Memihak, Ciri Sastra Banyumas

Budiono Herusatoto*
http://www.kr.co.id/

SETELAH lama menanti perbincangan yang intens terhadap pemikiran tentang penciptaan karya sastra Banyumas, kini muncul dengan serius diawali oleh Sigit Emwe: Langkah Sastra Banyumas disusul oleh Rusmiyati: Sastra Banyumas dalam Kekosongan Budaya (KR Minggu, 14/6/2009), disambung oleh Yosi M Giri: Misi Kesusasteraan di Banyumas (KR, Minggu 21/6/2009), saya sebagai pengamat kebudayaan Banyumas ikut nimbrung untuk lebih melengkapi rerasanan sastra Banyumas itu.

Sastra Banyumas memang bukan hanya ?karya sastra bermediakan bahasa Jawa Banyumasan yang ditulis oleh orang Banyumas dalam konstruksi budaya Banyumas; seperti dikemukakan oleh Yosi M Giri, tetapi menurut saya, ?juga termasuk yang bermediakan bahasa Indonesia ditulis siapa saja asal dalam konstruksi budaya Banyumasan? dan ?tidak? dibedakan dengan ?karya sastra berbahasa Indonesia yang ditulis oleh orang Banyumasan sendiri?.

Saya sepakat dengan apa yang dikemukakan Yosi M Giri, selanjutnya bahwa ?upaya negasi dan pertimbangan terhadap fenomena kemasyarakatan? itulah sastra (Banyumasan) yang memainkan perannya bukan saja sebagai bagian dari budaya tetapi sebagai pencipta budaya?. Hal tersebut perlu saya tambah: ?Krena penciptaan budaya sangat berkaitan erat dengan sejarah pemikiran, yang dilandasi dan dipengaruhi oleh pikiran zaman sesuai semangat zaman dalam menghadapi tantangan zaman.

Hal itu seperti ditunjukkan secara nyata dan diperankan oleh karya sastra heroiknya Chairil Anwar, yang berbeda nada semangat zamannya dengan karya sastra antropologis Jawanya WS Rendra, Darmanto Jatman dan Arswendo Atmowiloto dengan ?Canthing?-nya, yang berbeda dengan karya sastra awal zaman Orde Baru dari Taufik Abdullah, dan kini di era reformasi ini pun ada ?Mutiara Rakhmat?-nya Jalaludin Rackhmat.

Perbedaan itu karena roda sejarah pemikiran terus berputar hanyakramanggilingan (bagaikan siklus roda zaman yang terus bergulir maju ke arah depan). Wacana kebudayaan dalam era perubahan di pelbagai segi kehidupan manusia menghadapi tantangan zaman selalu menimbulkan gejolak antara sikap pro dan kontra. Ada yang menerima perubahan, ada yang mengkritisi seperti sastra pemberontakan Pujangga Baru, sampai kepada yang tidak sudi menerima perubahan seperti ?Serat Gatholoco?-nya Prawirataruna dan ?Serat darmogandhul?-nya Kalamwadi pada era zaman abad ke-19 dan awal abad ke-20.

Karya sastra sebagai salah satu ranah berkesenian dalam wilayah kebudayaan, tidak terlepas dari lingkup sejarah pemikiran dan merupakan sebuah ungkapan tentang peta pengelompokan simbol budaya. Simbol budaya Banyumas itulah yang seharusnya menjadi ?misi kesastraan di Banyumas(an)?. Bukan hanya lingkup kecil teritorial Kabupaten Banyumas tetapi dalam lingkup keleluasaan teba budaya Banyumasan yang meliputi area luas Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, Cilacap dan Kebumen (Barlingmascakeb).

Sejarah pemikiran kerap kali dibedakan dari filsafat, karena filsafat lebih meliputi pertalian dan evaluasi pemikiran daripada kajian tanpa memihak (non committal) terhadap suatu konsep dalam konteks budaya dan sejarahnya sendiri. Filsafat dan sejarah pemikiran seharusnya lebih serius dalam mengkaji bukan hanya ranah sosial dari konsep-konsep yang digelutinya, tetapi juga mengkaji secara lebih luas ranah budaya yang terdapat dalam relasi kuasa (power relation), atau yang kemudian dikenal dengan ?politik pengetahuan? (politic of knowledge).

Untuk itu diperlukan sebuah pendekatan yang terhindar dari reduksionisme materialis (yang menolak kebudayaan) atau reduksionalisme kultural (yang menolak kekuasaan) dan perlu lebih menekankan kesalingmelengkapi antara keduanya untuk diperbaharui ?sudut penelaahaannya?.

Hal itu dikemukakan oleh Nicholas B Dirks dalam tulisannya ?The Original Caste? (1990:61) dalam upayanya memperkenalkan ulang ?kekuasaan, hegemoni dan sejarah ke dalam studi-studi struktur pemikiran yang terbentuk secara kultural? tanpa terjatuh pada pendekatan ekstrem sebaliknya, yang mereduksi segala sesuatu menjadi sekadar perbincangan relasi kuasa yang akan menghapus perbedaan-perbedaan ilmiah sosial antara etik materialis dan temik kulturalis.

Sepotong pendapat Nicholas B Dirks itu perlu saya kutip di sini untuk mengingatkan kembali bahwa ?era zaman modernisme? yang didominasi oleh teori konvensional Barat, seperti digambarkan oleh Yosi M Giri dengan ?Dalam ruang akademis, hampir di segala bidang tidak pernah lepas pula dari reduksi teori-teori dan juga pemahaman ala Barat yang telanjur dianggap sebagai standardisasi nilai-nilai yang objektif dan rasional bagi penyelesaian suatu masalah, tidak terkecuali dalam sastra?.

Era zaman seperti itu sesungguhnya sudah berlalu, berganti dengan zaman kontemporer yakni era pormodernisme yang menolak objektivisme, positivisme dan determinuisme sekular yang berdasarkan pada konvensi Hukum Logika Klasik Aristoteles yang disebut sebagai patokan pikir ilmiah; dan telah ditingalkan berkat psikoanalisa dan konsep ambivalensinya Sigmund Freud, sehingga kini pelbagai fenomena paradoks yang terdapat dalam karya sastra Timur (India, Cina, Jepang, Indonesia: Jawa , Sunda, Melayu) dapat lebih dipahami sebagai sastra filsafat, dengan logika paradoksal (logical paradox- keganjilan logika) atau semantic paradox (keganjilan arti kata); pertentangan yang menyangkut pengertian-pengertian yang berhubungan dengan arti kata yang berwujud simbol-simbol bahasa.

Sesungguhnya sastra kontemporer di Indonesia pun sudah lama muncul seperti misalnya ?Anak Bajang Menjaring Angin?-nya Sindhunata yang berlatar belakang kisah-kisah wayang purwa tentang keterkaitan antara satu kelompok wayang yang memiliki ciri khasnya sendiri yaitu ?kuku pancanaka? seperti Anoman, Bima, Dewaruci, Gajahsitubanda dll. Dan karyanya yang terbaru adalah ?Putri Cina?, berupa sastra sejarah keberadaan dan peran Putri Cina (Siam) di Jawa, sejak dari selir raja Majapahit dan menurunkan R Patah dan anggota Walisanga yang Indo-Cina sampai menjadi simbolis menyejarah bahwa godaan ampuh bagi pejabat tinggi adalah ?Wanita, Harta dan Tahta? hingga zaman Indonesia Modern ini.

Sehingga apa pun namanya apakah sastra sejarah, sastra antropologi, sastra sosiologi, sastra musikal, sastra dramatari dan sebagainya, kesemuanya adalah hasil imajinasi sang penciptanya untuk menyajikannya sebagai media komunikasi yang terstruktur dengan indah ?Jagat seni dan media telah mengalami perubahan radikal, sehingga hakikat sastra, apa boleh buat, ikut pula berubah?, demikian Budi Irawanto penulis ?Sastra dan Simulaca? dalam kumpulan tulisan ?Sastra Interdisipliner, Menyandingkan Sastra dan Disiplin Ilmu Sosial? (2003:17).

Kita tidak dapat lagi membayangkan sastra sekadar sebagai kumpulan kisah, ungkapan melankolis, bahkan Garin Nugroho, sineas terkemuka Indonesia mengatakan bahwa ?televisi adalah sastra rakyat hari ini?, atau dengan pengertian lain ?Sastra musti kita pahami dalam konteks perkembangan baru, sebagai sastra multidisipliner, bukan lagi sastra monodisipliner seperti teori sastra modernisme saat lalu.

Kalau kita kembali kepada pokok bahasan ?Sastra yang Memihak sebagai Ciri Sastra Banyumasan?. maka harus pula disadari, sastra Banyumasan itu ya dalam bentuk dan menggunakan media apapun juga dan sudah ditunjukkan keberadaannya sejak ?Dalang Jemblung? berkiprah pada abad ke-17 dan 18-an yang terinspirasi dari narasi monologis Dalang Angguk Jemblung Umarmaya-Umarmadi pada era abad ke-16 zaman Senopati Mangkubumi I, Adipati Pasirluhur menyebarkan agama Islam sampai ke Tanah Pasundan Timur bersama Pangeran Makdum Wali yang mengisahkan ceritera menak yang dirintis oleh Sunan Giri di Kudus dengan wayang menak. Babad Kamandaka, Cariyos Lutung Kasarung, Ketoprak, Wayang Orang, Begalan dan Nyanyian Anak-anak pun sarat sebagai sastra rakyat Banyumasan tempo dulu.

Sehingga ?Misi Kesusasteraan Banyumas? (Yosi M Giri) masa kini pun harus bercermin kembali kepada sastra tempo dulu dan sastra di Banyumas TV masa kini. ?Sastra Banyumas dalam Kekosongan Budaya? adalah benar terjadinya seperti dilansir oleh Rumiyati: karena ?Orang Banyumas cenderung malu untuk mengakui budayanya sendiri?. Hal itu pun saya temui dan alami sendiri saat mengajak temen-teman di Banyumas untuk menulis ?topik-topik Banyumasan?.

Padahal acara Inyong Siaran dari Jogja TV ternyata malah digemari oleh para priyantun bandhekan karena menghibur dan khas budaya Jawa asli?. Katanya ?Daripada nonton acara TV nasional yang jenuh dengan bahasa dan budaya Indonesia-Betawian?. Konsep Rumiyati adalah ?Sastra Banyumas benar-benar menyuarakan dinamika budaya dan kehidupan masyarakat Banyumas(an) ?, itulah yang juga saya maksud dengan ?Sastra yang Memihak sebagai Ciri Sastra Banyumasan?.

*) Drs Budiono Herusatoto, Wong Banyumas asli, Penulis buku BANYUMAS, Sejarah, Budaya, Bahasa dan Watak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *