40 Hari Burung MERAK

Putu Wijaya
http://www.facebook.com/pages/Putu-Wijaya/43262432803

RENDRA
Pulang dari tahlilan 7 hari meninggalnya WS Rendra di Bengkel Teater, Citayam, pintu rumah saya terkunci. Saya terpaksa mengambil jalan samping. Di teras yang menghadap ke kebun saya tertegun. Pada salah satu kursi duduk sosok yang membuat darah saya tersirap.

?Mas??
Tak ada jawaban. Saya mencoba menenangkan perasaan. Malam sedang di puncaknya. Tapi ada dering jengkrik yang membuat saya tenang. Saya coba menerima kenyataan itu sebagai sesuatu yang wajar.

?Ada apa Mas??
Tidak ada jawaban. Atau saya yang tidak mendengar. Saya hindari semua pertanyaan di kepala dan menghadapi itu sebagai sesuatu yang tidak perlu dipersoalkan.

?Aku paham, memang tidak mudah. Buatmu juga buat kami. Mas harus pergi padahal sejak malam purnama 6 Agustus itu, Mas selalu hadir di hati kami.?

Belum ada jawaban. Tapi saya mendengar suara batuk. Mungkin suara itu dari gardu satpam atau dari dalam rumah. Boleh jadi saya sendiri yang batuk.

Saya jadi teringat 40 tahun lalu di Yogya. Malam yang serupa, ketika kami melakukan pengamatan lapangan pada orang-orang jalanan dalam mempersiapkan pertunjukan Menunggu Godot. Kami gobrol di warung pinggir rel kereta dengan seorang pembual yang dengan tenangnya mengaku asal Godean dan masih bertaut famili dengan Pak Harto. Sambil nyeruput teh poci, kami nikmati saja semua cipoanya. Ia juga tahu kami tidak percaya. Tapi itu tak penting. Semuanya mengalir.

Di pasar tradisonal yang perlahan-lahan bangkit, tukang sayur meluap dari luar kota. Dengus sapi gerobak seperti menjilati punggung. Kami masuk ke dalam rimba kata-kata tanpa mengusut artinya. Semuanya hanya bunyi-bunyi berseliweran untuk saling bersentuh dan menyapa. Tak ada pertanyaan, semuanya diterima dan dinikmati sebagai bagian dari yang harus terjadi.

Waktu itu, saya masih mahasiswa indekosan yang biasa pulang sore. Pengalaman tengah malam itu lebih terasa sebagai pelanggaran hidup teratur. Meresapi kehidupan dengan citarasa lain. Saya menganggapnya sebagai sesuatu yang tak ada gunanya. Tetapi itulah salah satu inti dari karya agung Beckett yang mendapat anugerah nobel itu. Melihat sesuatu dengan sudut pandang baru.

Manusia tidak hanya lahir dan mati, tapi juga menunggu. Manusia tidak hanya melakukan hal-hal yang rasional dan sesuai dengan tujuannya. Berserakan segala yang tidak perlu yang kita pelihara sebagai sesuatu yang wajib. Misalnya membunuh waktu seperti yang dilakukan Didi dan Gogo ketika menunggu Godot yang tidak pernah datang dan juga tidak pernah diketahui apa siapanya.

?Ya??
Saya terkejut dan menoleh. Tapi suara itu nampaknya suara saya sendiri yang ingin memecahkan kebuntuan komunikasi.

?Ya tanpa kau sadari, saya telah belajar dari kamu bagaimana melihat banyak hal, kalau tidak bisa dikatakan semua hal, dengan cara yang lain. Bisa aneh, nyeleneh, asing, kurangajar atau gila, tetapi menjadi baru dan melahirkan kesegaran. Dengan begitu hidup yang sama jadi berbeda dalam hitungan detik. Tak ada yang berulang, karena kita selalu menerimanya dengan cara dan pintu yang berbeda. Kau mengajak orang untuk total, orisinal dan otentik. Dan itu tidak mudah, karena memerlukan waktu. Lebih gampang meniru atau menjaplak yang sudah dirampungkan dengan baik oleh orang lain. Terimakasih.?

Saya ulangi sekali lagi.
?Terimakasih.?
Dia memalingkan muka.

?Saya paham, kamu datang malam-malam bukan untuk mendengar aku bilang terimakasih. Seperti dulu, kau ingin menyerap apa yang sedang terjadi. Aku tidak tahu apa kau setuju, tapi aku khawatir. Makin lama makin banyak kelak orang yang tidak pernah mengenal kamu akan bicara tentang kamu. Mereka akan cenderung membuatmu sebagai dongeng. Tidak kalah dengan semua anekdot tentang Chairil Anwar. Banyak orang mengidolakan kelakuan yang ?gila? dan tidakan yang anarkis. Kau memiliki semua persyaratan itu. Ketampananmu yang meruntuhkan hati banyak perempuan. Keberanianmu melawan penguasa. Pernyataan-pernyataanmu yang kenes, tajam dan ?kurangajar?. Semuanya sudah menjadi legenda. Kau akan jadi dongeng yang tak habis-habisnya sehingga kau sendiri habis.?
Tiba-tiba saya mendengar tertawa. Tidak ada orang yang tertawa seperti itu kecuali dia.

?Aku serius. Kelakuanmu akan jauh lebih terkenal dari pikiran-pikiranmu. Apa yang kau maksudkan dengan ?mempertimbangkan tradisi?, ?keberanian melawan?, kegagahan dalam kemiskinan?, bagaimana tidak menyerah?, ?melihat segala-sesuatu dengan sudut pandang baru? , bisa jadi dimanfaatkan dengan keliru. Gaya kau tampil di panggung, cap ?burung merak?mu, ucapan-ucapanmu yang gagah, akan terpampang di T-shirt dan dipakai berjuang oleh parlemen jalanan. Walhasil kau akan terus disebut-sebut sekaligus ditinggalkan.?

Saya terkejut oleh pikiran saya sendiri. Tapi waktu menoleh, saya lihat dia tidur. Ini keempat kalinya saya memergoki dia tidur. Pertama, 41 tahun lalu, ketika nonton drama di gedung PPBI, Yogya. Kedua, 24 tahun lalu, waktu nonton drama Brecht di Jerman Timur. Yang ketiga, awal tahun ini, pulang dari pembukaan pameran sketsa almarhum Nashar dalam pesawat Garuda.

?Aku tidak akan ikut menjadikan kamu dongeng. Bagiku kau sebuah buku pelajaran. Kau memang empu yang tinggal di atas awan yang bertugas seperti polisi lalu-lintas pada kebijakan penguasa. Kau juga kawan bercanda di warung samping rel kereta api mendengarkan celoteh para pembual. Tapi kebesaranmu juga musuh, yang harus dilewati oleh seorang kalau ingin berhasil. Seperti yang pernah kau bilang, mengagumi dan menghargai tak boleh sampai menghilangkan sikap kritis.?

Dalam tidurnya, seperti biasa saya dengar dulu di Bengkel Teater, terdengar bunyi keritan gigi. Penyair Darmanto Yt yang juga seorang psikolog itu, pernah bilang, suara itu adalah tanda ambisinya yang besar dan berkobar-kobar.

Belakangan saya bertemu dengan pelukis Hardi sebelum siaran langsung mengenang Rendra di Metro TV. Ceritanya membuat saya sedih. Jadi sebagai orang yang pernah memiliki 3 istri dan 11 anak, Rendra bukan hanya seorang sastrawan besar, tetapi juga seorang kepala keluarga yang punya tanggungjawab berat.

?Ini negeri macam apa, kok membiarkan sastrawan yang sebesar itu sampai cari komisi dari jual lukisanku untuk membiayai keluarganya! ?kata Hardi gemas, sambil memperlihat surat Rendra dari penjara, ketika memintanya mencari bantuan ke Buyung Nasution dan Ajip Rosidi untuk mendukung kesejahteraan keluarganya.

Saya merasa amat trenyuh. Tak semua kelakuan almarhum bisa dinilai sebagai sesuatu yang diyakininya. Meskipun dia sudah tersohor sebagai sosok yang tak kenal kompromi. Mungkin ada yang terpaksa dilakukannya dengan berat hati dan penuh kesadaran itu tak pantas, tapi tak ada cara lain. Karena bagaimana pun, sama dengan manusia lainnya, dia harus bertahan. Dostojewsky pun terpaksa menulis cerita bersambung ?Rumah Mati Di Seberia? yang tersohor itu di koran, untuk bertahan hidup.
Di situ saya kehabisan kata-kata. Sudah jelas. Tak perlu ditanyakan lagi. Saya tahu kenapa dia duduk di situ. Lalu saya mendekat dan memegang tangannya.
?Aku juga minta maaf, Mas.?

Jakarta, 23 Agustus 09
—————————————————

ROAD SHOW monolog BURUNG MERAK Putu Wijaya & Teater Mandiri

Peringatan 100 hari Rendra dengan menampilkan warisan pemikirannya: Mempertimbangkan Tradisi ? Kegagahan Dalam Kemiskinan ? Berani Melawan ? Pantang Menyerah ? Memilih dan Menilai Dengan SUdut Pandang Baru ? Total, otentik, enerjetik dan orisinal

lintas:
Bogor (31 Oktober) ? Bandung (8 November) ? Cirebon (9 November)? Pekalongan (10 November) ?Semarang (11 November) ?Kudus (12 November) ? Yogya (14 November) ? Solo (15 November) ? Surabaya ( 17 November) – Jombang (18 November) ? Mojokerto (19 November) ? Surabaya (21 November) ? Malang (23 November) ? Singaraja (25 November) ? Denpasar (27 November).

Mengharapkan teman-teman penyelenggara Roadshow Burung Merak di wilayah memberikan alamat gedung/tempat diselenggarakannya monolog BURUNG MERAK. Bandung (STSI, teater arena), Yogya (Padepokan Butet), Solo (Taman Budaya), Semarang (Unesa), Surabaya (Unair dan Metropolis Apartemen), Malang (Universitas Ma Chung)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *