Seperti Matahari…

Nita Gracia Dars Hats
kendaripos.co.id

Seperti biasa, sore ini aku duduk-duduk santai di teras rumahku, sambil mendengarkan lagu dari radio kecilku ditemani secangkir teh hangat. Ya, inilah yang sering kulakukan di hari-hari tuaku. Aku tersenyum tatkala melihat beberapa anak kecil dengan riang bermain di halaman rumahku. Wajah-wajah polos itu terlihat sangat bahagia bermain bersama, walau hanya dengan mainan sederhana seperti kelereng. Perlahan tanganku yang mulai keriput meraih cangkir teh di meja, lalu menyodorkannya ke bibirku. Aku meneguk teh itu dengan penuh nikmat dan damai. Kemudian, mataku terpejam menghayati bait-bait lagu populer masa kini dari radio kecilku yang mulai ketinggalan zaman, sambil sesekali bersenandung mengikuti irama lagu.

Aku tersentak begitu mendengar bait-bait lagu dari entah siapa nama penyanyinya. Aku tidak tahu sebab di masa tuaku ini aku tergolong orang tua yang ?kuper?. Bait-bait lagu ini mengingatkanku pada cerita masa mudaku. Cerita yang telah lama aku lupakan dan kubur dalam-dalam. Mataku berkaca-kaca kala kuingat masa itu. Masa-masa terindah sekaligus menyakitkan?.

Tiga puluh sembilan tahun yang lalu?.
Masa-masa SMP adalah masa-masa yang penuh dengan gejolak. Kita mulai tumbuh dewasa baik secara fisik maupun psikis. Pada masa ini pula kita mulai tertarik dengan lawan jenis dan mulai mengenal yang namanya ?cinta?. Tapi cinta pada masa ini sering disebut cinta monyet, karena hanya merupakan pengaruh dari perkembangan menuju kedewasaan.

Namaku Kartika Rahayu Setiowati Andira Pratiwi. Nama yang amat panjang, bukan? Jadi tidak heran kalau teman-teman menjulukiku ?kereta api?. Aku biasa dipanggil Ayu. Saat ini aku duduk di bangku kelas dua SMP. Hidupku sangat beruntung karena aku memiliki keluarga dan teman-teman yang sangat sayang padaku. Aku pun hidup serba-berkecukupan, dan yang paling penting adalah karena Tuhan menganugerahiku kecerdasan yang luar biasa sehingga aku menjadi salah satu murid terpandai di sekolah. Basket adalah kegemaranku. Aku begitu sangat menyukai olahraga yang satu itu, walaupun aku tidak pernah bercita-cita menjadi pemain basket profesional. Dari basket, aku mendapatkan banyak teman baru yang memiliki kegemaran yang sama. Dari basket pula aku mengenalnya?.

Namanya Indra, dia juga duduk di bangku kelas dua SMP. Namun, kelas kami berbeda. Dia juga menyukai basket, sama sepertiku. Dia termasuk lelaki populer di kalangan gadis-gadis sebayaku bahkan kakak-kakak kelasku karena ketampanannya. Awalnya aku pikir dia lelaki yang sombong dan besar kepala karena sikapnya yang dingin dan terlihat kurang bersahabat. Apalagi setiap disapa oleh gadis-gadis, ia terus berlalu tanpa menoleh membalas sapaan mereka atau sekedar tersenyum. Kadang jika aku melihat hal itu, aku mengumpat dalam hati, Mahal amat sih senyumnya! atau Dasar manusia es, tampang begitu dibanggakan!

Namun perlahan anggapanku tentangnya mulai sirna. Ternyata sebenarnya dia orang yang baik dan berjiwa sosial tinggi, terutama ketika suatu hari aku melihatnya menolong anak kucing yang tersangkut di pohon dan membantu seorang nenek tua yang kesusahan membawa barang-barangnya yang berat.

Minggu-minggu berlalu. Dia mulai menunjukkan sikap bersahabat padaku. Mungkin karena kami sering berlatih dalam satu lapangan, terlebih lagi kami les matematika di rumah salah seorang guru matematika di sekolah kami. Lambat laun, kami pun semakin akrab. Kami sering bercerita, entah itu mengenai basket atau hal-hal pribadi lainnya. Dia pun menuturkan alasannya bersikap dingin dan tidak bersahabat selama ini (terutama kepada para gadis). Dia mengatakan kalau dia tidak menyukai orang yang bersifat munafik. Sebaliknya, dia mengatakan kalau dia menyukai gadis yang apa adanya sepertiku. Aku tidak dapat membayangkan seperti apa wajahku saat itu. Yang jelas, aku merasakan wajahku memanas seketika menahan rasa malu dan senang mendengar pujiannya. Tapi, dari sini aku dapat pelajaran kalau kita tidak boleh menilai orang sembarangan tanpa tahu apa-apa tentangnya.

Suatu senja sehabis latihan basket, dia menyatakan cintanya padaku. Bukan cinta sebagai sahabat, melainkan cinta antara seorang lelaki pada gadis. Aku masih ingat kata-katanya saat itu.
?Yu, boleh tidak aku menjadi matahari untukmu?? tanyanya dengan wajah bersemu merah.
Jujur, saat itu aku merasa senang, tetapi juga bingung. Aku belum pernah mengalami kejadian ini sebelumnya. Ini adalah pengalaman cinta pertamaku! Dengan gugup aku menjawab, ?Aku tidak ingin kau menjadi matahari untukku.?
?Kenapa??
?Karena matahari itu akan terbenam seperti senja ini.?
Dia tersenyum menatapku, kemudian ia memegang bahuku seolah ingin meyakinkanku. ?Walau matahari akan terbenam saat senja, tapi sinarnya akan selalu menerangimu, bersama dengan hadirnya bulan.?

Aku tidak percaya dia dapat mengatakan kalimat romantis seperti dalam drama-drama kisah percintaan. Sorot matanya tajam menatapku seakan berkata ?percayalah padaku?. Dengan malu-malu, aku pun menerima dia menjadi matahari yang akan menyinari hari-hariku ke depan dengan cahayanya yang menenteramkan jiwa.

Seperti pasangan remaja pada umumnya, hampir setiap malam minggu kami berkencan. Biasanya kami berkeliling kota dengan sepeda motor dan singgah di tempat-tempat yang menarik. Suatu malam, kami duduk-duduk di pinggir laut sambil menikmati pemandangan laut di malam hari. Di sekitar kami, tampak beberapa pasangan remaja yang sedang kencan. Ada juga sekelompok remaja lain yang sekadar berkumpul bersama untuk malam mingguan. Aku melirik ke arahnya yang sedari tadi hanya diam sambil memandang laut.

?Pemandangannya indah ya?? tanyaku berbasa basi.
?Hm.? jawabnya singkat, padat, dan tidak sopan! Aku sedikit kesal dengan responnya itu.
?Udara di sini dingin sekali ya!? aku mengganti topik pembicaraan.
Tapi lagi-lagi jawabannya hanya ?Hm.?
Aku benar-benar kesal! Kenapa sih dia? Apa itu hm? Aku tidak mengerti!
?Memangnya kau tidak bisa mengatakan kata lain selain hm?? aku membentaknya, tetapi ia tahu aku tidak serius.

Ia menghela nafas. ?Baiklah, pemandangannya indah dan di sini dingin sekali. Puas?? balasnya dengan nada membentak yang tidak serius. Aku cemberut.
?Sebenarnya kau kenapa? Apa kau sakit?? Aku memandang wajahnya yang memang terlihat pucat. Dia tampak gelisah.
?Yu, tunggu sebentar, ya. Aku ke toilet dulu,? dia pun pergi.

Aku tersenyum geli, ?Jangan-jangan dia pucat gara-gara ?nahan? dari tadi.?
Hampir setengah jam kutunggu, namun ia belum datang juga. Aku sudah sangat kedinginan di sini. Memangnya dia pergi ke toilet mana sih? Aku terus menunggu selama kurang lebih setengah jam! Aku hampir saja pulang, kalau ia tak segera datang.
?Eh, mau ke mana?? tegurnya.
?Kenapa lama sekali?!? omelku.
?Maaf, tadi ada teman lama.?

Aku masih kesal, tapi ya sudahlah. Percuma meributkan hal yang sepele begini.
?Kalau begitu kita pulang ya. Sudah hampir malam nih,? ajakku.
?Ya sudah,? dia pun mengambil motornya lalu men-starter-nya.

Sambil menunggu motornya siap, aku memperhatikannya. Kemudian, aku melihat sesuatu di siku kirinya. Seperti tahi lalat, namun ini lain. Seperti? bekas suntikan yang ditusukkan berkali-kali sehingga akan meninggalkan bekas berupa titik hitam. Aku tahu hal ini, karena nenekku yang sakit-sakitan selalu mendapatkannya. Namun, aku tak mau mempertanyakan mengapa tanda itu ada padanya.

Suatu hari, ayah marah besar padaku. Penyebabnya karena nilai-nilaiku merosot cukup drastis. Ia menuding bahwa pacaran adalah penyebab utamanya.
?Ayah kan sudah bilang, kamu itu masih terlalu kecil untuk berpacaran! Kamu belum siap!?
Aku hanya tertunduk mendengarkan ucapan-ucapan ayah.
?Mulai saat ini, ayah tidak mau lagi mendengar kamu pacaran! Kamu tidak boleh keluar ke mana-mana lagi selain les! Bahkan untuk latihan basket sekalipun. Kamu harus fokus ke pelajaran. Sekarang kamu sudah kelas tiga, sebentar lagi mau ujian,? ceramahnya panjang lebar.
Aku tahu ayah benar, dan yang dia lakukan memang demi kebaikanku juga. Ya? mau apa lagi?

Malamnya aku gelisah. Aku bingung, bagaimana cara mengatakan pada Indra bahwa kami putus. Sungguh aku tidak berpengalaman dalam hal ini.

Pada jam istirahat, aku memilih bermain basket di lapangan. Sedari tadi, bola yang kulempar tidak masuk-masuk juga ke ring. Mungkin karena perkataan ayah yang masih terus terngiang di telingaku. Aku menghela nafas berat ketika bola yang kulempar tidak masuk lagi. Dengan kesal aku membanting bola itu sehingga terpantul tinggi.

?Tidak biasanya kau begini,? suara seseorang mengagetkaku.
Aku menoleh. Ternyata Indra. Dia sudah berdiri di belakangku sambil memegang bola basket yang tadi kupantulkan.
?Kelihatannya ada masalah,? ujarnya sambil melempar bola basket itu ke ring, dan masuk.
Aku duduk lemas di lapangan itu, ?Ya, masalah besar.?
?Memangnya, apa masalahmu?? tanyanya tanpa menoleh padaku dan terus bermain basket.
?Kelihatannya kita harus putus,? ujarku tanpa basa basi lagi.

Dia baru saja akan melempar bola, namun terhenti karena ucapanku tadi. Dia menoleh dan menatapku heran.
?Nilai-nilaiku menurun dan ayah pikir itu karena pacaran,? jelasku.
Bisa kulihat ia menghela nafas berat. ?Memangnya tidak ada jalan lain?? tanyanya.
?Memangnya kau mau aku membantah ayahku??
?Bukan begitu, maksudku bagaimana kalau kita sembunyi-sembunyi??
Aku berpikir sejenak, ?Baiklah?

Kami pun menjalani masa-masa pacaran secara sembunyi-sembunyi hampir tiga tahun. Selama itu, waktu kami bertemu hanya ketika di sekolah atau saat les. Awalnya ini terasa berat dan melelahkan, tetapi akhirnya aku nikmati juga. Ya? sebagai bagian dari warna-warni masa remaja yang penuh dengan hal-hal aneh dan menggelikan.

Setelah tamat SMA, ayahku pindah tugas ke kota lain. Mau tidak mau aku aku pun harus pindah. Jadilah kami berpacaran jarak jauh. Kami berhubungan hanya melalui surat menyurat. Aku masih ingat, di setiap suratnya ia selalu menyelipkan selembar fotonya. Katanya, biar aku selalu ingat dia. Sore ini, aku mendapatkan surat darinya lagi. Dalam surat itu, ia menceritakan tentang keadaannya di sana, tentang teman-teman, dan tentang rasa rindunya padaku. Aku hampir tertawa membaca bagian itu. Namun, tak dapat aku ingkari kalau akupun sangat merindukannya. Cukup lama juga kami berpisah, mungkin sekitar empat atau lima bulan. Dan selama itu belum sekalipun aku pulang untuk menemuinya. Hmm, resiko sih! Tapi setelah kupikir-pikir untuk ukuran cinta monyet, lima tahun itu bukan waktu yang singkat. Hebat juga ya kami, bisa bertahan begitu lama. Padahal teman-teman kami yang lain sudah gonta-ganti pacar belasan kali bahkan ada yang puluhan kali. Seminggu kemudian, aku menerima surat darinya lagi. Isinya cukup mengejutkan. Dia mengatakan kalau ia akan pindah ke kota tempatku berada, kebetulan kakaknya juga tinggal di sini. Jujur, aku sangat senang. Entah bagaimana aku mengungkapkan rasa bahagiaku itu!

Akhirnya hubungan kami pun kembali seperti dulu lagi. Ayah juga sudah tidak melarangku pacaran lagi. Karena menurutnya aku sudah dewasa dan mengerti mana yang baik atau buruk. Hari-hari terasa begitu sempurna bersamanya. Ke mana-mana selalu berdua. Hampir seluruh pelosok kota telah kami jelajahi berdua. Kenangan-kenangan ini begitu indah untuk dilupakan, walau kelihatannya sepele tetapi nyatanya dapat membuat hatiku berbunga-bunga sepanjang hari.

Hampir seminggu ini aku tidak bertemu dengannya. Ya, ini adalah dampak dari kesibukanku sebagai mahasiswi baru di sebuah universitas ternama di kota ini. Saat ini, aku sedang menunggunya menjemputku. Kami janjian untuk nonton bersama. Tapi hampir sejam kutunggu, dia belum juga datang. Tiba-tiba telepon berdering, karena di rumah tidak ada siapa-siapa, akupun mengangkatnya.

?Halo?? sahutku.
?Bisa bicara dengan Ayu?? kudengar suara dari seberang.
?Ya, saya sendiri. Ini siapa ya??
?Oh, saya Dani, kakak Indra. Saya mau mengabarkan kalau Indra sekarang di rumah sakit.?
Aku terkejut!
?Dia kenapa?? tanyaku panik.
?Lebih baik kamu ke sini untuk melihat sendiri keadaannya.?
Aku terduduk lemas, tak bisa bicara apa-apa. Lama aku terdiam untuk menenangkan diri. Setelah merasa cukup tenang, aku bergegas menuju rumah sakit.

Setiba di sana, aku hanya mendapati dirinya dalam keadaan tidak sadarkan diri akibat overdosis narkoba!
Bayangkan saja betapa sakitnya hatiku saat itu. Hampir seminggu tak bertemu, tahu-tahu dia sudah berada di rumah sakit dalam keadaan seperti ini. Aku sangat marah, kecewa, namun juga sedih. Mengapa aku sampai tak tahu kalau selama ini dia adalah pengguna narkoba? Sungguh ini menyakitkan. Lebih baik dia menyakitiku dengan kata-kata lalu pergi meninggalkanku daripada aku harus menerima kenyataan pahit ini. Sakiiit sekali?. Seperti ribuan belati yang ditancapkan ke jantungmu.

Dari kakaknya, aku ketahui penyebab dia menggunakan narkoba. Dia sangat terpukul dan frustasi akibat perceraian orang tua mereka. Di tengah kekalutannya, rayuan benda haram itu datang. Saat itu ia tak kuasa menahan godaan untuk menggunakan narkoba. Awalnya hanya coba-coba, hanya untuk menghilangkan stres. Namun semakin lama, ia semakin ketagihan dan akhirnya kecanduan menggunakan benda terkutuk itu. Pantas saja aku pernah melihat bekas suntikan di siku kirinya. Mengapa aku tak menyadari ini sebelumnya? Seharusnya aku tahu hal ini. Dia kan dekat denganku.

Berhari-hari ia tak sadarkan diri, dan yang parahnya lagi dokter memvonis ia terkena HIV AIDS! Hatiku bertambah hancur? entah bagaimana lagi. Aku sudah kehabisan kata-kata untuk menggambarkan betapa terlukanya aku menghadapi kenyataan ini. Hampir sebulan aku mengunjunginya di rumah sakit. Ia tak kunjung juga sadar. Tubuhnya sudah semakin pucat dan kurus digerogoti penyakit yang disebabkan oleh tindakan bodohnya itu. Begitu miris rasanya melihatnya dalam keadaan seperti ini. Hari-hari kulalui dengan menunggu dan menunggunya sadar dari tidur panjangnya. Tidak sedikit pula air mata yang tertumpah karenanya. Tidak henti-hentinya aku meminta pada Tuhan agar Indra kembali sadar.

Dan suatu senja, sepertinya Tuhan mengabulkan doaku. Indra sadar! Perasaanku campur aduk antara marah dan senang. Ia tersenyum lemah kepadaku. Namun aku tak membalasnya. Aku malah memalingkan wajahku darinya.
?Maafkan aku, Yu.? ujarnya lemah nyaris seperti bisikan.

Aku tetap diam, tanpa menoleh sedikit pun.
?Aku memang salah, Tuhan sudah menghukumku dengan penyakit ini. Tolong jangan hukum aku lagi dengan sikapmu yang dingin padaku,? ujarnya.

Tanpa kusadari air mataku mengalir di kedua belah pipiku. Aku berusaha menyekanya dengan punggung tanganku. Namun, semakin kutahan justru semakin deras. Aku masih mempertahankan posisiku yang tidak menoleh padanya, walau sebenarnya hatiku juga terasa sakit melakukannya.
?Yu, maafkan aku, tak bisa menjadi matahari yang sempurna untukmu. Mungkin kau terlalu sempurna untuk kumiliki di kehidupan ini,? ia menghela nafas, ?Kurasa aku sangat lelah, aku ingin beristirahat? mungkin selamanya?.?

Aku memandang wajahnya, perlahan matanya menutup. Segaris senyum damai terpatri di wajahnya yang tampan tetapi pucat. Sejak saat itu, aku tak pernah lagi melihatnya membuka mata. Selamanya?.
**

Bertahun-tahun telah berlalu, namun kenangan itu masih terekam jelas di memoriku. Setiap aku mengingat wajahnya, hatiku terasa sakit. Masih kuingat dengan jelas senyumnya, perhatiannya, kasih sayangnya, sikapnya yang dingin namun penuh dengan kelembutan. Dia adalah matahari yang sinarnya tak pernah habis di telan zaman dan akan selalu menemaniku lewat senandung yang dikirimkannya pada bulan. Sayang, keputusannya menjadi pengguna telah merusak impian kami. Yang tersisa kini hanyalah kepedihan yang tak akan pernah terobati.

Sekarang aku bekerja pada sebuah LSM antinarkoba. Membaktikan hidupku untuk menolong para pengguna narkoba agar terlepas dari jeratan barang terkutuk itu.
Aku ingin seperti matahari yang setia menerangi bumi?.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *