Estetika Iblis Jilid II

Judul: Ular di Mangkuk Nabi
Penulis: Triyanto Triwikromo
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Cetakan: Pertama, Juni, 2009
Tebal: xi + 163 halaman
Peresensi : Saifur Rohman*
http://suaramerdeka.com/

DALAM alur sejarah kepengarangan Triyanto Triwikromo, kiranya kumpulan cerpen Ular di Mangkuk Nabi (Gramedia: 2009) merupakan produk dari proses kreatif jilid kedua. Triwikromo pertama adalah metafora dan Triwikromo kedua adalah metonimi. Pertama adalah patografi dan kedua mitografi.
Jumlah yang terkumpul dalam buku ini adalah 15 cerpen. Semuanya sudah diterbitkan di media cetak nasional. Cerpen itu adalah ?Iblis Paris?, ?Dalam Hijau Hijau Friedenau?, ?Delirium Mangkuk Nabi?, ?Sepasang Ular di Salib Ungu?, ?Sirkus Api Natasja Korolenko?, ?Matahari Musim Dingin?, ?Badai Bunga?, ?Lumpur Kuala Lumpur?, ?Neraka Lumpur?, ?Malaikat Kakus?, ?Sayap Kabut Sultan Ngamid?, ?Hantu di Kepala Arthur Rimbaud?, ?Kalanaga?, ?Pelayaran Air Mata?, dan ?Malaikat Tanah Asal?.

Berdasarkan kolofon, secara umum cerpen-cerpennya memiliki latar di negeri seberang. Para tokoh utama seringkali berperan sebagai tokoh ?aku? yang mondar-mandir di jalan protokol Sydney, terbang berkeliaran melintasi daratan Eropa, Amerika, dan berkutat di hutan-hutan benua Asia. Cerpen ?Iblis Paris? (2008) menokohkan Zita, perempuan pejuang yang memiliki kekasih bernama Khun San. Cerita itu berlatar belakang pergolakan politik di Burma. Zita berlari ke Paris karena ingin menghilangkan kenangan bersama Khun Sa dan segala bentuk kesusahan di medan pertempuran. Di Paris, dia justru bertemu dengan Duarte, lelaki bengis yang mencintainya.

Cerpen ?Delirium Mangkuk Nabi? bercerita tentang tokoh aku yang memiliki setting Kota Sydney, Australia. Mangkuk nabi adalah sebuah kata kunci yang dicari oleh tokoh aku supaya bisa menyelamatkan diri dari mesin penyedot di kota itu. Cerpen ?Malaikat Kakus? bercerita tentang tokoh yang keluar dari water closet kemudian diidentifikasi sebagai malaikat. Dalam ?Malaikat Tanah Asal? bercerita tentang malaikat yang iri kepada seorang gadis berusia 12 tahun.

Kendati para tokoh sudah mencecap debu dan udara tanah seberang, mereka tetap saja terjebak pada ruang yang gelap, anyir, muram, dan ganjil. Ruangan itu tidak pernah beranjak dari sebuah dunia Triwikromo yang seram, bengis, dan kejam.

Patologis
Secara khusus, kekejaman itu dapat dijumpai secara ekstrem dalam cerpen ?Kalanaga? (2009: 129). Cerpen itu berkisah tentang sosok perempuan China bernama Gwat Nio dalam latar belakang pemberontakan PKI 1960-an. Proses pembunuhan itu ditulis secara eksplisit sebagai berikut: ?Matanya dicungkil. Lehernya dijerat kawat. Di perut yang membuncit diterakan tanda salib seukuran lengan. Darah mengucur. Usus memburai (2009: 131).? Tetapi, lihatlah, perempuan yang dibunuh tiba-tiba memiliki sayap dan berubah menjadi malaikat.

Kutipan itu membubuhkan tanda-tanda semiosis: Malaikat dan iblis; Pembunuhan dan kebangkitan; Kekejaman dan kehalusan. Tampaknya itulah yang disebut oleh Goenawan Mohamad dalam pengantarnya bertajuk ?Sederet Cerita, dengan Dua Ketukan? sebagai dunia imajiner yang memukau dengan dua ketukan. Ketukan pertama, eksplisitasi tokoh imajiner dan ketukan kedua, refleksi dunia imajiner ke dalam hidup sehari-hari. Kendati kerangka teori Mohamad amburadul, namun memiliki simpulan yang menakjubkan; karyanya begitu ?ajaib, ganjil, seram bizar yang ditata api bagaikan ornamen (2009: xi).?

Kerangka teori itu diperbaiki Budi Darma berdasarkan pola bentuk dan isi. Darma memandang cerpen-cerpen Triwikromo sebagai pembaru bentuk ungkapan yang melihat dunia secara ?asimetris, muram, dan melompat-lompat? untuk sebuah isi yang sama.

Kelemahan Mohamad terletak pada ketidakpahaman pada latar historis teks-teks Triwikromo sehingga dikatakan sebagai dunia imajiner yang merefleksikan fakta-fakta. Kalau saja Mohamad tidak malas membaca cerpen-cerpen Triwikromo sebelumnya, maka dia tidak akan terjerumus dan rusak parah karena teknik penafsiran yang disebut Riffatere sebagai ?naturalisasi?. Fakta bagi cerpen-cerpen Triwikromo adalah pendukung untuk masuk ke dalam dunia imajiner yang lebih dalam. Imajinasi dari ranah imajiner. Delir dari segala delir. Simbol dari simbol. Itulah Estetika Iblis Jilid Kedua.

Mitologis
Estetika ini bukan mengembalikan dunia imajiner ke dalam fakta-fakta, melainkan menjadikan fakta-fakta sebagai pemerkaya wilayah imajiner tingkat II. Di tingkat pertama, kita bisa memperhatikan cerpen-cerpen Triwikromo yang dikumpulkan dengan tajuk Rezim Seks (1995) dan Ragaula (2002). Cerpen bertajuk ?Ragaula? bercerita tokoh utama Ragaula (Jawa: Raga, tubuh; ula: ular) sebagai iblis yang kelihatan di hadapan orang banyak. Cerpen ?Keluarga Iblis? dalam Ragaula (2002) juga bercerita tentang kekerasan. Istilah Ragaula bisa dikatakan sebagai simbol estetika iblis tahap pertama. Estetika ini berciri kondensasi fakta-fakta, yakni menggabungkan gagasan-gagasan faktual menjadi satu istilah. Demikian pula dalam Malam Sepasang Lampion (2004) yang bercerita tentang tokoh utama Xi Xhi sebagai minoritas China yang dibesarkan dalam inses dan kekerasan.

Estetika lanjutan adalah bukan menggabungkan kata-kata referensial menjadi satu kata metaforis, tetapi menggabungkan kata-kata metaforis menjadi satu metafora baru. Hal itu tecermin dalam judulnya: Ular di Mangkuk Nabi. Judul itu tidak ada dalam judul satu cerpen, tetapi judul dari dua cerpen. Cerpen pertama adalah ?Sepasang Ular di Salib Ungu? dan kedua ?Delirium Mangkuk Nabi?. Ini bukanlah ketidaksengajaan, tetapi merupakan arketip dari sebuah perburuan estetis yang dilakukan pengarang.

Perburuan itu terlihat dalam perluasan ruang jelajah dan pendalaman terhadap gelapnya ketidaksadaran. Di mana pun tempatnya, pengarang akan menciptakan kisah tentang seorang tokoh yang dilempar ular, jatuh ke laut, tetapi tiba-tiba di hotel (2009: 36). Sebuah kebakaran yang menelan korban itu tiba-tiba memunculkan tikus yang memiliki sayap (2009: 36). Demikian pula akan muncul rupa iblis di mana pun pembaca menjelajahi cerita: ada iblis yang tergesa-gesa (h.8), iblis manis (h.9), iblis paling rapuh (h.14), iblis hijau (h.19 dan h.24), iblis kurang ajar (h.18), iblis paling galak (h.34), manusia brengsek (h.35), iblis yang tertawa (h.36), dan neraka pujaan (h.108).

Itulah jawaban dari pertanyaan Budi Darma kenapa narasinya ?melompat-lompat?; lagi pula batu sungai juga tidak tersusun sebagai garis lurus. Lompatan dari dunia pathos menuju dunia mitos. Cerita tentang iblis itu pada masa lalu adalah patografi, tetapi akhirnya adalah mitografi.(73)

*) Kritikus Sastra, menetap di Semarang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *