Ganyang-mengganyang

A.S. Laksana *
jawapos.com

When you got nothing, you got nothing to lose.- Bob Dylan

MUNGKIN kita diam-diam memiliki bayangan yang bersifat kuliner tentang Malaysia; mungkin negeri jiran itu tampak di mata kita sebagai seekor kambing muda –atau cempe menurut lidah orang Jawa– sehingga setiap kali kita terganggu oleh tabiatnya kita buru-buru ingin mengganyangnya. Niat pertama untuk mengganyang si cempe muncul tahun 1963 dan disuarakan sendiri oleh Presiden Soekarno dalam cara yang, tentu saja, sangat menggelora.

Demokrasi Terpimpin sudah berjalan empat tahun saat itu dan perekonomian kita remuk diguncang ”setan inflasi” yang melambungkan harga-harga ke tingkat yang sulit dijangkau. Namun Si Bung pantang kelihatan loyo. Ia mengumumkan Deklarasi Ekonomi (Dekon) pada bulan Maret, dan bulan berikutnya melakukan pemancangan tiang yang menandai pembangunan Toko Serba Ada (Toserba) Sarinah, gedung tinggi pertama di Jakarta yang menjulang ke langit setinggi 14 lantai.

Ada kritik bermunculan seperti hama, tetapi Si Bung punya tangkisan. ”Janganlah ada satu orang manusia mengira bahwa department store adalah satu proyek luxe, tidak!” katanya mantap. ”Menurut anggapan saya, department store adalah satu alat distribusi untuk mendistri?busikan barang-barang keperluan hidup kepada rakyat jelata.”

Pernyataan itu mungkin sulit dibenarkan dalam pengalaman kita hari ini, tetapi saat itu Pemimpin Besar Revolusi memerlukan Sarinah dengan alasan apa pun. Ia memerlukan sesuatu yang menjulang dan memancarkan cahaya gemerlap di tengah masa suram yang menggiriskan. Selanjutnya, Mei 1963, setelah pembicaraan dengan IMF dan pemerintah Amerika Serikat, ia mengumumkan paket reformasi ekonomi, yang nantinya tak bisa dijalankan karena ia bersikeras menolak pembentukan negara Malaysia.

Menurutnya, negara baru ini hanyalah proyek akal bulus neokolonial Inggris, jadi sudah sepantasnya kita ganyang saja. Tak usah takut pa?da Inggris, jangan gentar pada Amerika. Inggris kita linggis, Amerika kita seterika. Lalu dilancarkanlah operasi ke Sabah dan Serawak. Juga ada pertemuan pribadi di Tokyo antara Bung Karno dan Tunku Abdul Rahman, perdana menteri Malaysia. Dan, bagaimanapun, setelah pertemuan itu Si Bung tidak mengendurkan semangat konfrontasinya dengan Malaysia.

Ia tetap ingin mengganyang Malaysia. Hanya saja perekonomian kita agaknya tak sanggup menopang operasi tersebut dan justru semakin kocar-kacir sampai mencapai tingkatan nyaris karam dengan inflasi 650 persen. Dalam kondisi terburuknya, tahun 1965, nilai rupiah bahkan sempat jatuh mengenaskan di mana 1 dolar AS melambung setara dengan Rp 30 ribu. Puncak dari seluruh kepahitan itu, Anda tahu, adalah meletusnya Gerakan 30 September (atau Bung Karno menyebutnya Gerakan 1 Oktober), dan seluruh rangkaian bencana tahun itu ditutup dengan kebijakan sanering (pemotongan nilai mata uang) pada bulan Desember –seribu rupiah dipenggal nilainya menjadi hanya satu rupiah.

Bung Karno jatuh setelah itu dan Malaysia segar bugar sampai hari ini dan rata-rata warganya hidup lebih makmur ketimbang rata-rata kita. Tak ada masalah. Tapi kita beberapa kali mendengar kabar penyiksaan pembantu dari Indonesia oleh majikan-majikan Malaysia. Yah, sedikit banyak ada masalah di situ, itu tak beradab. Lalu kita mendengar kabar mereka mengangkangi Pulau Ambalat, belakangan juga Pulau Jemur. Aih, memang tak banyak orang Indonesia yang tahu di mana kedua pulau itu, tetapi bisa dibilang tindakan Malaysia itu keterlaluan. Lalu kita dengar mereka mengklaim lagu Rasa Sayange. Alamaaak, itu ngawur. Lalu mereka menyerobot reog Ponorogo. Apa boleh buat, itu gila. Lalu mereka mencatut Tari Pendet. Oke, ”Ganyang Malaysia!”

Hasrat mengganyang jiran kali ini jelas berbeda dari versi 1960-an; ia tidak terlontar dari mulut pemimpin negara, tetapi dari kegeraman orang-orang yang sudah tak tahan pada dua hal. Pertama, tak tahan pada perilaku tetangga sebelah. Kedua, tak tahan menunggu apa yang akan dilakukan oleh pemerintah. Saya tidak tahu apakah kemelut rumah tangga Manohara dengan bangsawan Malaysia ikut menyumbang perasaan tak tahan mereka. Saya juga tidak tahu apakah keadaan ekonomi kita hari ini turut mempernyaring seruan pengganyangan.

Saya tidak ingin serampangan mempersamakan kondisi perekonomian waktu itu dengan kondisi sekarang. Jelas bahwa sekarang Anda tidak harus menyaksikan orang-orang mengantre sembako setiap hari. Sekarang paling hanya sesekali kita melihat pemandangan yang mirip-mirip itu; orang-orang berebut uang sedekah Rp 20 ribu dan beberapa tewas terinjak-injak; orang-orang berebut bantuan sembako dan beberapa mati dalam antrean yang sesak; orang-orang tak berdaya ketika anak-anak mereka disandera oleh pihak rumah sakit karena tak sanggup membayar biaya perawatan, dan sebagainya.

Pada orang-orang yang sudah terdesak seperti itu, yang tak bisa lagi maju atau mundur ke mana pun, Anda tak boleh main senggol sembarangan. ”Sebahaya-bahayanya makhluk hidup adalah mereka yang tak punya apa-apa lagi… mereka sungguh tak tertandingi,” kata James Baldwin, penulis dan aktivis hak asasi kulit hitam Amerika, dalam bukunya Nobody Knows My Name (1961).

Orang-orang yang tak tertandingi itu rela mati demi berebut sedekah dan bantuan sembako; saya kira mereka dengan riang akan menyediakan diri sebagai relawan untuk mengganyang Malaysia atau apa saja yang boleh diganyang. Ini pernyataan yang sungguh-sungguh. Anda tahu, aksi-aksi heroik seringkali merupakan hiburan yang dinanti-nantikan oleh orang-orang yang nyaris putus asa. Amerika memerlukan sosok Rambo, yang terampil membabat Vietkong seorang diri, ketika pada kenyataannya mereka compang-camping dalam perang Vietnam. Amerika memerlukan Saddam Hussein yang harus ditumpas dengan dalih apa pun agar ada alasan untuk menegakkan kepala. Dan Bung Karno memerlukan Malaysia untuk diganyang.

Hari ini, 46 tahun kemudian, kita mendengar lagi seruan yang sama. Saya betul-betul terpesona beberapa hari lalu di depan pesawat televisi saat menyaksikan kesungguhan para anggota Relawan Ganyang Malaysia menggembleng diri mereka dalam latihan olah kanuragan di sekretariat mereka. Mereka memainkan jurus bambu runcing, senjata ampuh warisan nenek moyang, yang mereka hias dengan bendera merah putih kecil. Harap jangan memperbandingkan latihan mereka dengan sandiwara tujuh-belasan, yang saya saksikan ini jauh lebih patriotik.

Mereka juga menunjukkan kekuatan batok kepala dan kekebalan tubuh; mereka mengunyah beling dan kaca seolah-olah menikmati keripik singkong. Jika mereka betul-betul diberangkatkan ke Malaysia, saya bayangkan mereka pastilah akan membikin keder semua orang di sana. Dengan otot kawat, tulang besi, dan usus pipa ledeng, mereka niscaya akan mampu mengobrak-abrik seluruh gedung di sana dan memecahkan kaca gedung-gedung itu dan memakan habis belingnya. Saya yakin negeri jiran itu akan bangkrut seketika oleh aksi para relawan kita dan selanjutnya mereka pasti jera main serobot seenaknya.
***

*) A.S. LAKSANA, cerpenis, aslaksana@yahoo.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *