Bertuhan secara Puitis

Zen Rachmat Sugito*
http://www.jawapos.com/

Umar bin Khattab, seorang prajurit hebat nan perkasa, sewaktu mendengar lantunan Alquran yang dibacakan putrinya, langsung luluh dan membaca syahadat saat itu juga.

Modus kepindahan agama seperti Umar banyak terjadi dalam Islam. Dalam tradisi Islam, pengalaman keagamaan yang dipantik oleh pengalaman estetik mendapatkan tempat secara lapang, yang dimungkinkan pada keistimewaan Alquran sebagai kitab suci dengan pencapaian kualitas literer yang agung.

Masyarakat Arab memang sangat mengistimewakan puisi. Keragaman suku, kabilah, dialek, dan logat, diikat oleh konvensi kebahasaan yang dalam bentuk konkretnya terjawantah dalam puisi Arab. Konvensi dan kaidahnya begitu ketat, baku, dan juga rumit, tetapi itu berhasil memertahankan bentuk puisi Arab melewati rentang waktu yang panjang dan melintasi sekian generasi.

Konvensi itu juga yang menjadi pemersatu dari keragaman dialek dan logat bahasa lisan dari pelbagai kabilah yang bertebaran. Mereka, sebut Albert Hourani, tak punya bentuk komunitas tunggal atau satu landasan politik yang ajek, sehingga perang bukannya jarang terjadi.

Salah satu elemen yang bisa memersatukan terletak pada konvensi puisi Arab, sekaligus ikut membentuk identitas bersama yang (bisa) menjadi dasar bagi suatu memori bersama. Puisi karenanya punya tempat istimewa yang membuat penyair menempati posisi sosial yang tinggi.

Muhammad dan Alquran lahir dan diturunkan dalam dunia yang penuh takzim mengagungkan ekspresi puitik. Jadi amat wajar jika Alquran (di)turun(kan) dalam bentuknya yang estetis dan dengan capaian literer yang istimewa.

Dengan merujuk pada hasil penelitian Navid Kermani yang dimuat jurnal Kalam (2003), Alquran disebut tidak menafikan begitu saja konvensi puisi Arab, tapi melampauinya. Konvensi puisi Arab dialihrupakan secara aneh, pelbagai persoalan diutarakan secara berbeda, dan matra tidak lagi digunakan.

Berbeda dengan puisi Arab yang umumnya berwatak menekankan tatanan sosial-moral yang politeis, Alquran hadir dengan tema, metafor, dan dorongan ideologis yang revolusioner: pesan kesetaraan, monoteisme serta seruan untuk kembali pada jalan moral dan tanggung jawab manusia pada diri dan orang lain.

Tetapi, tulis Navid Kermani lagi, banyak penduduk Makkah pada mulanya menganggap Muhammad sebagai penyair dan Alquran sebagai tak lebih dari puisi. Hanya para ahli puisi Arab dan para penyair kawakan saja yang mampu membedakan puisi Arab dan Alquran.

Bahaya secara salah untuk disamakan dengan puisi itulah yang menyebabkan Alquran menjauh dari puisi dan penyair. Para penyair Arab mudah dicap subversif jika puisi-puisinya berani menyentuh area illahiah.
***

Secara ringkas, ada dua model pengalaman keagamaan, yakni ”keberhadapan dengan yang Illahi” (confrontation with the divine) dan ”kedidalaman dengan yang Illahi” (interiority of the divine).

Dalam tipe pertama, Tuhan dan manusia terpolarisasikan secara tajam. Sedang dalam tipe kedua, Tuhan ditemukan di lubuk kesadaran, yang dalam level tertentu, bahkan bisa terjadi ”penyatuan” antara Tuhan dan manusia.

Dari kedua orientasi keagamaan itu tumbuh cabang ilmu yang berbeda. Tipe pertama hadir dalam bentuk kesadaran beragama yang bertumpu pada masalah kehukuman (fiqh) dan jalan kebenaran (syari’ah). Tipe kedua lebih bertumpu pada pengalaman dan kesadaran rohani masing-masing sebagai sumber pengetahuan keagamaan (ma’rifah) dan jalan menuju kesempurnaan beragama. Sementara orang menyebut tipe kedua ini sebagai sufisme.

Para sufi menghabiskan hidupnya dengan menempuh jalan spiritual menuju penyatuan dengan Illahi. Dalam model ini, Tuhan ditemukan di kedalaman kesadaran subjektif manusia atau ”kedidalaman dengan yang Illahi”.

Ada yang menyebut momen itu tak ubahnya seperti pengalaman ekstase. Freud menyebutnya sebagai kesadaran oseanik: momen di mana diri menyatu dengan kosmik. Ia adalah sesuatu yang personal dan hanya bisa dinikmati si pelaku. ”Memerikan momen itu kepada orang lain (bahkan jika orang itu punya sensivitas tertentu pada momen sufistik),” kata Marshal. G. Hodgson, ”akan sama sulitnya seperti berbicara tentang musik pada orang yang sama sekali tak pernah mendengarkan musik.”

Sufisme dengan para sufi sebagai protagonisnya inilah yang memainkan peran dalam memulihkan kedudukan puisi sebagai (salah satu) jalan untuk mengekspresikan momen-momen spiritual.

Tak semua sufi menulis, tapi para sufi yang menulis untuk menggambarkan momen-momen spiritual kebanyakan menggunakan bentuk puisi sebagai medium, dan bukan prosa. Pilihan itu hingga kini pun menjadi satu-satunya pilihan yang masuk akal untuk menggambarkan, tidak hanya momen mahamistik penyatuan sufistik, melainkan semua momen yang sifatnya sangat personal.

Metafor, imaji, pencitraan, dan bunyi dalam puisi berjalin-kelindan sedemikian rupa membentuk hamparan pengertian yang bisa tak pernah habis dicecap. Tiap kali kita membaca sekuplet puisi yang berhasil, seperti ada dawai yang bergetar dalam sukma, seakan ada membran tipis yang bertalu dalam jiwa.
***

Berbeda dengan penelitian ilmiah yang rigid, kaku, dan diakhiri dengan kesimpulan yang ligat dan pejal, puisi sama sekali tidak mendikte. Dia terbuka untuk dialog dengan pembacanya. Kelindan metafora, majas, dan imajinasi yang dihamparkannya, membuat puisi, akhirnya, hadir sebagai sesuatu yang subjektif, sehingga membaca puisi lebih merupakan sebuah pengalaman personal.

Di titik ini, pembaca sebetulnya tak butuh kritikus, karena ia, dengan sebuntal pengalaman hidup, lengkap dengan segenap ganjil kegembiraan dan kepedihan yang pernah dialami, punya modal cukup untuk mengetahui apa arti puisi bagi dirinya sendiri. Puisi yang baik, pada akhirnya, selalu berhasil mengondisikan tiap pembacanya berdialog dengan dirinya sendiri, membangun solilokui dengan diri.

Menghidupkan kekuatan puitik dalam kitab suci, dengan demikian, bisa dimengerti sebagai modus membangun dialog, tidak hanya dengan diri, tetapi juga dengan Sang Pengarang Kitab Suci, Yang Illahi, atau Sang Kekasih dalam metafora Rumi.

Menghidupkan kembali kekuatan puisi dalam kitab suci, seperti pernah dengan plastis digambarkan Goenawan Mohamad, akan menghadirkan kitab suci tidak semata sebagai sehimpun dekrit, bukan pula semata sebagai KUHP. Tiap kali membaca kitab suci, seperti juga sewaktu membaca puisi, kita dikondisikan untuk berdialog dengan teks yang dibaca, untuk merenungkannya kembali, membumikan teks yang dibaca dalam semesta kesadaran pengalaman hidup. Di titimangsa ini, Tuhan akhirnya tak lagi menjadi sosok Maha Penghukum. Dia hadir dalam bentuknya yang akrab, barangkali juga indah.

Dalam bentuk yang lain, dialog dengan kitab suci akan membangun model komunikasi yang intens, bebas, dan mungkin jenial. Ini membuka kemungkinan lahirnya corak keberagamaan yang otentik, beragama ”yang tanpa makelar”.

Kadang-kadang mungkin kita membutuhkan ”makelar” itu, seperti halnya kadang kita membutuhkan kritikus sewaktu ingin mengetahui model pemaknaan yang berbeda terhadap sebuah puisi. Tapi, jujur saja, saya pribadi tak membutuhkan ”makelar”, jika ”makelar” itu mengutip ayat-ayat kitab suci yang sebenarnya puitis justru untuk menganjurkan kekerasan dan penyerangan pada orang lain yang dianggap bid’ah dan menyimpang. (*)

*) Esais, tinggal di Jogja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *