-win solution terutama untuk menolong kalangan yang bermasalah mentas dari keterpurukan. Meski lazimnya berbalur cerita perjuangan merengkuh kesentosaan hidup pengampunya maupun orang-orang sukses ternama yang mengharu-biru sebagai penguat, tapi masih terbilang sangat normatif, umum, bahkan subjektif. Hendaknya diingat bahwa karakteristik jumlah, tingkat keruwetan, faktor-faktor penyebab, dan jalan keluar persoalan serta kompetensi problem solving masing-masing person tentu berlainan; sehingga bantuan pemecahannya kudu spesifik dan kiranya tak cukup semata dengan menyemburkan motivasi yang bersifat pukul rata.

Anehnya lagi, bias pesona gugusan teks umumnya buku motivasi sering kontras dengan rona konteks sosial pada tataran realitas kontemporer. Coba tengok, kala para sedulur dimotivasi untuk tetap selalu optimistis melakoni keseharian betapa pun peliknya, fakta-fakta empiris kondisi dalam negeri kesannya terus merangsang buncahan rasa pesimistis. Hampir semua aspek kehidupan bangsa ini masih jauh panggang dari api. Wabah pragmatisme, egosentris, atau individualistis gampang banget menjangkiti siapa pun tiap saat. Jajaran elite penguasa beserta pemimpin tampak semakin rentan mengalami ekstasis kekuasaan, kekayaan, serta kesenangan syahwat. Parahnya, eksploitasi ketidakberdayaan rakyat jelata perlahan menjadi tren miris searah penularan life style kapitalis.

Sementara, tak sedikit penulis bacaan macam itu, setelah menuai berkahnya, tergiur perkoncoan elitis sembari keranjingan menelurkan sekuel karya –galibnya kalau sudah diterbitkan berbandrol relatif mahal– di sela-sela kesibukan meladeni permintaan jasa konsultasi, pelatihan, dan sebagainya di berbagai forum eksklusif dengan salam tempel segepok. Mungkin bisa dihitung jari mereka yang menghibahkan sebagian buku torehannya atau bergiat menularkan inspirasi secara gratis kepada kaum duafa yang sempoyongan menghadapi kemelut takdir. Bukan bermaksud underestimate, tapi di manakah mereka ketika –sebagaimana dirilis koran ini sebelumnya– ribuan kawula marginal terjangkit depresi di tengah ingar-bingar derap perkotaan semisal Jakarta dan tidak tertutup kemungkinan sama halnya kota-kota besar lainnya? Adakah mereka getol turut menggelorakan optimisme segenap korban semburan lumpur Lapindo yang bertahun-tahun merana ”sebatang kara” memperjuangkan masa depan yang terampas hingga detik sekarang?

Pada gilirannya serangkum indikasi demikian membersitkan ekspektasi musim buku motivasi bisa dinikmati oleh semua komunitas tak kecuali mayoritas wong cilik, tak hanya dimonopoli segelintir golongan berduit. Sebab, rasanya kelompok awal itulah yang lebih memerlukan motivasi dan juga uluran tangan. Alangkah lebih –menukil istilah Pak Bondan ”Mak Nyus” Winarno, sang begawan kuliner– top-markotop lagi andaikan penulisnya (motivator) sudi meluangkan sedikit kerepotan ”turun gunung” untuk menebar kesejukan sekaligus merebakkan ghirah peningkatan kualitas nasib civitas akar rumput.

Bagaimana pun sebuah karya yang kaya makna dan faedah ialah curahan ide yang bukan hanya berdimensi kepentingan artifisial, melainkan lebih merepresentasikan dimensi sosial bahkan andil konkrit pencetusnya demi kemaslahatan seluruh umat. Selebihnya, motivasi terkeren menyemburat dari lubuk diri sendiri. Wallahu a’lam!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *